BERANTAS NARKOBA: Kepala Badan Narkotika Nasional RI Komjen Pol Petrus Reinhard Golose menyampaikan keterangan usai perayaan Natal bersama di gedung BNN RI pada Selasa (28/12).
KRAMAT JATI – Memerangi narkoba bisa dengan cara apa saja. Momentum Natal ini menjadi cara BNN menyampaikan pesan untuk memerangi narkoba. ”Kita merayakan Natal bersama dari Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia juga sampai dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi dan Kabupaten, dengan menerapkan protokol kesehatan,” kata Kepala BNN RI Komjen Petrus Reinhard Golose pada Selasa (28/12).
Petrus menerangkan, perayaan Natal kali ini mengambil tema “Persauadaraan”. Tema tersebut mengisyaratkan ajakan bagi masyarakat untuk bersama-sama membrantas atau meminimalisir peredaran narkotika di Indonesia.
“Kita tahu bersama 2021 ini walaupun mulai dari tahun 2020, adanya kasus bertambah 0,5 persen. Ini merupakan tantangan bagi Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia untuk kita lebih menekan peredaran gelap narkotika,” lanjutnya.

Menyambut 2022, BNN RI akan memperkuat kerjasama dengan seluruh stakeholders serta lapisan masyarakat dalam rangka memerangi narkotika. Sementara, berkaitan dengan pidana narkotika, BNN melihat bahwa tingkat hunian di lembaga pemasyarakatan sudah sangat tinggi. Sehingga perlu ada upaya untuk mengurangi kepadatan.
Apalagi saat ini penjara didominasi narapidana yang terkait kasus narkotika. “Kita sedang membahas amandemen, nantinya undang-undang Nomor 35 (tahun 2009 tentang Narkotika) berkaitan dengan bagaimana para penyalahgunaan narkotika ini bisa dilakukan rehabilitasi,” jelasnya. Tentunya dengan syarat-syarat yang harus diikuti.
Untuk mewujudkannya, memerlukan kerja sama antarlembaga dan memerlukan proses yang waktunya tidak sebentar. Karena itu, tambah Petrus, untuk saat ini yang terpenting adalah pemerintah dan masyarakat Indonesia harus bersama-sama menekan peredaran gelap narkotika.
Karena Narkotika merupakan problem yang besar, apalagi potensi peredarannya saat Natal dan menjelang tahun baru patut diwaspadai. “Kita tahu bersama bahwa ada (dampak) masalah di Myanmar, kemudian juga precursor, dan sebagainya,” tuturnya. (rls/riz)










