koranindopos.com – Jakarta. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong produsen mobil untuk mengembangkan varian Low Cost Green Car (LCGC) dengan teknologi hybrid di Indonesia. Langkah ini diambil untuk meningkatkan pasar kendaraan ramah lingkungan sekaligus mengurangi emisi karbon yang menjadi tantangan besar di sektor transportasi.
Menurut Dodiet Prasetyo, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, penjualan LCGC di Indonesia telah mencatatkan angka yang cukup baik. Untuk itu, Kemenperin berharap angka penjualan tersebut dapat terus berkembang dengan menghadirkan varian hybrid pada kendaraan sejenis.
LCGC telah menjadi pilihan utama banyak konsumen di Indonesia berkat harga yang terjangkau dan konsumsi bahan bakar yang efisien. Namun, dengan meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim dan pengurangan emisi, kendaraan hybrid yang lebih ramah lingkungan menjadi pilihan yang semakin diminati.
Teknologi hybrid memungkinkan mobil menggabungkan mesin pembakaran internal dengan motor listrik, sehingga lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang. Dengan menyematkan teknologi hybrid pada kendaraan LCGC, diharapkan dapat tercipta kendaraan yang tidak hanya ramah di kantong tetapi juga ramah lingkungan.
Langkah Kemenperin ini juga sejalan dengan tren global yang semakin mengarah pada kendaraan beremisi rendah dan lebih efisien. Banyak negara sudah menetapkan target untuk mengurangi emisi karbon dan memperkenalkan kebijakan yang mendukung kendaraan listrik dan hybrid. Indonesia sendiri, melalui Peta Jalan Industri Kendaraan Listrik, juga tengah berupaya mewujudkan transisi energi di sektor transportasi.
LCGC dengan teknologi hybrid diharapkan bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan aksesibilitas kendaraan ramah lingkungan di Indonesia, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah. Dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan mobil full electric, LCGC hybrid menjadi jembatan bagi masyarakat yang ingin memiliki kendaraan lebih efisien dan ramah lingkungan tanpa harus merogoh kocek yang terlalu dalam.
Dodiet Prasetyo dalam forum diskusi yang digelar di Gondangdia, Jakarta Pusat, Kamis (21/11), menyampaikan bahwa pemerintah sangat mendukung para produsen otomotif untuk menyematkan teknologi hybrid pada kendaraan Low Cost Green Car. Menurutnya, dengan populasi kendaraan yang terus meningkat, peran teknologi hybrid menjadi sangat penting untuk mengurangi beban lingkungan dari sektor transportasi.
“Tentunya kami mendorong para pabrikan untuk bisa menyematkan teknologi hybrid di LCGC,” ujar Dodiet Prasetyo. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri otomotif Indonesia di pasar global sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam pengurangan emisi karbon di dalam negeri.
Kehadiran kendaraan LCGC hybrid juga diyakini dapat merangsang pasar otomotif di Indonesia, yang sebagian besar didominasi oleh kendaraan dengan konsumsi bahan bakar tinggi. Penambahan varian hybrid pada segmen ini akan memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen yang ingin memiliki kendaraan hemat bahan bakar tanpa harus memilih mobil listrik sepenuhnya.
Selain itu, kendaraan LCGC hybrid juga diyakini akan sangat cocok untuk digunakan di perkotaan yang padat dan memiliki jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, serta memiliki konsumsi bahan bakar yang efisien.
Kemenperin melalui Dodiet Prasetyo juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung inovasi di sektor otomotif, termasuk dalam pengembangan teknologi kendaraan ramah lingkungan. Ia berharap, dengan adanya regulasi yang tepat dan insentif untuk kendaraan hybrid, industri otomotif Indonesia dapat lebih maju dan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon global.
Selain itu, Kemenperin juga menekankan pentingnya keterlibatan produsen mobil dalam proses pengembangan kendaraan ramah lingkungan. Diharapkan, dengan berbagai dukungan yang ada, produsen otomotif di Indonesia dapat menghadirkan lebih banyak pilihan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan ramah lingkungan.(dhil)










