Koranindopos.com, Jakarta – Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi fondasi utama dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di tanah air. Sinergi ini mengemuka dalam gelaran The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang berlangsung di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (23/10/2026), di mana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan kesiapan Jakarta sebagai pusat penyelenggaraan acara internasional.
Forum internasional tersebut dimanfaatkan sebagai ruang diplomasi untuk memperjuangkan berbagai agenda penting bagi industri kreatif, khususnya di negara-negara berkembang. Isu yang diangkat mencakup akses pembiayaan, perlindungan hak cipta, hingga dampak perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
“Tetapi juga bagi komunitas kreatif dunia, terutama negara-negara berkembang. Isu tersebut mencakup perlindungan dan pembiayaan kekayaan intelektual, perluasan akses pasar, hingga tantangan pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI),” ujar Menteri Ekraf.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan dokumen Jakarta Vision on Creative Economy yang merangkum aspirasi para pemangku kepentingan global. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri berencana mengusulkan dokumen ini agar dapat diadopsi dalam resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) pada akhir tahun 2026.
“Melalui Jakarta Vision on Creative Economy, kami ingin membawa aspirasi para kreator ke tingkat global, termasuk mengenai keadilan pembagian manfaat di platform digital, perlindungan kekayaan intelektual, akses pembiayaan, dan perluasan pasar. Harapannya, ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu agenda strategis pembangunan dunia setelah berakhirnya periode Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030,” harap Menteri Ekraf.
Di tingkat lokal, sektor ekonomi kreatif memberikan sumbangsih nyata terhadap perekonomian ibu kota. Sektor ini mencatatkan kontribusi sebesar 11,16 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta, atau setara dengan nilai Rp410 triliun melalui maraknya penyelenggaraan pameran, konser musik, dan kegiatan olahraga.
Visi Jakarta Sebagai Pusat Kreativitas Internasional
Gubernur DKI Jakarta menekankan komitmen daerah dalam membangun ruang yang ramah bagi para pelaku industri kreatif, baik dari dalam maupun luar negeri. Langkah ini dimaksudkan agar manfaat ekonomi dari sektor ini dapat terdistribusi hingga ke lapisan usaha mikro.
“Jakarta ingin menjadi rumah bagi kreativitas sekaligus episentrum penyelenggaraan berbagai acara. Kami ingin para seniman internasional, investor, dan pegiat industri kreatif merasa diterima di Jakarta, sementara kreator lokal memiliki kesempatan untuk menjangkau pasar dunia dan pegiat usaha kecil mendapatkan peluang untuk tumbuh,” ungkap Pramono dalam sesi Jakarta, Home for the Creative.
Potensi ekonomi tersebut tecermin dari realisasi dua agenda besar di Jakarta. Gelaran Jakarta Fair Kemayoran berhasil menggaet 6,1 juta pengunjung dengan capaian nilai transaksi Rp8,2 triliun, sementara ajang Jakarta Great Sale membukukan transaksi hingga Rp26,8 triliun.
Untuk memperkuat iklim produksi karya lokal, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut menerbitkan regulasi pendukung di bidang perfilman. Pemprov memberikan potongan pajak sebesar 50 persen bagi kegiatan produksi film nasional guna menstimulasi pertumbuhan industri bioskop dan manufaktur konten visual.
Integrasi antara kementerian dan pemerintah daerah terus diarahkan untuk menjadikan Jakarta sebagai hub kegiatan kreatif yang memberi dampak menyeluruh. Dukungan ini mencakup dampak positif bagi sektor perhotelan, peruji kuliner, hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi acara.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong Jakarta menjadi hub baru bagi ekonomi kreatif untuk semua elemen, bidang, dan ruang. Kami ingin manfaat dari berbagai kegiatan kreatif tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara, tetapi juga masyarakat, hotel, restoran, UMKM, dan komunitas kreatif yang terlibat,” tambah Pramono.
Penguatan ekosistem kreatif juga diwujudkan melalui penataan kawasan kota yang terintegrasi dengan moda transportasi umum. Salah satu contohnya terlihat pada kawasan Blok M yang kini berkembang menjadi pusat interaksi komunitas, seni musik, dan kuliner lokal yang mudah diakses publik.
Ajang WCCE 2026 sukses menghimpun 6.100 peserta dari 80 negara lebih, 38 kepala delegasi, serta sekitar 180 pembicara yang mewakili 21 subsektor ekonomi kreatif. Melalui sinergisitas ini, Kementerian Ekraf dan Pemprov DKI Jakarta berkomitmen memperluas ruang pembiayaan serta infrastruktur pendukung demi meningkatkan daya saing ekonomi kreatif nasional. (RIS/Hend)










