Koranindopos.com – Jakarta – Gunungan sampah yang menutupi sebagian akses jalan menuju SDN Kedaung Kali Angke 03, Cengkareng, Jakarta Barat, memicu keresahan para orangtua murid. Selain mengeluarkan bau menyengat, keberadaan tumpukan sampah tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan para siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang tidak layak.
Salah seorang wali murid, Dina, mengaku aroma busuk dari tumpukan sampah kerap tercium hingga ke area sekolah. Kondisi tersebut bahkan semakin parah saat musim hujan atau banjir, ketika sampah terbawa air hingga mendekati lingkungan sekolah.
“Baunya parah sekali. Yang saya khawatirkan anak-anak bisa sakit. Kita juga tidak bisa mengawasi mereka terus-menerus, apalagi kalau mereka membeli jajanan di luar sekolah,” ujar Dina saat ditemui di lokasi, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang bersih dan sehat agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman. Ia berharap pemerintah segera memindahkan tempat pembuangan sampah (TPS) yang berada di dekat sekolah tersebut.
“Di sini banyak anak-anak yang membutuhkan lingkungan yang sehat. Banyak risiko penyakit. Harapan saya TPS ini dipindahkan saja. Sekolah seharusnya steril dan enak dipandang,” katanya.
Dina menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah diterapkan di sekolah merupakan langkah positif. Namun, menurutnya manfaat program tersebut menjadi kurang optimal apabila lingkungan sekitar sekolah masih dipenuhi tumpukan sampah.
“MBG memang bagus, tetapi kalau lingkungan sekolahnya tidak bersih, hasilnya juga tidak maksimal. Tidak nyaman juga kalau sedang makan banyak lalat dari sampah yang beterbangan,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat para orangtua berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan pemenuhan gizi siswa, tetapi juga memastikan lingkungan sekolah tetap bersih dan sehat.
Keluhan serupa disampaikan Levi, orangtua yang memiliki dua anak di SDN Kedaung Kali Angke 03. Ia mengatakan keberadaan gunungan sampah menimbulkan kekhawatiran karena banyak lalat beterbangan hingga ke area sekolah.
Menurut Levi, meskipun siswa telah memperoleh makanan melalui program MBG, anak-anak tetap berpotensi membeli jajanan di luar sekolah. Kondisi itu dinilai meningkatkan risiko makanan terpapar lalat yang berasal dari tumpukan sampah.
“Anak-anak tetap ingin jajan di luar. Sampahnya sudah menggunung, lalatnya ke mana-mana. Tadi waktu sampah sedang diangkut saja baunya sampai masuk ke dalam kelas,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah permanen agar tempat pembuangan sampah tidak lagi berada di sekitar kawasan pendidikan.
Levi mengaku telah memperoleh informasi dari pihak sekolah bahwa penanganan persoalan sampah tersebut ditargetkan selesai dalam waktu dekat.
Meski demikian, ia berharap solusi yang diambil bersifat permanen sehingga masalah serupa tidak kembali terulang.
“Kalau bisa jangan ada lagi TPS di sini. Ini lingkungan sekolah, bahkan ada beberapa sekolah lain di sekitar lokasi. Tempat pembuangan sampah sebaiknya tidak berada dekat lingkungan pendidikan karena bisa mengganggu kesehatan anak-anak,” tuturnya.
Keberadaan gunungan sampah di depan SDN Kedaung Kali Angke 03 sebelumnya juga menjadi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah diminta segera mempercepat proses pembersihan dan penataan kawasan agar akses menuju sekolah kembali normal serta para siswa dapat belajar dalam lingkungan yang lebih bersih, aman, dan sehat.(dhil/kmps)




