Koranindopos.com, TANGERANG – Peluang generasi Z atau gen Z untuk mendapat hunian laik semakin tertutup. Apalagi, pemerintah berencana memangkas ukuran bangunan rumah subsidi menjadi 18 meter di atas lahan 25 meter. Itu menjadi momok bagi generasi akan datang.
Pengamat arsitektur dari Universitas Mulawarman Ir. Pandu K. Utomo mengatakan, rencana kebijakan tersebut tidak memenuhi prinsip hunian laik. ”Rumah seharusnya dikembalikan pada fungsinya sebagai hunian yang memanusiakan manusia,” kata Pandu dilansir dari kaltimpost.id.
Kisaran harga rumah subsidi saat ini berada di angka Rp 170–180 juta. Angka yang tidak bisa dibilang terjangkau. Masyarakat pada akhirnya melirik opsi lain dengan mencari rumah komersial dengan kisaran harga sedikit lebih mahal atau tidak lebih dari Rp 200 juta.
Hunian sederhana komersial dengan kisaran harga tersebut masih bisa ditemui di kawasan Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Kabupaten Tangerang, Banten. Misalnya hunian berskala kota (town ship) Modernland Cilejit di Jambe, Kabupaten Tangerang. Lalu ada juga Kota Podomoro, Tenjo di Kabupaten Bogor. Keduanya dikembangkan oleh developer besar. Modernland Cilejit dibangun oleh pemain lama yakni, Modernland Realty Tbk, sedangkan Kota Podomoro oleh Agung Podomoro Land Tbk.
Namun, pengembang besar tidak selamanya menjamin progres pembangunan berjalan sesuai espektasi konsumen. Misalnya Modernland Cilejit. Banyak konsumen mengeluhkan komitmen pengembang. Mulai dari proses serah terima kunci bertahun-tahun, kondisi bangunan rusak, akses jalan antarklaster masih berbukit serta berkerikil, sampai layanan internet belum terpasang. Bahkan, mereka telah mengirim dokumen komplain berisi 12 keluhan kepada pihak estate, tetapi belum ada respons. ”Kami sudah menyampaikan aspirasi terkait fasilitas dasar belum dipenuhi ke pihak estate. Tetapi hasilnya nihil,” kata Dedi, warga Klaster Pasai Barat, Modernland Cilejit.
Estate Management Head Modernland Realty Tbk Sjaiful dikonfirmasi terkait keluhan tersebut mengatakan saat ini pihaknya berupaya menyediakan fasilitas internet lebih dulu. ”Alhamdulillah pertengahan Agustus sudah on di warga. Segera akan disampaikan di forum rapat pimpinan (terkait 12 hal komplain warga, red),” kata pria yang dipanggil Ipung tersebut melalui WhatsApp pada Rabu (23/6/2025).
Berbeda dengan Kota Podomoro Tenjo. Hunian yang juga mengusung konsep town ship itu terletak tidak jauh dari Modernland Cilejit. Start pembangunannya pun nyaris sama, yakni pada 2019. Tetapi, progres Kota Podomoro Tenjo lebih signifikan. Mereka hampir menyelesaikan semua pembangunan fasilitas dasar bagi penghuni. Dikutip dari tayangan channel You Tube Ferry Manru pada Jumat (27/6/2025), saat ini pengembang sedang fokus membangun klaster-klaster baru. Salah satunya Magnolia. Dalam tayangan tersebut, dia berkeliling ke setiap blok di klaster itu dengan sepeda. Progresnya saat ini cukup masif. ”Magnolia selatan 1. Dua bulan yang lalu masih rangka-rangka ini,” ujar Ferry.











