Koranindopos.com – Jakarta – Pasar aset kripto kembali mengalami volatilitas tinggi pada pekan kedua Juli 2026. Setelah sempat mencatatkan kenaikan lebih dari 6 persen di awal bulan berkat meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat, Bitcoin kembali terkoreksi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan bahwa pergerakan harga aset kripto saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan geopolitik dibandingkan kondisi fundamental industri kripto itu sendiri.
Menurutnya, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu perubahan sentimen investor global sehingga mendorong aksi pengurangan risiko (risk-off), yang berdampak pada pelemahan harga Bitcoin maupun aset kripto lainnya.
“Kenaikan Bitcoin di awal Juli sempat memunculkan optimisme bahwa pasar memasuki fase pemulihan. Namun, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mengingatkan kita bahwa aset kripto tetap menjadi bagian dari pasar keuangan global yang sensitif terhadap perubahan sentimen risiko. Investor perlu memahami bahwa volatilitas saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal dibandingkan fundamental industri kripto,” ujar Yudhono.
Pada awal Juli 2026, Bitcoin sempat bangkit dari level sekitar US$58.278 dan menguat hingga US$64.034 hanya dalam waktu kurang dari sepekan.
Kenaikan tersebut dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan pasar, sehingga memunculkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai mengurangi kebijakan moneter ketat atau menahan kenaikan suku bunga.
Meski demikian, Yudhono menilai pasar masih berada dalam fase penuh ketidakpastian karena peluang suku bunga tinggi tetap dipertahankan masih terbuka.
“Data ekonomi yang lebih lemah memang membuka ruang bagi ekspektasi penurunan tekanan suku bunga. Namun pasar masih berada dalam fase wait and see. Investor sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa tren bullish telah kembali hanya berdasarkan pergerakan harga dalam beberapa hari,” jelasnya.
Optimisme tersebut tidak bertahan lama setelah meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor global kembali memburu aset-aset yang dinilai lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah, sehingga aset berisiko termasuk kripto mengalami tekanan jual.
Selain itu, konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dinilai dapat mempersempit ruang bagi Federal Reserve untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Tidak hanya Bitcoin, sejumlah aset kripto dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil juga mengalami tekanan lebih besar.
Beberapa altcoin seperti Solana (SOL), JUP, ETHFI, hingga PUMP mencatatkan koreksi signifikan seiring meningkatnya aksi jual investor.
Menurut FLOQ, kondisi tersebut merupakan pola yang umum terjadi ketika pasar memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset dengan tingkat risiko yang lebih tinggi.
Di balik tingginya volatilitas, FLOQ melihat sejumlah indikator yang memberikan harapan terhadap prospek jangka menengah industri kripto.
Salah satunya adalah kembali masuknya dana investasi (inflow) ke ETF Bitcoin di Amerika Serikat setelah sebelumnya mengalami arus keluar cukup besar sepanjang Juni.
Selain itu, data on-chain juga menunjukkan adanya peningkatan akumulasi Bitcoin di kisaran harga US$59.000, yang mengindikasikan investor jangka panjang mulai kembali melakukan pembelian.
“Kami melihat adanya sinyal akumulasi dari investor jangka panjang dan mulai pulihnya minat institusi melalui ETF Bitcoin. Namun sinyal tersebut masih memerlukan konfirmasi yang lebih kuat sebelum dapat dianggap sebagai awal dari siklus bullish baru,” kata Yudhono.
Selain faktor ekonomi global, perkembangan regulasi di Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Pembahasan CLARITY Act, yang diharapkan memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital, hingga kini masih mengalami penundaan sehingga belum mampu menjadi katalis positif bagi pasar.
FLOQ menilai kepastian regulasi akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan investor institusi sekaligus mempercepat pertumbuhan industri aset digital secara global.
Menghadapi kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, FLOQ mengimbau investor untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan pergerakan harga jangka pendek.
Menurut Yudhono, strategi investasi yang konsisten seperti Dollar Cost Averaging (DCA) masih relevan diterapkan oleh investor jangka panjang selama dilakukan sesuai profil risiko masing-masing.
“Volatilitas merupakan bagian dari karakteristik pasar kripto. Yang terpenting bagi investor bukan mengejar setiap kenaikan harga, melainkan memiliki strategi investasi yang konsisten, disiplin, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing,” tutupnya.
Ke depan, FLOQ memperkirakan arah pasar kripto akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah agenda penting, mulai dari rilis data inflasi Amerika Serikat, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pembahasan regulasi aset digital di AS, hingga keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir Juli.
Sebagai platform perdagangan aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), FLOQ menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan investasi aset digital yang aman, transparan, dan mudah diakses masyarakat Indonesia, sekaligus meningkatkan literasi melalui berbagai program edukasi bagi investor.(dhil)










