koranindopos.com – Jakarta. Dodi Permana lahir dari orang tua yang menikah berbeda keyakinan, ibunya beragama Muslim serta ayah penganut Katolik yang taat. Dodi mengaku bahwa dirinya kerap aktif dalam di gereja hingga kegiatan rohani keagamaan semasa di sekolahnya.
“Saya Dodi Permana, saya bekerja sebagai karyawan. Saya akan sedikit bercerita terkait pengalaman-pengalaman saya mengenal Islam hingga saya menjadi seorang muslim,” kata Dodi dalam tayangan YouTube Ngaji Cerdas, dikutip Selasa (13/12/2022).
Lebih lanjut, Dodi mengungkapkan dengan latar belakang keluarga yang beragam, membuat dirinya mendapatkan kebebasan dalam memilih termasuk urusan agama. Kendati demikian, sejak usianya menginjak lima tahun Dodi baru dibaptis dan menjadi seorang katolik.
“Saat saya kecil ibu saya tidak pernah menyuruh untuk masuk Islam, tetapi saat itu saya punya sahabat sejak kecil yang kebetulan seorang muslim. Perjalanan waktu, saat saya SMP ibu saya baru menanyakan (soal masuk Islam), tapi tetap saya tidak tergerak sampai SMA,” ujarnya.
Menurut dia, masuk jenjang pendidikan perkuliahan justu dirinya semakin aktif dalam berbagai kegiatan baik di Katholik sendiri maupun di Nasrani yang lain, berupa rohani keagamaan , salah satunya aktif dalam persekutuan doa. Dan ternyata saat itu, Dodi berada dalam proses pencarian tentang Tuhan.
“Tanpa disadari saya tuh merasa ada sedikit pertanyaan kok di agama Katolik biarawan-biarawati tidak boleh menikah, lalu ada pertanyaan juga Kenapa ada yang menyebut Tuhan kita Yesus Kristus. Tapi di berbagai kesempatan saya mendengan penyebutan juru selamat kita Yesus Kristus,” tuturnya.
Dengan kata Tuhan dan juru selamat, Dodi merasa bahwa hal itu menjadi perbedaan. Sebab menurutnya, bahwa Tuhan itu esa bahkan dalam Pancasila sendiri disebutkan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Tapi kenapa ada Tuhan Yesus , nah di sini juga ada pastor yang menyebutnya juru selamat, dan saya cenderung lebih nyaman ketika mengikuti Misa ada kata-kata, juru selamat dari Yesus Kristus bukan Tuhan kita Yesus Kristus,” ujarnya.
Awal Dodi ingin mengenal Islam bermula dari perkataan ibunya yang menginginkan doa dari sang anak, hal itu mengingat Dodi yang merupakan anak tunggal dan berbeda agama. Sehingga apabila sang ibu meninggal dunia, tidak ada yang bisa mendoakannya, termasuk Dodi.
“Dari situ saya ingin memberikan yang terbaik untuk ibu saya, akhirnya saya berpikir mungkin ulang tahun Ibu kali ini saya ingin memberikan dia hadiah bahwa saya sudah muallaf, itu awalnya,” ujarnya.
Sebelumnya, Dodi juga menyebut ketidaksukaannya terhadap Islam sebab sebagian ada yang stereotip dan menganggap bahwa Islam identik dengan kekerasan dan sebagainya. Akan tetapi, Dodi merasa anggapan bahwa Islam penuh dengan kekerasan itu tidak sedikit pun nampak dari ibunya.
“Saya lihat ibu saya saat itu rajin salat, bahkan salat sunnahnya juga kencang. Salat tasbih, dan segala macamnya akhirnya saya berpikiran untuk berdoa apakah saya tetap di Katolik atau saya menjadi seorang Muslim, tolong beri petunjuk,” ucapnya.
Seriring berjalannya waktu, keinginan Dodi untuk belajar salat semakin hari semakin kuat. Hingga akhirnya dia melakukan salat secara sembunyi-sembunyi di rumahnya .
“Sampai akhirnya suatu saat berdiskusi dengan sahabat saya untuk mengkoreksi salat dan wudhu sudah benar atau belum ya?” katanya.
Setelah itu, di momen 25 Desember pada saat misa terakhir pada pagi hari. Dodi akhirnya membulatkan tekad bahwa dirinya benar-benar ingin memeluk agama Islam sebagai pilihan keyakinan dunia dan akherat.
“Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya berangkat di momen yang spesial saya syahadat di Masjid Sunda Kelapa dengan saksi sahabat saya dan beberapa dosen. Dan ketika menjadi muslim saya memilih untuk tidak menghilangkan nama itu,” ujarnya.
Semoga kisah ini memberikan pembelajaran untuk mencari nilai kebaikan dan kebenaran serta meningkatkan keilmuan bagi siapa saja yang selalu mau mempelajarinya.
Wallahu a’lam bisshawab.











mungkin dalam hati , banyak kegiatan ruhani yg sudah sangat lama . mas Dod rasaken. bgitu halnya yang telah saya alami. trims
Terima Kasih Pak Jipun, mau komentari atas artikel ini.
Kolaborasi keteguhan hati yg paling dalam. Memcapai cita2 yg sejati. MasyaAllah
semoga memberi hikmah dan pelajaran bagi kita yang ingin mencapai hijrah, amiin