Koranindopos.com, JAKARTA – Kebiasaan hidup sehat berkontribusi besar terhadap tingkat kecerdasan otak. Bukan sekadar skor IQ yang tinggi semata. Hal tersebut disampaikan ahli saraf (neuroscientist) Associate Professor Dr. Rizky Edmi Edison, PhD.
Menurut Dr. Rizky, musuh utama masyarakat modern saat ini adalah gaya hidup digital yang tidak terkendali dan kurang aktivitas fisik. Kebiasaan merasa rileks saat scroll media sosial sambil berbaring misalnya. ”Hal tersebut justru menguras energi otak secara drastis. Otak manusia membutuhkan waktu sekitar 5–6 detik untuk memproses satu informasi,” ungkap Dr. Rizky di Channel YouTube Rory Asyari, dilansir dari radartuban.
”Saat kita terus berpindah konten secara cepat (unmindful scrolling), otak dipaksa bekerja ekstra keras memproses stimulasi yang masuk. Inilah yang menyebabkan kita sering merasa lelah mental atau brain fog meski fisik tidak banyak bergerak,” katanya.
Selain bijak menggunakan gadget, bergerak adalah kunci menjaga fungsi kognitif. Dr. Edmi meluruskan mitos populer mengenai target 10.000 langkah sehari. Menurutnya, berjalan kaki sekitar 3.000 langkah atau selama 20 menit saja sudah cukup untuk memompa oksigen ke otak melalui aliran darah.
Gerakan fisik sederhana seperti naik tangga atau berjalan kaki terbukti mampu mengaktifkan kembali otot betis yang bertindak sebagai “jantung kedua” untuk mendorong darah kembali ke otak, terutama bagi mereka yang sering duduk lama di depan laptop.
Hal menarik yang ditekankan oleh Dr. Edmi adalah pentingnya “merenung” atau bengong. Di era budaya sibuk yang menuntut semua orang terlihat produktif, merenung justru menjadi kemewahan (luxury) yang sangat bermanfaat. ”Justru di saat merenung itulah otak masuk ke Default Mode Network. Di fase ini, otak melakukan penyaringan informasi dan memunculkan ide-ide kreatif serta inovasi baru,” ujarnya. (rdt/mmr)










