Koranindopos.com, Jakarta – Kasus gagal ginjal akut misterius pada anak yang ditemukan di Jakarta bertambah. Dinas Kesehatan DKI mencatat, ada 49 anak yang menderita gagal ginjal akut hingga Selasa (18/10/2022). Jumlah tersebut bertambah tujuh kasus sejak 13 Oktober. Sebelumnya, dari 1 Januari 2022 hingga 13 Oktober 2022, Dinkes DKI mencatat, ada 42 anak yang menderita gagal ginjal akut.
Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Ngabila Salama menuturkan, gejala umum penyakit gagal ginjal akut misterius adalah demam, diare, dan pilek. ’’Mayoritas sakitnya itu sehingga orang tua wajar tidak khawatir. Simpelnya gini, jika ada anak yang (mengalami) gejala mual, muntah, diare disertai demam atau batuk-pilek, segera bawa ke dokter, akan diobati. Jika gak ada perbaikan, akan ada pemeriksaan darah,’’ terangnya kepada awak media.
Menurut Ngabila, pemeriksaan awal darah di puskesmas di Jakarta sudah sangat lengkap. Mulai pemeriksaan Covid-19, demam berdarah, tifus, hingga gagal ginjal akut. ’’Semua pemeriksaan itu gratis di puskesmas. Intinya, orang tua jangan ragu untuk periksakan anak ketika sudah diobati sekitar 2–3 hari, tapi tidak ada perbaikan,’’ imbuhnya.
Ngabila menyebutkan, penanganan penyakit gagal ginjal akut harus dilakukan dengan cepat. Hal itu disampaikannya karena saat kesadaran anak mulai menurun, penanganannya akan sulit. ’’Itu sudah terlambat,’’ tuturnya.
Dari data Dinas Kesehatan DKI, tambah Ngabila, 49 kasus yang ditemukan di fasilitas kesehatan di Jakarta itu terdiri atas 36 anak balita dan 13 anak nonbalita. Untuk pembagian berdasar jenis kelamin, ada 33 laki-laki dan 16 perempuan.
’’Untuk status akhir 49 anak, 25 anak meninggal, 12 anak dalam perawatan, dan 12 anak sembuh. Tidak ada penambahan kematian pada balita maupun anak nonbalita. Baik kematian diagnosis secara umum maupun gagal ginjal akut. Jadi, sebenarnya, secara holistis, kondisi ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi, memang ini suatu hal yang perlu diinvestigasi lebih lanjut demi kesehatan masyarakat,’’ terang Ngabila.
Untuk penyebarannya, jelas dia, kasus paling banyak ditemukan pada September 2022 dengan 19 kasus. Perinciannya, Januari 2 kasus, Februari (0), Maret (1), April (3), Mei (0), Juni (2), Juli (1), Agustus (10), September (19), dan Oktober (11).
Ngabila juga menyampaikan, meski ditemukan di fasilitas kesehatan di Jakarta, di antara 49 kasus tersebut, hanya 22 anak yang berdomisili di Jakarta. Perinciannya, Jakarta 22 kasus, Banten 8 kasus, Jawa Barat 14 kasus, dan luar Jabodetabek 5 kasus. (wyu/mmr)










