koranindopos.com – Jakarta. Raksasa otomotif asal Jepang, Nissan Motor Co, dikabarkan tengah mempertimbangkan penutupan dua pabrik utama di Jepang dan sejumlah fasilitas lainnya di luar negeri sebagai bagian dari langkah besar restrukturisasi demi mengatasi tekanan finansial yang terus membayangi perusahaan.
Menurut laporan Reuters, Nissan berencana menutup pabriknya di Oppama, Prefektur Kanagawa, Jepang – pabrik yang bersejarah karena menjadi lokasi produksi mobil pertama Nissan sejak tahun 1961. Di pabrik ini pula mobil listrik ikonik Nissan Leaf pertama kali diproduksi. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi hingga 240.000 unit per tahun dan mempekerjakan sekitar 3.900 karyawan.
Tak hanya Oppama, pabrik Shonan yang dikelola oleh Nissan Shatai – perusahaan afiliasi di mana Nissan memiliki sekitar 50% saham – juga disebut akan ditutup. Pabrik tersebut khusus memproduksi kendaraan komersial ringan dengan kapasitas tahunan mencapai 150.000 unit, serta mempekerjakan sekitar 1.200 orang.
Jika rencana ini terealisasi, maka Nissan hanya akan mengoperasikan tiga pabrik perakitan di Jepang. Sementara itu, pemangkasan operasi juga direncanakan di berbagai negara lain, termasuk penghentian produksi di Afrika Selatan, India, dan Argentina, serta pengurangan jumlah pabrik di Meksiko.
Rencana ini merupakan bagian dari strategi pemangkasan biaya besar-besaran yang telah diumumkan Nissan sejak beberapa tahun terakhir. Di bawah kepemimpinan CEO baru Ivan Espinosa, Nissan menargetkan pengurangan tenaga kerja global sebanyak 15%, serta mengurangi jumlah pabrik dari 17 menjadi 10 secara global.
Langkah ini diambil setelah perusahaan mengalami penurunan penjualan sebesar 42% sejak tahun fiskal 2017. Nissan juga sempat mencatatkan kerugian besar hingga ¥820 miliar (sekitar Rp 82 triliun) dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, dalam pernyataan resminya, Nissan menyebut bahwa laporan mengenai rencana penutupan pabrik masih bersifat spekulatif dan belum dikonfirmasi secara resmi.
“Saat ini kami tidak akan memberikan komentar lebih lanjut mengenai hal ini. Kami berkomitmen untuk menjaga transparansi dengan para pemangku kepentingan dan akan mengkomunikasikan setiap informasi terbaru yang relevan jika diperlukan,” demikian pernyataan perusahaan.
Sebelumnya, Nissan telah mengumumkan rencana konsolidasi produksi untuk beberapa model andalannya. Salah satu langkah yang sudah dikonfirmasi adalah penggabungan lini produksi pikap Frontier dan Navara ke satu lokasi produksi utama di sekitar pabrik Civac, Meksiko.
Langkah-langkah efisiensi ini diyakini menjadi upaya penyelamatan jangka panjang perusahaan untuk kembali ke jalur profitabilitas, setelah bertahun-tahun terdampak oleh persaingan ketat industri otomotif global, perubahan pasar kendaraan listrik, dan manajemen yang sempat goyah pasca krisis kepemimpinan beberapa tahun lalu.
Meskipun ada kekhawatiran dari serikat pekerja dan masyarakat lokal atas kemungkinan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, Nissan sejauh ini belum mengeluarkan keterangan lebih lanjut mengenai dampak sosial dan ekonomi dari rencana tersebut.(dhil)










