Spesialis kedokteran olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, menegaskan bahwa Hyrox merupakan ajang olahraga dengan intensitas tinggi yang memadukan lari dan berbagai tantangan kebugaran. Oleh karena itu, peserta harus memiliki persiapan fisik yang memadai sebelum mengikuti kompetisi.
Menurut dr. Andi, yang juga bertugas sebagai Medical Lead Hyrox Jakarta 2026, banyak peserta belum memahami batas kemampuan tubuh mereka sehingga berisiko mengalami cedera selama perlombaan.
Hyrox merupakan kompetisi kebugaran yang mengombinasikan beberapa kilometer lari dengan serangkaian latihan fungsional seperti mendorong dan menarik sled, rowing, wall ball, burpee, hingga membawa beban.
Format tersebut menuntut kekuatan, daya tahan, kecepatan, serta kemampuan pemulihan tubuh dalam waktu singkat.
Artikel Terkait
“Hyrox bukan sekadar lomba lari atau latihan di pusat kebugaran biasa. Intensitasnya tinggi dan membutuhkan persiapan yang matang,” jelas dr. Andi.
Berdasarkan pengalamannya saat menangani peserta Hyrox Jakarta 2026, dr. Andi mengungkapkan bahwa kram otot menjadi keluhan paling sering dialami peserta.
Kondisi tersebut muncul di berbagai fase perlombaan, baik saat berlari maupun ketika menjalani tantangan fisik seperti mengangkat, mendorong, atau menarik beban.
Selain kram, tim medis juga menangani sejumlah kasus cedera lain yang lebih serius.
Dr. Andi mengungkapkan bahwa beberapa peserta mengalami kondisi medis yang membutuhkan penanganan cepat, mulai dari heat stroke atau sengatan panas hingga gangguan irama jantung (aritmia).
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa kompetisi dengan intensitas tinggi seperti Hyrox tidak boleh dianggap remeh, terutama oleh peserta yang belum memiliki kondisi fisik memadai.
Risiko akan semakin besar apabila seseorang memaksakan diri mengikuti perlombaan tanpa latihan yang cukup atau hanya karena ingin mengikuti tren yang sedang populer.
Fenomena FOMO dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat mencoba berbagai aktivitas olahraga ekstrem tanpa mempertimbangkan kesiapan tubuh.
Padahal, setiap orang memiliki kapasitas fisik yang berbeda sehingga program latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Sebelum mengikuti kompetisi seperti Hyrox, peserta disarankan menjalani latihan bertahap, memperbaiki kebugaran kardiovaskular, meningkatkan kekuatan otot, serta memastikan tubuh mendapat asupan nutrisi dan cairan yang cukup.
Para ahli menekankan bahwa olahraga berintensitas tinggi tetap dapat memberikan manfaat besar apabila dilakukan dengan persiapan yang benar.
Selain latihan rutin, peserta juga dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya.
Dengan memahami kemampuan tubuh dan mempersiapkan diri secara optimal, peserta tidak hanya dapat menikmati pengalaman berkompetisi, tetapi juga meminimalkan risiko cedera maupun gangguan kesehatan yang dapat mengancam keselamatan.
Seiring semakin populernya Hyrox di Indonesia, kesadaran akan pentingnya latihan yang terencana dan pengelolaan kondisi fisik diharapkan menjadi bagian utama dari budaya olahraga, sehingga tren kebugaran dapat berkembang secara sehat dan aman.(Dhil/dtk)










