Koranindopos.com – Jakarta – Upaya menurunkan berat badan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Sebagian orang merasa sudah memilih makanan rendah kalori maupun produk yang dikenal sehat, tetapi angka timbangan tetap sulit turun.
Kondisi tersebut ternyata tidak selalu berkaitan dengan jenis makanan yang dikonsumsi. Menurut spesialis gizi klinik dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, baik makanan berlabel low calorie maupun makanan yang dianggap sehat sama-sama dapat menjadi masalah apabila dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlah dan kandungan gizinya.
“Dua-duanya berbahaya sebenarnya, dua-duanya punya kelicikan masing-masing,” ujar dr. Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (13/8/2026).
Label rendah kalori sering membuat seseorang merasa lebih aman untuk mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak. Padahal, kandungan kalori tetap perlu diperhitungkan berdasarkan total porsi yang dikonsumsi.
Dr. Yaze menjelaskan, makanan rendah kalori sekalipun tetap dapat berkontribusi terhadap kelebihan asupan energi apabila dikonsumsi secara berlebihan.
“Kalau misalnya makanan yang low calorie tapi kalau dimakan terlalu banyak, ya pasti akan meningkat juga kalorinya,” jelasnya.
Artinya, status rendah kalori pada sebuah produk bukan berarti makanan tersebut dapat dikonsumsi tanpa batas. Jumlah porsi dan total asupan dalam sehari tetap menjadi faktor penting dalam proses pengendalian berat badan.
Hal serupa berlaku pada makanan yang mendapatkan label atau citra sebagai makanan sehat. Menurut dr. Yaze, konsumen sering kali hanya memperhatikan klaim yang terdapat di bagian depan kemasan tanpa membaca informasi nilai gizi secara lebih lengkap.
Salah satu contohnya adalah granola. Makanan tersebut kerap dianggap sebagai pilihan sehat, tetapi kandungan gula dan kalori pada produk tertentu dapat cukup tinggi.
“Di belakangnya kan biasanya ada labelnya tuh, terus ternyata gulanya di atas 10 gram misalnya. Akhirnya kamu makan dua bungkus, ya itu pasti akan berlebihan walaupun kamu menganggapnya itu sehat,” ungkapnya.
Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya mengandalkan klaim seperti “sehat”, “alami”, atau “rendah kalori” ketika menentukan pilihan makanan.
Smoothies juga menjadi contoh lain yang sering dianggap otomatis sehat karena dibuat dari buah atau sayuran. Padahal, kandungan akhirnya sangat bergantung pada bahan yang digunakan dalam pembuatannya.
Penambahan gula, sirup, pemanis, susu dengan kandungan kalori tinggi, maupun bahan lainnya dapat meningkatkan total energi dalam minuman tersebut.
Apabila smoothies dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, asupan kalori harian pun dapat meningkat tanpa disadari.
“Kalau misalnya ternyata di dalam smoothies itu ada tambahan gula, pemanis buatan, terus kamu minumnya berlebihan, ya sudah pasti akan meningkatkan kalori,” kata dr. Yaze.
Untuk membantu mengontrol berat badan, masyarakat dianjurkan lebih teliti ketika memilih makanan dan minuman kemasan. Klaim pada bagian depan produk sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan.
Informasi mengenai jumlah kalori, gula, lemak, protein, karbohidrat, serta ukuran sajian dapat membantu konsumen memahami apa yang sebenarnya masuk ke dalam tubuh.
“Jadi jangan terlalu terkecoh sama kata-kata ‘sehat’ di dalam kemasan makanan,” pesan dr. Yaze.
Ia menambahkan, konsumen juga perlu melihat label yang terdapat di bagian belakang kemasan dan menyesuaikannya dengan jumlah makanan yang benar-benar dikonsumsi.
Pada akhirnya, keberhasilan program penurunan berat badan tidak cukup hanya dengan mengganti makanan biasa dengan produk berlabel low calorie atau sehat. Porsi, kandungan nutrisi, total asupan kalori, serta pola makan secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.
Makanan yang sehat tetap dapat menjadi bagian dari pola makan untuk menurunkan berat badan. Namun, konsumsi dalam jumlah berlebihan tetap dapat membuat asupan energi melebihi kebutuhan tubuh.
Karena itu, daripada hanya berfokus pada tulisan di bagian depan kemasan, konsumen sebaiknya membiasakan diri membaca informasi nilai gizi dan memperhatikan ukuran porsi.
Dengan demikian, pilihan makanan dapat disesuaikan secara lebih realistis dengan kebutuhan tubuh dan target penurunan berat badan.(dhil/dtk)










