Koranindopos.com, Jakarta – Program pengolahan sampah organik melalui biodigester komunal di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, berpeluang diperluas ke wilayah lain di Jakarta. Bank Jakarta menyatakan terbuka untuk menjadikan program tersebut sebagai model yang dapat diterapkan di sejumlah wilayah.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo mengatakan perluasan program dapat dilakukan apabila penerapan biodigester di Rorotan berjalan sesuai harapan. Menurut dia, keberhasilan program tersebut akan menjadi pertimbangan untuk menerapkannya di wilayah lain.
“Kalau ini nanti berhasil, kami sangat terbuka untuk ini diduplikasi. Ini adalah bagian dari satu prototype dan nanti kalau ini cocok, ini bisa diduplikasi. Memang isunya adalah, sebagaimana nanti disampaikan pak ketua itu, setelah ini dibuat, yang mengelola. Ini harus ada yang mengelola begitu. Walaupun ini gratis, harus ada yang mengelola. Kalau enggak ada yang mengelola ya enggak ada manfaatnya,” jelas Agus.
Menurut Agus, keberadaan pengelola menjadi salah satu hal penting yang harus dipastikan sejak awal. Fasilitas yang dibangun melalui program CSR, kata dia, tidak akan memberikan manfaat secara berkelanjutan apabila tidak ada pihak yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya.
Karena itu, Agus mengusulkan agar mekanisme pengelolaan fasilitas hasil program CSR dapat memiliki dasar pengaturan yang jelas. Ia berharap hal tersebut dapat dimasukkan dalam rancangan peraturan daerah (Raperda) yang akan datang.
“Harapan saya mungkin kalau nanti diperdakan, seperti ini sekaligus diatur, Pak Ketua. Jadi, apakah itu ada PJLP yang khusus untuk pengelolaan hasil-hasil CSR semacam ini. Tidak hanya seperti ini, seperti kita juga bangun taman. Taman itu kalau sudah dibangun, siapa nanti yang menjaga, mengelola? Jangan sampai nanti sudah bagus, enggak ada yang kelola, hancur lagi, rusak lagi,” kata Agus.
Pernyataan tersebut disampaikan Agus saat Pansus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (CSR/TJSL) DPRD DKI Jakarta meninjau fasilitas biodigester komunal di Rusunawa Rorotan, Senin (5/10/2026). Peninjauan juga diikuti Kepala Pokja Pengembangan Ekonomi Sirkular Direktorat Pengurangan Sampah/Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) Asep Setiawan dan Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto.
Ketua Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi menekankan agar pengolahan sampah sisa olahan dapur (SOD) melalui program tersebut tetap dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis.
“Filosofi kita CSR ini harusnya kan menjawab permasalahan. Itu poin pertama,” ujar Ghozi di lokasi.
Ghozi juga melihat program biodigester di Rorotan dapat menjadi contoh bagi instansi lain dalam menangani persoalan sampah organik. Ia menilai model tersebut dapat dikembangkan apabila terbukti memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Dan kalau benchmark ini berhasil ya. Sudin Lingkungan Hidup bisa mencontohnya. Atau pun Bank Jakarta, saya pikir ini menjadi satu prototype CSR yang signifikan dampaknya, menjawab masalah. Kalau ini akhirnya CSR ini menjawab, menangkap permasalahan ini menjadi satu bentuk program, bukan hanya di Rorotan hari ini tapi di berbagai wilayah ini sangat bagus sekali dan saya rasa masyarakat akan mengapresiasi,” tutur Ghozi.
Sementara itu, Agus menjelaskan Rusunawa Rorotan dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki kesiapan yang dibutuhkan untuk menjalankan program. Dukungan dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara juga menjadi salah satu pertimbangan.
“Kesiapan, kesiapan yang waktu itu jadi tempatnya. Kemudian support dari Sudin di sini juga. Saya kira nanti kalau ini ada pasti Sudin-Sudin yang lain akan meminta. Kalau ini berhasil, bukan masalah 5 wilayah kota, tapi memang merata di seluruh Jakarta,” ucap Agus. (BRG/Kul)










