koranindopos.com – Jakarta. Sektor pariwisata alam bebas di Nepal tengah menghadapi tekanan serius akibat dampak konflik yang terjadi di Timur Tengah. Salah satu indikator paling terlihat adalah penurunan jumlah pendaki gunung, khususnya ke Gunung Everest.
Musim semi yang biasanya menjadi periode tersibuk bagi industri pendakian Everest kini justru berjalan lebih sepi dari biasanya. Para operator tur dan pengusaha ekspedisi yang mengandalkan musim ini sebagai puncak pendapatan harus menghadapi kenyataan penurunan jumlah wisatawan.
Berdasarkan laporan South China Morning Post pada Kamis (16/4/2026), jumlah pendaki yang mayoritas berasal dari Amerika Serikat dan Eropa mengalami penurunan signifikan. Tercatat, jumlah pendaki dari Amerika turun hampir 25 persen, sementara dari Eropa menurun sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada minat perjalanan jarak jauh serta kekhawatiran keamanan. Selain itu, kondisi ekonomi global dan kenaikan biaya perjalanan juga turut memperparah situasi.
Bagi Nepal, pariwisata—khususnya wisata petualangan seperti pendakian gunung—merupakan salah satu tulang punggung ekonomi. Berkurangnya jumlah pendaki tidak hanya berdampak pada perusahaan ekspedisi, tetapi juga pada pemandu lokal, porter, hingga pelaku usaha kecil di kawasan pegunungan.
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Nepal untuk menjaga stabilitas sektor pariwisatanya. Jika kondisi geopolitik global tidak segera membaik, bukan tidak mungkin penurunan jumlah wisatawan akan terus berlanjut hingga musim-musim berikutnya.(dhil)










