koranindopos.com, JAKARTA – Upaya menekan jumlah perokok anak dan remaja di Indonesia memerlukan langkah nyata yang terukur serta melibatkan seluruh elemen masyarakat. Penguatan pola hidup sehat sejak lingkungan keluarga dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah semakin tingginya angka perokok usia dini.
Wakil Ketua MPR RI, , mengatakan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gaya hidup sehat harus terus ditingkatkan agar kesadaran membangun generasi yang kuat dan tangguh dapat tumbuh sejak dini.
“Pemahaman masyarakat terkait pentingnya pola hidup sehat harus terus ditingkatkan mulai dari lingkungan keluarga, sehingga kesadaran untuk mewujudkan generasi yang kuat dan tangguh terus tumbuh,” ujar Lestari dalam keterangan tertulis, Jumat (3/7).
Lestari menyoroti data yang mencatat sepanjang 2025 sebanyak 2,03 juta anak dan remaja di Indonesia menghabiskan sekitar Rp4,5 triliun setiap tahun untuk membeli 4,17 miliar batang rokok.
Menurutnya, data tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan peringatan serius terhadap ancaman yang dapat menghambat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi perokok usia 10 hingga 18 tahun masih mencapai 7,4 persen. Angka tersebut masih berada di atas target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024–2029, yakni sebesar 5,4 persen.
“Catatan ini harus segera ditindaklanjuti bersama semua pihak dengan langkah nyata, agar target yang telah ditetapkan benar-benar bisa direalisasikan,” tegas legislator yang akrab disapa Rerie tersebut.
Anggota Komisi X DPR RI itu mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah untuk menekan penjualan rokok kepada anak dan remaja. Namun, menurutnya, keberhasilan pengendalian konsumsi rokok tidak cukup hanya mengandalkan regulasi dan pengawasan.
Rerie menilai edukasi mengenai bahaya tembakau dan nikotin harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, hingga keluarga.
Ia menegaskan bahwa keluarga memiliki peran paling strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini. Orang tua diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus memberikan pemahaman kepada anak mengenai risiko merokok terhadap kesehatan.
“Kebiasaan baik harus dimulai dari lingkungan keluarga. Para orang tua harus mampu mengedukasi anak sejak dini agar penerapan pola hidup sehat menjadi keseharian keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Rerie, menyelamatkan anak-anak dari bahaya rokok merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Generasi muda yang sehat diyakini akan menjadi modal penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang produktif, berkualitas, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat global.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak tanpa paparan rokok, sehingga target penurunan prevalensi perokok anak dapat tercapai secara berkelanjutan. (rls)










