Koranindopos.com – JAKARTA — Pemerintah Malaysia secara resmi menawarkan bantuan armada udara untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Bantuan yang ditawarkan meliputi satu unit pesawat amfibi CL-415MP dan satu unit helikopter Mi-171.
Tawaran tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Muzafar Shah Mustafa, saat melakukan kunjungan dan pertemuan dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Kristomei Sianturi, di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa penjajakan dukungan ini merupakan wujud kolaborasi erat antarnegara bertetangga dalam menanggulangi krisis lingkungan.
“Tawaran ini menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk menjajaki dukungan yang dapat menunjang operasi penanganan Karhutla di Indonesia,” ujar Berton dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Selain bantuan operasional penerbangan pemadaman, BNPB dan Pemerintah Malaysia turut membahas potensi kerja sama strategis di bidang teknologi kebencanaan. Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup:
-
Sistem pemantauan dan deteksi dini (early warning system) titik panas.
-
Pengumpulan serta analisis data geospasial.
-
Penilaian situasi wilayah terdampak dan perumusan strategi pemadaman yang efektif.
-
Riset, inovasi, koordinasi teknis, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
“Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dan meningkatkan efektivitas penanganan karhutla,” imbuh Berton.
Sebagai tindak lanjut atas tawaran tersebut, BNPB akan segera berkoordinasi secara teknis dengan Agensi Pengurusan Bencana Negara (NADMA) Malaysia melalui fasilitasi Kementerian Luar Negeri RI. Koordinasi ini akan memetakan kesesuaian jenis bantuan, kesiapan pengerahan unit, kebutuhan logistik, prosedur keselamatan penerbangan, hingga opsi alternatif operasional jika jarak pandang terhalang asap pekat.
Berton menegaskan bahwa seluruh bentuk dukungan internasional yang masuk akan disesuaikan secara ketat dengan kebutuhan riil di lapangan, di mana kendali penuh atas jalannya operasi tetap berada di tangan Pemerintah Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, BNPB memaparkan bahwa penanganan karhutla nasional saat ini terus digencarkan secara terpadu melalui kombinasi operasi darat, operasi udara (water bombing), serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dikoordinasikan bersama BMKG dan melibatkan berbagai unsur aparat serta masyarakat.
Berdasarkan data operasional per 25 Oktober 2026, pemerintah telah mengerahkan kekuatan skala besar yang meliputi:
-
71.878 personel gabungan untuk pemadaman di darat.
-
63 armada udara pendukung, yang terdiri atas 39 helikopter water bombing serta 24 pesawat patroli dan modifikasi cuaca.
Melalui sinergi bilateral dengan Malaysia serta penguatan operasi darat dan udara yang masif, pemerintah optimistis penanganan karhutla dapat berjalan secara lebih optimal guna menekan luasnya lahan terdampak.(dhil/kmps)










