Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan - Indopos
Selasa, 29 September 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

Editor : Anggoro oleh Editor : Anggoro
28 September 2026
in Opini, uncategorized
A A
0
Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

Arie Wibowo Khurniawan Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Share on FacebookShare on Twitter

koranindopos.com – Ada pelajaran menarik ketika menyaksikan keikutsertaan SMK dalam kontingan Indonesia dari dekat pada ajang Keterampilan Tingkat Dunia, WorldSkills Competition ke-48 di Shanghai. Kontingen Indonesia tahun ini terdiri atas 20 kompetitor dan 17 expert yang akan bertanding pada 17 bidang keahlian. Pelajaran itu bukan hanya tentang kecanggihan mesin, kompleksitas soal, atau siapa yang akhirnya berdiri di podium.

Justru hal-hal kecil yang paling mengusik pikiran.

Para peserta bekerja dengan ritme yang cepat. Mengambil alat, mengerjakan tugas, membersihkan meja, mencuci tangan, menata kembali peralatan, kemudian berpindah ke proses berikutnya. Hampir tidak ada gerakan yang sia-sia.

Pada bidang yang membutuhkan standar kebersihan tinggi, mencuci tangan dilakukan cepat dan benar. Membersihkan meja bukan pekerjaan tambahan setelah tugas selesai. Kebersihan adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri. Keselamatan juga bukan sekadar aturan yang harus diingat ketika dinilai, melainkan kebiasaan yang melekat dalam setiap tahapan kerja.

Artikel Terkait

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

Polisi Tangkap Ratusan Terduga Pelaku Anarkistis di Aksi 27 Agustus 2026

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

Pemandangan sederhana itu memberikan satu refleksi penting: keterampilan kelas dunia ternyata bukan hanya tentang apa yang dapat dikerjakan seseorang, tetapi bagaimana ia bekerja.

Dari Keterampilan Menuju Budaya Kerja

Selama ini pendidikan vokasi sangat akrab dengan istilah skill gap. Kita berusaha memperkecil kesenjangan kompetensi antara lulusan SMK dan kebutuhan dunia kerja melalui penyelarasan kurikulum, pembelajaran berbasis industri, teaching factory, sertifikasi kompetensi, magang guru, hingga praktik kerja lapangan.

WorldSkills memperkaya perspektif tersebut. Ada dimensi lain yang sama pentingnya, yakni work habit: kecepatan, ketelitian, kebersihan, keselamatan, efisiensi gerakan, pengelolaan waktu, dan konsistensi menjalankan prosedur. Anak-anak SMK Indonesia memiliki potensi teknis yang besar. Mereka mampu belajar, beradaptasi, dan menguasai kompetensi baru. Tantangannya adalah bagaimana kompetensi tersebut bertemu dengan kebiasaan kerja berstandar tinggi.

Perbedaannya terkadang sangat sederhana. Dua orang sama-sama dapat menyelesaikan sebuah pekerjaan. Namun, yang satu masih harus mengingat kapan membersihkan meja, sementara yang lain melakukannya secara otomatis. Yang satu menjalankan keselamatan kerja karena tertulis dalam SOP, sedangkan yang lain menjadikannya bagian dari cara bekerja.

Di sinilah pendidikan vokasi tidak cukup hanya menghasilkan anak yang bisa bekerja. Kita perlu terus bergerak menuju pembentukan anak yang terbiasa bekerja dengan benar.

Tentu ini bukan pekerjaan singkat.

Kemampuan teknis tertentu dapat ditingkatkan melalui pelatihan intensif dalam hitungan bulan. Namun, disiplin, ketelitian, kebersihan, keselamatan, dan kecepatan membutuhkan pembiasaan panjang.

Budaya tidak terbentuk melalui ceramah. Budaya tumbuh dari sesuatu yang dilakukan berulang-ulang sampai akhirnya menjadi kebiasaan.

SMK memang harus dekat dengan dunia usaha dan dunia industri. Kompetensi yang diajarkan harus relevan dengan pekerjaan nyata yang kelak dihadapi lulusan. Prinsip tersebut perlu terus dijaga.

Namun, WorldSkills menunjukkan lapisan lain dari perkembangan keterampilan.Tidak seluruh kompetensi yang muncul dalam kompetisi Internasional otomatis menjadi kebutuhan pekerjaan sehari-hari. Dalam bidang kuliner, misalnya, terdapat keterampilan specialized artisan yang sangat tinggi dan spesifik. Tidak setiap hotel atau restoran membutuhkan keterampilan tersebut dalam operasional rutinnya.

Hal serupa dapat ditemukan pada berbagai bidang kompetisi lainnya.Ini bukan pertentangan antara kurikulum SMK dan WorldSkills. Keduanya memiliki orientasi yang berbeda tetapi dapat saling memperkaya.

Industri memberikan relevansi hari ini, sementara WorldSkills dapat menjadi salah satu benchmark untuk membaca standar keterampilan tingkat tinggi dan perkembangan kompetensi dunia.Karena itu, pertanyaannya bukan apakah kurikulum SMK harus diubah menjadi kurikulum WorldSkills.

Pertanyaan yang lebih produktif adalah: bagian mana dari standar WorldSkills yang dapat memperkuat kualitas pembelajaran SMK Indonesia? Tidak Harus Sekaligus

Pengalaman sejumlah negara memberikan perspektif yang menarik. Ada yang mengintegrasikan standar WorldSkills lebih jauh dalam pendidikan vokasinya. Ada yang memiliki pusat pembinaan khusus dengan dukungan industri. Ada pula yang membangun jejaring antarlembaga dan antarexpert agar pengetahuan dari kompetisi dunia dapat menyebar lebih luas.

Indonesia tidak harus menyalin satu model tertentu.Kita memiliki ekosistem pendidikan vokasi yang besar dan beragam. Karena itu, pendekatan yang dilakukan perlu bertahap, kontekstual, dan tetap berpijak pada kebutuhan dunia kerja Indonesia.

Beberapa elemen WorldSkills sebenarnya sangat relevan untuk diperkuat secara lebih luas: budaya 5S, keselamatan dan kesehatan kerja, kebersihan, ketelitian, produktivitas, kemampuan memecahkan masalah, pengelolaan waktu, hingga standar kualitas hasil pekerjaan.

Tidak semuanya harus dimasukkan sekaligus.

Kita dapat memulainya dari sebagian standar yang paling relevan. Guru dan sekolah diberi kesempatan mengadaptasi, mempraktikkan, dan mengevaluasinya. Setelah ekosistem semakin siap, standar dapat dinaikkan secara bertahap.

Perubahan pendidikan vokasi memang tidak selalu harus dilakukan melalui lompatan besar. Sering kali perubahan yang bertahan justru tumbuh melalui langkah-langkah yang konsisten, terukur, dan terus diperbaiki.

Dua Jalur yang Saling Menguatkan

Dari sini, WorldSkills dapat dikembangkan melalui dua jalur yang berjalan beriringan. Pertama, WorldSkills for All. Semangat dan sebagian standar fundamental WorldSkills dibawa masuk ke pengalaman belajar sebanyak mungkin siswa SMK. Tujuannya bukan menjadikan seluruh siswa sebagai peserta kompetisi, melainkan memperkuat budaya kerja berstandar tinggi di sekolah.

Kedua, WorldSkills for Excellence.Anak-anak dengan talenta terbaik perlu mendapatkan jalur pembinaan khusus melalui identifikasi talenta sejak dini, pendampingan expert, fasilitas dan teknologi yang relevan, penguatan bahasa asing, simulasi kompetisi, serta pelatihan intensif.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Yang satu memperluas dampak. Yang lain mendorong keunggulan. Dengan cara itu, WorldSkills tidak hanya menjadi panggung bagi segelintir anak terbaik Indonesia, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan untuk meningkatkan mutu pendidikan vokasi secara lebih luas.

Setelah Kompetisi

Ada satu pertanyaan yang juga perlu dijawab: apa yang terjadi setelah seorang peserta selesai mengikuti WorldSkills? Mereka telah melewati proses belajar yang luar biasa. Ada ribuan jam latihan, interaksi dengan expert, pengalaman menggunakan teknologi, tekanan kompetisi, dan perjumpaan dengan standar kerja dari berbagai negara.

Pengetahuan itu terlalu berharga apabila berhenti ketika kompetisi selesai. Alumni WorldSkills dapat menjadi mentor bagi generasi berikutnya. Mereka dapat berbagi pengalaman kepada siswa dan guru, mendukung pembinaan LKS, menjadi young skills ambassador, dan pada waktunya berkembang menjadi expert.

Dengan demikian terbentuk siklus pengetahuan: peserta menjadi alumni, alumni menjadi mentor, mentor berkembang menjadi expert, dan expert menyiapkan generasi berikutnya. Di sinilah ukuran keberhasilan WorldSkills menjadi lebih luas daripada medali. Medali tetap penting. Ketika Merah Putih berkibar di panggung dunia, ada kebanggaan yang tidak dapat digantikan. Namun, warisan terbesar sebuah kompetisi keterampilan bukan hanya apa yang dibawa pulang oleh para pemenangnya.

Yang lebih penting adalah pengetahuan apa yang dibawa pulang oleh sistem pendidikan kita. WorldSkills dapat menjadi laboratorium untuk melihat bagaimana keterampilan berkembang, bagaimana teknologi mengubah pekerjaan, bagaimana negara lain menyiapkan tenaga terampilnya, dan kompetensi apa yang perlu mulai kita bangun hari ini.

Momentum ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk terus memperkuat pendidikan vokasi melalui revitalisasi SMK, penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri, peningkatan kompetensi guru, pengembangan teaching factory, serta pembelajaran yang semakin dekat dengan dunia kerja.

WorldSkills dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran untuk memperkuat perjalanan tersebut. Shanghai akhirnya memberikan sebuah pesan sederhana. Pendidikan vokasi bukan sekadar mengajarkan bagaimana menyelesaikan pekerjaan. Pendidikan vokasi juga harus membentuk cara seseorang bekerja: cepat tanpa ceroboh, teliti tanpa kehilangan produktivitas, bersih tanpa harus diingatkan, aman tanpa harus diawasi, dan selalu berusaha menghasilkan pekerjaan terbaik.

Karena itu, setelah WorldSkills selesai, pekerjaan kita bukan hanya menyiapkan siapa yang akan bertanding pada kompetisi berikutnya. Pekerjaan yang lebih besar adalah membawa pulang standar dunia ke ruang-ruang praktik SMK Indonesia.

Tidak sekaligus. Tidak pula dengan menyalin begitu saja. Kita mengambil yang relevan, menyesuaikannya dengan kebutuhan Indonesia, menerapkannya secara bertahap, lalu terus menaikkan standar.

Dengan demikian, keberhasilan Indonesia di WorldSkills kelak tidak hanya dapat dibaca dari berapa medali yang berhasil dibawa pulang. Tetapi juga dari sesuatu yang jauh lebih besar: seberapa banyak praktik baik dan standar kelas dunia yang berhasil kita ubah menjadi budaya belajar dan budaya kerja anak-anak Indonesia.

PENULIS:  Arie Wibowo Khurniawan Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Topik: KemendikdasmenPendidikansekolah menengah kejuruanSMK

TerkaitBerita

ZAKAT DAN PAJAK: Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah segera mengevaluasi skema integrasi zakat dan pajak yang berlaku. Mereka menilai zakat yang telah dibayarkan masyarakat melalui lembaga resmi seharusnya dapat diperhitungkan secara langsung untuk mengurangi kewajiban pajak. (Foto Ilustrasi: iStockphoto)
Opini

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

oleh Editor : Memoarto
22 September 2026
SPANDUK TUNTUTAN: Sejumlah massa unjuk rasa memasang spanduk tuntutan mereka di pagar Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (27/8/2026). (FOTO ILUSTRASI; HARIS SUNANDAR/KORANINDOPOS.COM)
Nasional

Polisi Tangkap Ratusan Terduga Pelaku Anarkistis di Aksi 27 Agustus 2026

oleh Editor : Memoarto
27 Agustus 2026
“Echo Chamber”, Pengganggu Pembelajaran Mendalam?
Opini

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
23 Agustus 2026
KAPAL PERANG: Kapal Induk USS Abraham Lincoln menuai sorotan publik setelah tujuh tentara AS yang merupakan kru kapal tersebut dilaporkan tewas karena saling berkelahi. (Foto: AFP/HO)
uncategorized

Trump Bantah Tentara AS di USS Abraham Lincoln Stres Berat

oleh Editor : Memoarto
16 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya