Senin, 25 Mei 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Olahraga
  • Opini
  • More
Home Opini

Pandemi dan Kolaborasi Masyarakat Sipil

Admin oleh Admin
28 Juli 2021
in Opini
A A
0
Pandemi dan Kolaborasi Masyarakat Sipil
Share on FacebookShare on Twitter

Sebagaimana telah diduga sebelumnya, bahwa ketika mobilitas warga kembali meninggi, maka jumlah kasus Covid-19 akan naik—ketika tulisan ini disusun, jumlah kasus sudah melewati angka 2,5 juta. 

MENGAPA kesadaran setiap warga tidak kunjung tumbuh, sehingga setiap peristiwa kultural yang membuka peluang bagi kegiatan liburan, menjadi momen ledakan kasus? Mengapa kampanye panjang sejak tahun lalu, seperti kurang berbuah optimal? Apakah ada cara lain yang layak dikembangkan untuk agar Pandemi benar-benar dapat dikendalikan penyebarannya? Siapa agen utama dari langkah baru tersebut? Masalah-masalah ini, sangat menjadi bahan dialog nasional.

Kebijakan dan Kesadaran

Tentu publik menyimpan ingatan ketika terjadi debat terkait dengan langkah pembatasan sosial. Ada pro dan kontra. Yang pro menyadari bahwa pembatasan sosial merupakan cara saintifik yang terbaik, agar virus tidak menular secara cepat. Yang kontra, meskipun memahami duduk masalah, namun hal-hal yang tersambung dengan kebutuhan hidup, membuat pembatasan menjadi issue ekonomi. Oleh sebab itulah, pembatasan diiringi dengan penyediaan bahan kebutuhan dasar.

Artikel Terkait

Fakta di Balik Program ”Stimulan” Perumahan Swadaya

Arsitektur Baru Keadilan Pajak

Pendidikan Bermutu untuk Semua bukan Sekadar Sekolah

Memang harus diakui bahwa pro dan kontra tidak segera tuntas. Akibatnya, situasi “dalam keraguan” ikut menyebar. Dalam situasi yang demikian, dapat segera dibayangkan, apa yang akan terjadi. Program pembatasan dan pelonggaran, berjalan beriringan. Pada satu sisi protokol di-push, namun pada sisi yang lain, dorongan bagi langkah pemulihan ekonomi juga menguat. Kegiatan ekonomi kembali menggeliat, dan dengan sendirinya muncul kembali kerumunan di sana-sini.

Idealnya kebijakan penanganan Pandemi, diterima publik sebagai pedoman untuk menata ulang tata hidup, sedemikian sehingga mata rantai penyebaran terputus. Artinya, kebijakan bukan pertama-tama tentang apa yang hendak dilakukan oleh pembuat kebijakan, akan tetapi tentang perubahan perilaku di kalangan publik. Secara demikian, kebijakan seharusnya punya dimensi edukasi, dengan arah mengubah perilaku publik. Untuk sampai pada jenis kebijakan tersebut tentu tidak mudah.

Selain kebijakan harus didasarkan pada pengetahuan yang baik atas kenyataan, namun juga dibutuhkan suatu ekosistem yang juga baik, sehingga proses pembentukan kebijakan memenuhi syarat dasar tata kelola pemerintahan yang baik. Meskipun tidak mengikuti secara ketat, namun publik dapat merasakan, apa yang sebenarnya terjadi. Tatkala kebijakan menimbulkan pro dan kontra, muncul pertanyaan mengapa masih muncul perdebatan, pasca keputusan. Atau mengapa penolakan publik terhadap rencana kebijakan yang dipandang tidak sejalan, tidak mendapatkan tempat atau kurang didengar?

Masalah makin kompleks, manakala muncul kasus hukum atas pejabat negara yang punya tugas mengurus keperluan publik. Soalnya, tentu bukan pertama-tama diambilnya uang negara, melainkan dibatalkan pelayanan yang baik, padahal di masa Pandemi, pelayanan merupakan bahasa paling jelas dari komitmen kebijakan. Pelayanan yang baik, sebagaimana konstitusi mengaturnya, akan merupakan alas bagi kepercayaan publik. Pembatalan pelayanan yang baik dalam bentuk kasus korupsi, tentu merupakan pintu bagi distrust.

Dalam batas tertentu, dapat dikatakan bahwa lingkungan yang dicemari dengan distrust, membuat segala sesuatu tidak bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Peristiwa harian memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana dialektika terjadi. Ada kalanya dari atas muncul kebijakan pembatasan, namun yang berlangsung justru kerumunan di sana-sini, sehingga dihadirkan law enforcement. Sebaliknya, ada kalanya muncul kebijakan pelonggaran, tetapi bawah merespons sebaliknya, meminta ada pembatasan. Soal yang demikian ini, perlu menjadi perhatian publik. Maksudnya agar ada jalan keluar yang baik. Arahnya jelas: Pandemi segera berakhir.

Kolaborasi

Telah disadari dari awal bahwa Pandemi tidak bisa diatasi oleh satu atau dua pihak, dibutuhkan kerja sama yang luas dari seluruh elemen masyarakat. Jika kesadaran akan Pandemi merupakan pokok soal, bagaimana masalah ini dapat diatasi? Atau, bagaimana agar di kalangan masyarakat tumbuh kesadaran dan disiplin yang kuat, sehingga laku bawah sadar dari publik merupakan tindakan yang mencerminkan kesadaran menjalankan protokol kesehatan? Dengan kesadaran tersebut, setiap kebijakan yang berbasis sains akan didukung publik dan dikawal pelaksanaannya. Dan sebaliknya, setiap kebijakan penanganan pandemi bersifat yang anti sains, atau tidak sesuai dengan protokol, akan mendapatkan kritik dan dengan itu pembuat kebijakan tanpa ragu mengubahnya. Pandemi membutuhkan kerja sama yang luas, atau kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Pada titik inilah dibutuhkan kesadaran kebangsaan, yaitu suatu sikap yang meyakini bahwa tidak ada warga bangsa yang ingin keadaan menjadi bertambah buruk. Kita yakin semua elemen ingin agar masalah Pandemi segera dapat dikendalikan.

Dengan kesadaran itulah, kolaborasi masyarakat sipil, seharusnya dibangun dan digerakkan menjadi lokomotif dalam mengatasi masalah pandemi. Kolaborasi yang dibutuhkan meliputi: (1) saling bantu, dan menghimpun bantuan untuk menolong yang ada dalam kesulitan – langkah saling bantu membutuhkan sikap saling percaya yang kuat; (2) saling mengedukasi, dalam rangka membangun ruang publik yang lebih sehat, yang tidak dibanjiri oleh hoaks, melainkan oleh pengetahuan yang membantu mengendalikan penyebaran virus; dan (3) saling bekerja sama, untuk melahirkan tata hidup baru, terutama pasca Pandemi, agar hidup bersama kita sebagai bangsa lebih mampu dalam menghadapi situasi sulit seperti Pandemi.

Sangat diharapkan kaum terpelajar, organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan dan sosial keagamaan, dapat tampil mengambil inisiatif, dalam membangun kolaborasi tersebut. Kaum terpelajar sangat dinantikan kemampuannya dalam membentuk jalan pikiran yang sehat bagi publik dalam berinteraksi. Selain itu, kaum terpelajar perlu merumuskan kurikulum edukasi, yang dalam prosesnya melibatkan publik. Organisasi atau kelompok sosial kemasyarakatan dan keagamaan, punya peran strategis dalam membangun komunikasi publik yang dilambari semangat kebersamaan dan keberagaman.

Suatu ruang dialog publik, layaknya dewan kota, mungkin baik untuk dipikirkan format kehadirannya. Tentu yang dimaksud bukan jenis tandingan pada institusi formal yang ada, melainkan lebih sebagai pelengkap, terutama agar terbangun ruang dialog yang sehat, dan mampu menjadi jembatan dalam mengatasi hal yang tidak dapat diselesaikan dengan jalan konvensional. Ruang tersebut akan lebih dimungkinkan dengan teknologi. Dan hal ini bisa jadi merupakan tantangan bagi generasi milenial yang melek teknologi, untuk menciptakan teknologi yang mampu menghadirkan ruang (virtual) bersama yang dimaksud. Jika dimungkinkan, kolaborasi masyarakat akan menemukan format dan cara yang baru, serta mampu menjadi kekuatan baru dalam mengatasi Pandemi. (*)

TerkaitBerita

PERKUAT KELUARGA: Dari kiri, Bendahara Umum Sari Yuliati, Ketum Golkar Bahlil Lahadalia, dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Adies Kadir dalam satu momentum kegiatan partai. (Foto Ilustrasi: memoindonsia.co.id)
Opini

Fakta di Balik Program ”Stimulan” Perumahan Swadaya

oleh Editor : Memoarto
11 Mei 2026
Arsitektur Baru Keadilan Pajak
Opini

Arsitektur Baru Keadilan Pajak

oleh Editor : Anggoro
6 Mei 2026
Pendidikan Bermutu untuk Semua bukan Sekadar Sekolah
Opini

Pendidikan Bermutu untuk Semua bukan Sekadar Sekolah

oleh Editor : Anggoro
5 Mei 2026
DUET PAS: Ketua Umum Partai Golkar periode 2024-2029 Bahlil Lahadalia (kanan) dan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji. (Foto Ilustrasi: dok/dpppartaigolkarofficial.com)
Opini

Bahlil Arsitek, Sarmuji Eksekutor

oleh Editor : Memoarto
27 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bank Jakarta

Direkomendasikan

DUEL SENGIT: Christopher Nkunku mengeksekusi penalti ke gawang Genoa pada Minggu (17/5/2026) (Foto Ilustrasi: (c) AC Milan Official)

Cagliari Mati-matian Hadapi AC Milan di San Siro

24 Mei 2026
TERLIBAT KETEGANGAN: Sebuah kapal coast guard Jepang (bawah) saling semprot air dengan kapal coast guard Taiwan yang mengawal puluhan kapal nelayan Taiwan berlayar melewati perairan dekat pulau sengketa di Laut China. (Foto Ilustrasi: Reuters)

Kapal Taiwan dan China Bersitegang di Pulau Pratas

24 Mei 2026
Waspada Pola Makan Pemicu Kanker, Ini Daftar Makanan yang Perlu Dibatasi

Waspada Pola Makan Pemicu Kanker, Ini Daftar Makanan yang Perlu Dibatasi

24 Mei 2026
Harga Tiket Pesawat Naik, Industri Pariwisata Sulsel Mulai Tertekan

Harga Tiket Pesawat Naik, Industri Pariwisata Sulsel Mulai Tertekan

24 Mei 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    3225 shares
    Share 1290 Tweet 806
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    371 shares
    Share 148 Tweet 93
  • Bocoran iPhone 18 Pro Max: Desain Baru, Performa Monster, dan Kamera Ala DSLR

    316 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Bekasi Kota Beracun Kedua di Dunia, Hasilkan 6,3 Ton Emisi Metana  

    366 shares
    Share 146 Tweet 92
  • All New Honda BeAT 125 NX Resmi Meluncur, Kini Lebih Bertenaga dan Stylish

    316 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya