Koranindopos.com, Jakarta – Jeff Smith tetap menjalani syuting film horor Lingsir Wengi: Motel Malioboro meski mengalami cedera serius pada kedua lututnya. Saat proses pengambilan gambar berlangsung, ligamen ACL di lutut kirinya sudah putus, sedangkan ACL lutut kanannya robek.
Cedera tersebut membuat Jeff kesulitan bergerak. Namun, ia memilih menyelesaikan pekerjaannya sebelum menjalani operasi. Bahkan, ia mengaku tidak mengonsumsi obat pereda nyeri selama syuting dan hanya menggunakan kompres es untuk mengurangi rasa sakit.
“Pilihannya mau kerja sambil sakit atau tiduran di rumah sambil sakit? Sama-sama sambil sakit, tapi beda benefit,” kata Jeff Smith saat ditemui di Jakarta.
Cedera itu bermula ketika Jeff masih duduk di bangku SMA, tepatnya saat berusia 16 tahun. Kala itu, ia mengalami robekan ACL dan retak pada bagian atas tulang kering. Namun, ia tidak menjalani operasi dan masih memaksakan diri bermain sepak bola.
Kondisi tersebut semakin parah setelah beberapa tahun. Pada 2021, ACL lutut kirinya putus. Tiga tahun kemudian, ACL lutut kanannya juga mengalami robekan.
Jeff mengakui cedera tersebut membatasi aktivitasnya. Ia bahkan sudah tidak sanggup bermain sepak bola seperti sebelumnya. Meski begitu, ia belum sempat menjalani operasi karena terkendala waktu.
“Kalau buat gua pribadi sih kayak lebih ke nggak ada pilihan, Bang. Mau nggak mau gua harus operasi. Kalau gua nggak operasi, gua nggak akan bisa mencapai titik maksimal gua gitu, karena ada keterhambatan gitu,” ujarnya.
Kondisi lututnya juga berdampak pada proses syuting Lingsir Wengi: Motel Malioboro. Jeff tidak bisa melakukan banyak gerakan karena khawatir cederanya semakin parah. Tim produksi pun menyesuaikan cerita agar karakternya, Ian, digambarkan berjalan pincang.
“Ceritanya yang diubah. Tadinya karakter aku normal, jadi pincang,” tutur Jeff.
Menurut Jeff, perubahan tersebut diperlukan karena kondisi kakinya memang cukup parah. Gerakan kecil saja bisa membuatnya kesulitan berjalan. Ia pun memilih membatasi aktivitas fisik agar proses syuting tetap berjalan.
Di luar persoalan cedera, Jeff mengaku tantangan terbesarnya dalam film ini justru terletak pada pendalaman karakter. Ia menilai Ian memiliki ambisi besar, berbeda dengan dirinya yang merasa kurang percaya diri.
“Mmm emosional sih kayaknya deh kalau menurut gue, karena eee kayaknya gua cukup bertimbal balik sama karakter Ian di Lingsir Wengi ini. Ee karakter Ian itu kayaknya ambisiusnya bisa dibilang cukup besar gitu ya. Sementara dari gua sendiri pribadi, Jeff, malah kayaknya kecil banget ambisinya, karena gua orangnya nggak pede-an,” katanya.
Jeff juga mengungkapkan bahwa dirinya bukan penggemar film horor. Ia mengaku lebih menyukai musik dibandingkan bentuk seni lainnya, meski tidak bisa memainkan alat musik.
Karena itu, tawaran film horor bukan sesuatu yang selalu ia utamakan. Ia cenderung mempertimbangkan proyek yang datang sebelum memutuskan untuk menerimanya.
“Bahkan kayaknya kalau film yang lain pun nggak harus genre horor pun kayaknya juga picky sih, Mas. Heeh sih, emang aslinya gitu,” ujarnya.
Meski kurang tertarik dengan film horor, Jeff tetap memiliki pandangan tersendiri tentang hal-hal gaib. Ia mengaku percaya bahwa makhluk gaib ada, tetapi memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Pengalaman selama syuting Lingsir Wengi: Motel Malioboro sempat membuatnya mengubah sikap tersebut. Jeff menceritakan, pernah ada anggota tim produksi yang mengalami kesurupan ketika mereka sedang bekerja menjelang tengah malam.
Kejadian itu membuat proses syuting dihentikan sementara selama dua hingga empat jam hingga suasana kembali kondusif.
Jeff mengaku mulai memikirkan kejadian tersebut ketika orang yang mengalami kesurupan mengatakan bahwa tim produksi telah mengganggu penghuni di lokasi syuting.
“Nah, gua gua mulai nggak cuek ketika dia ngomong begitu, maksud gua di sini kita sama-sama hidup, sama-sama punya nyawa, lu punya dunia lu, gua punya dunia gua. Udah aja saling hormatin, udah selesai,” ucapnya.
Meski demikian, Jeff mengaku tidak merasa takut saat berada di lokasi syuting. Baginya, adegan menakutkan dalam film lebih banyak mengandalkan ekspresi dan suasana dibandingkan dialog panjang.
“Ya mau nggak mau, ya sih. Karena kalau mau dibilang acting, acting ada yang bilang acting itu jujur, ada yang bilang acting itu bisa juga bohong-bohong. Jadi ya kalau misalnya tadi Abang pertanyaannya gitu ya, gua jawabnya bukan acting, gua jawabnya gua bohong, pura-pura takut,” katanya sambil tertawa.
Jeff menerima tawaran film ini salah satunya karena bisa kembali bekerja bersama orang-orang yang sudah dikenalnya, termasuk sutradara Ade dan sejumlah pemain lain. Kedekatan tersebut membuatnya lebih mudah membangun chemistry selama proses syuting. (BRG/Kul)
Instant win games deliver a result immediately with no spinning reels or dealt cards. Scratch cards, crash games and quick draw titles all share that structure, appealing to players who want short sessions rather than extended play at a single game.
Games That Resolve Immediately
Return percentages on instant titles often sit below those of mainstream slots, though the format makes stakes and outcomes unusually transparent. Players comparing what is available across operators can Slotlair casino and review return figures by category. Crash games in particular reward a predetermined exit point, since the decision to cash out belongs entirely to the player.
| Game Type | Session Length |
|---|---|
| Scratch card | Seconds |
| Crash | Under a minute |
| Quick draw | 1 to 2 minutes |
- Check published return percentages before playing
- Decide a cash out point in advance on crash titles
Because each round takes seconds, the number of rounds in a session climbs faster than most players notice. Counting rounds is therefore more useful than watching a balance. Keep the session short, which is what the format is actually designed for.










