koranindopos.com, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pergerakan pasar saham domestik masih berpotensi mengalami volatilitas dalam waktu dekat. Kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor global, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, hingga arus dana asing yang masih bergerak fluktuatif.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Harga minyak Brent bahkan telah menembus level di atas USD100 per barel setelah mengalami lonjakan tajam pada pekan pertama bulan ini. Kenaikan tersebut mencapai sekitar 35% dalam sepekan, seiring kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global, termasuk kemungkinan terganggunya jalur tanker di Selat Hormuz.
Menurut Rully, harga minyak yang saat ini berada di level tinggi mencerminkan besarnya premi risiko geopolitik di pasar. Jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama, harga minyak berpotensi bertahan di atas USD100 per barel dalam periode yang lebih panjang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Lonjakan harga minyak yang terjadi dalam waktu singkat juga dinilai berpotensi menahan proses penurunan suku bunga global serta memberi tekanan pada pasar saham, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Pada perdagangan terbaru, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 7.585,69 atau turun 1,62%. Sementara itu, indeks MSCI Indonesia (EIDO) melemah 2,70%.
Tekanan pasar juga dipengaruhi oleh arus keluar dana asing yang masih berlangsung, dengan nilai net foreign sell sekitar Rp263 miliar. Meski demikian, beberapa saham berbasis komoditas masih mencatat minat beli dari investor asing, di antaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Farras Farhan, menilai sektor batu bara masih menunjukkan ketahanan relatif di tengah siklus penurunan harga komoditas.
Dalam riset terbarunya terhadap PT Indo Tambangraya Megah Tbk, perusahaan tersebut mencatat kinerja yang cukup solid pada kuartal IV 2025 dengan pendapatan mencapai USD512 juta. Kinerja ini didukung oleh peningkatan volume penjualan menjadi 6,8 juta ton serta kenaikan harga jual rata-rata menjadi USD75 per ton.
Menurut Farras, disiplin biaya dan efisiensi operasional menjadi faktor penting yang membantu perusahaan mempertahankan profitabilitas meskipun harga batu bara tengah berada dalam fase penurunan.
Di sisi lain, sektor komoditas dinilai masih berpotensi menjadi salah satu penopang pasar saham domestik ketika volatilitas global meningkat. Hal ini karena sektor tersebut umumnya memiliki arus kas yang relatif kuat dan tetap didukung oleh permintaan global.
Menjelang periode Idul Fitri, Mirae Asset juga melihat peluang peningkatan aktivitas ekonomi domestik yang biasanya didorong oleh konsumsi masyarakat. Momentum ini dapat memberikan sentimen positif bagi sektor yang berkaitan dengan konsumsi, seperti ritel, makanan dan minuman, serta transportasi.
Beberapa saham konsumer seperti PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dinilai dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi investor, seiring potensi peningkatan permintaan menjelang Lebaran.
Selain itu, pasar saham juga berpotensi memperoleh dukungan jangka pendek dari aktivitas penyesuaian portofolio investor menjelang periode libur panjang Lebaran. Namun demikian, arah pergerakan pasar tetap akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global serta dinamika arus dana asing.
Melalui kegiatan Media Day bertema Strategic Allocations to Manage Q1 Market Volatility, Mirae Asset menekankan pentingnya strategi alokasi aset yang disiplin untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah dinamika pasar dan ketidakpastian global. Investor pun diharapkan dapat lebih selektif dalam memilih sektor investasi agar tetap mampu memanfaatkan peluang yang muncul di pasar. (rls/sh)










