Operasi penangkapan dilakukan dengan metode pengurangan debit air waduk terlebih dahulu. Setelah permukaan air surut, ikan sapu-sapu dijaring dari area pinggiran waduk. Hingga proses berlangsung, jumlah tangkapan telah mencapai sekitar 320 kilogram dan masih terus bertambah seiring berjalannya pengeringan waduk.
“Ikan yang sudah tertangkap akan dikumpulkan, ditimbang, lalu dimatikan sebelum dikubur,” ujar Munjirin di lokasi. Ia menjelaskan, metode pemusnahan dilakukan dengan membelah bagian kepala ikan terlebih dahulu, kemudian dikubur di lubang yang telah disiapkan.
Langkah ini dilakukan secara serentak di berbagai kecamatan di Jakarta Timur, meski saat ini operasi difokuskan di Waduk Kaja. Setelah dikubur, ikan-ikan tersebut juga disiram cairan disinfektan guna mencegah potensi dampak lingkungan lebih lanjut.
Menurut Munjirin, prosedur pemusnahan ini telah sesuai dengan rekomendasi dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP). Hal ini penting untuk memastikan penanganan spesies invasif dilakukan secara aman dan terkendali.
Sebelumnya, Pramono Anung menyatakan dukungannya terhadap upaya pengendalian ikan sapu-sapu secara masif di wilayah Jakarta. Ia menilai keberadaan ikan ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
“Ikan sapu-sapu bisa mengancam keberadaan ikan lokal seperti wader dan spesies lainnya jika dibiarkan,” ujarnya dalam kesempatan terpisah di Lapangan Banteng.
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang mampu berkembang biak dengan cepat dan mendominasi habitat perairan. Kehadirannya tidak hanya mengancam biodiversitas, tetapi juga berpotensi merusak kualitas lingkungan air.
Melalui operasi ini, Pemkot Jakarta Timur berharap dapat mengendalikan populasi ikan sapu-sapu sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem waduk dan sungai. Upaya ini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan dalam menjaga kualitas lingkungan hidup di wilayah ibu kota.(Dhil)










