Koranindopos.com – Jimbaran. Persentase urbanisasi di semua negara secara global telah mencapai 57 persen. Bahkan, di Benua Amerika Utara memiliki persentase urbanisasi tertinggi, yakni sekitar 83 persen. Demikian dinyatakan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian.
Tito menjelaskan, saat ini urbanisasi telah menjadi fenomena utama sekaligus tantangan dalam pembangunan perkotaan di seluruh dunia termasuk ASEAN. Urbanisasi menyebabkan kemacetan kota, polusi, kurangnya perumahan yang terjangkau dan ketimpangan sosial dan ekonomi.
”Melihat tingginya arus urbanisasi, maka penting dilakukan kolaborasi dalam mewujudkan kota cerdas sesuai dengan tujuan utama ASCN, yaitu meningkatkan kehidupan warga perkotaan ASEAN,” tegas Tito di Jimbaran, Bali, seperti dikutip dari laman resmi Kemendagri baru-baru ini.
Tito menyebut peluang dan tantangan yang ditimbulkan oleh urbanisasi dan sistem digitalisasi yang cepat. Teknologi informasi adalah kunci untuk menciptakan pelayanan perkotaan yang efektif dan efisien. Khusus untuk Indonesia, dia menilai dari 38 provinsi, 98 kota, dan 416 kabupaten sudah ada beberapa daerah yang menggunakan teknologi digital.
”Termasuk penerapan digital secara menyeluruh pada pelayanan pemerintahan. Namun, masih ada beberapa daerah yang menggunakan pendekatan hybrid atau bahkan mayoritas masih mengandalkan cara manual,” jelas Tito. Berdasar data Statista pada Juli 2023, tahun 2022 lalu pengguna internet Indonesia mencapai 224,01 juta atau 80,87 persen dari 277 juta penduduk.
Karena itu, lanjut Tito, Indonesia harus bisa memperkuat pemerintahan dengan menggunakan teknologi digital melalui kota cerdas, serta pemerintahan perdesaan yang cerdas. Untuk mencapai hal tersebut, ada beberapa langkah yang harus dilakukan. ”Di antaranya meningkatkan anggaran dan membangun infrastruktur dan mengubah budaya masyarakat,” tandas Tito.










