Koranindopos.cim, Jakarta – Industri film horor Indonesia kembali bersiap menghadapi persaingan ketat pada 2026. Salah satu judul yang mulai mencuri perhatian adalah Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, sekuel dari film Kuasa Gelap (2024) yang sebelumnya mencatat capaian penonton signifikan di dalam negeri sekaligus menembus pasar internasional.
Alih-alih sekadar melanjutkan cerita, tim produksi memilih menjadikan film kedua ini sebagai proyek dengan pendekatan berbeda. Fokus utama tidak lagi hanya pada keberlanjutan narasi, tetapi juga pada perluasan skala produksi dan eksplorasi visual yang lebih berani. Perubahan ini terlihat dari pemilihan lokasi hingga pendekatan teknis di lapangan.
Salah satu keputusan yang cukup mencolok adalah penggunaan kawasan pesisir sebagai latar utama. Lokasi ini sebelumnya tidak pernah dikaitkan dengan dunia Kuasa Gelap. Dengan latar tersebut, film diharapkan menghadirkan suasana baru sekaligus memperluas ruang cerita yang sudah dikenal penonton sejak film pertama.
Tak hanya dari sisi lokasi, pengerjaan adegan juga mengalami peningkatan signifikan. Dalam salah satu adegan penting yang mengambil setting gereja, produksi melibatkan lebih dari 200 figuran. Jumlah ini menunjukkan adanya upaya menghadirkan skala visual yang lebih besar dibanding film sebelumnya.
Di balik layar, sutradara Rizal Mantovani disebut tidak hanya mengarahkan dari balik monitor. Dalam beberapa momen, ia turun langsung memegang kamera dan terlibat aktif bersama kru di lapangan. Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga intensitas adegan sekaligus memastikan visi visual dapat tercapai secara maksimal.
Produser Robert Ronny menegaskan bahwa proyek ini sejak awal memang dirancang berbeda. “Dengan sukses nya Kuasa Gelap yang pertama, kami ingin menghadirkan film Kuasa Gelap dengan skala yang jauh lebih besar, bukan hanya dari sisi cerita dan treatment yang lebih kompleks, tapi juga dari sisi bagaimana film ini menjadi lebih cinematic. Ini bukan sekadar sekuel. Ini adalah perwujudan visi film kuasa gelap yang memang kami inginkan sejak awal,” ujarnya.
Sementara itu, Rizal Mantovani juga menyoroti pentingnya kerja kolektif dalam proses produksi. “Menghasilkan momen yang magis dan grande tidak bisa dilakukan sendiri. Ini adalah hasil kolaborasi seluruh divisi sutradara, sinematografer, kru, aktor, hingga ratusan extras yang hadir dengan penuh dedikasi. Saya bangga dengan apa yang telah kami hasilkan bersama,” ungkapnya.
Dari sisi pemain, film ini tetap menghadirkan kombinasi aktor muda dan senior. Nama-nama seperti Jerome Kurnia, Lukman Sardi, Lydia Kandou, hingga Feby Febiola turut terlibat dalam proyek ini. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjaga kualitas akting sekaligus menarik beragam segmen penonton.
Dari sisi teknis, sinematografi kembali dipercayakan kepada Yadi Sugandi. Sementara produksi digarap oleh Robert Ronny bersama Prima Taufik, dengan dukungan produser eksekutif Andi Boediman.
Dengan seluruh proses syuting yang telah selesai, film ini kini memasuki tahap pascaproduksi. Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2026, bersaing dengan sejumlah film horor lain yang juga tengah disiapkan untuk periode yang sama.
Keputusan memperbesar skala produksi menjadi sinyal bahwa film ini tidak hanya menargetkan pasar domestik, tetapi juga membuka peluang lebih luas di pasar global, melanjutkan jejak film pertamanya. (BRG/Kul)










