koranindopos.com – Jakarta. Nissan Motor Corporation (NMC) menghadapi situasi krisis yang kian memburuk, hingga CEO Nissan, Makoto Uchida, menyebut perusahaan kini berada dalam kondisi “emergency mode” atau gawat darurat. Kondisi ini diperparah dengan kabar mengejutkan bahwa Stephen Ma, Chief Financial Officer (CFO) Nissan, dilaporkan akan mengundurkan diri.
Dikutip dari Reuters dan Carscoops, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Nissan terkait pengunduran diri Stephen Ma. Spekulasi masih berkembang, apakah Ma akan meninggalkan perusahaan sepenuhnya atau hanya melepaskan jabatannya sebagai CFO.
Stephen Ma menjabat sebagai CFO sejak 2019, menggantikan Hiroshi Karube di masa-masa sulit akibat pandemi. Selama lima tahun terakhir, Ma berhasil menavigasi perusahaan melalui krisis global, namun tantangan baru kini muncul dengan lebih berat.
Krisis yang dialami Nissan dipicu oleh:
- Penurunan penjualan global, terutama di pasar utama seperti Amerika Utara, China, dan Jepang.
- Keuntungan merosot tajam, dengan penurunan hingga 90 persen selama periode April hingga September 2024.
- Persaingan ketat di pasar China dari merek-merek baru seperti BYD, yang menawarkan mobil berteknologi canggih dengan harga terjangkau.
Situasi krisis ini memaksa Nissan mengambil langkah-langkah drastis, antara lain:
- Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 9.000 karyawan, yang mencakup 6,7 persen dari total tenaga kerja global mereka.
- Pengurangan kapasitas produksi di beberapa pabrik hingga 20 persen.
- Pemangkasan gaji CEO Makoto Uchida hingga setengah dari pendapatan sebelumnya.
Persaingan ketat di pasar otomotif, khususnya di China, menjadi salah satu penyebab utama krisis. Kehadiran produsen lokal seperti BYD dengan teknologi canggih dan harga lebih kompetitif telah menggusur dominasi merek-merek lama seperti Nissan, Volkswagen, dan Ford.
Uchida mengakui bahwa perusahaan menghadapi kesulitan dalam merespons perubahan pasar dengan cepat. “Kami tidak dapat menyangkal bahwa rencana penjualan kami terlalu berlebihan mengingat perubahan pasar yang begitu cepat. Ini menunjukkan ketidakmampuan kami memenuhi kebutuhan pelanggan secara tepat waktu,” ungkap Uchida.
Untuk keluar dari krisis, Nissan berencana memanfaatkan kemitraan strategis, termasuk kerja sama dengan produsen lain seperti Honda. Fokus Nissan saat ini adalah menyesuaikan strategi bisnis agar lebih fleksibel dan sesuai dengan permintaan pasar global.(dhil)










