Koranindopos.com – Jakarta. Bonus demografi menjadi peluang strategis bagi Indonesia, terutama karena tingginya jumlah penduduk usia produktif. Pemerintah telah menyiapkan langkah melalui berbagai kebijakan, salah satunya adalah memprioritaskan isu literasi dalam RPJMN 2020-2024. Kini, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) optimis bahwa prioritas literasi akan berlanjut hingga RPJMN 2025-2029, dengan fokus pada penguatan literasi keluarga.
Salah satu upaya yang digagas Perpusnas adalah mengintegrasikan literasi keluarga dengan program makan bergizi gratis. Program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan literasi, tetapi juga untuk mendukung kesehatan anak-anak dan ibu hamil atau menyusui. “Permasalahan stunting saat ini bukan hanya karena ekonomi, tapi juga kurangnya informasi dan pengetahuan,” kata Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Adin Bondar, dalam Seminar Nasional bertema “Membangun Keluarga yang Literat” pada Senin (7/10/2024). Menurutnya, banyak keluarga muda yang masih kurang memahami pola asupan gizi yang baik untuk anak-anak mereka.
Gerakan literasi ini penting dilakukan sejak dini, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan anak, yang merupakan masa krusial bagi perkembangan otak. Kegiatan seperti membacakan buku, bercerita, atau membaca nyaring diyakini dapat merangsang neuron otak dan mencegah penurunan fungsi otak. “Gerakan Literasi Keluarga ini akan kita sinergikan dengan program unggulan Presiden baru terpilih, sehingga literasi dan kesehatan anak serta ibu hamil bisa berjalan beriringan,” lanjut Adin.

Selain literasi dan kesehatan, perhatian terhadap penggunaan gawai oleh anak-anak juga menjadi sorotan. Forum Ekonomi Dunia pada 2016 memperingatkan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan dapat mempengaruhi minat anak terhadap buku. Untuk itu, Perpusnas telah memperluas akses bahan bacaan dengan menyalurkan buku bermutu dan rak pajang ke 10 ribu perpustakaan desa serta Taman Baca Masyarakat (TBM). Setiap perpustakaan mendapatkan 1.000 buku, sebagai upaya mendorong minat baca di kalangan masyarakat.
Selain itu, Perpusnas juga meluncurkan 10 juta konten buku digital yang dapat diakses melalui platform bintangpusnas.edu. Ini merupakan penguatan dari layanan digital sebelumnya, seperti iPusnas dan e-resource, yang telah membantu banyak masyarakat mendapatkan akses mudah ke buku-buku berkualitas.
Di sisi lain, Ketua Pengurus Pusat Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB), Herlina Mustikasari, mengakui bahwa masih banyak tantangan dalam memperkuat gerakan literasi di Indonesia. “Sebagai sebuah gerakan, GPMB masih perlu lebih aktif dalam meningkatkan minat baca masyarakat,” ujarnya. Ia berharap GPMB dapat melakukan lompatan progresif untuk memberdayakan literasi di berbagai lapisan masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, dan komunitas.
Pentingnya literasi keluarga juga ditegaskan oleh Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Adiyati Fathu Roshonah, yang menjelaskan urgensinya membangun budaya literasi di masyarakat. Ia merujuk pada riset psikolog sosial David McLaren, yang menunjukkan bahwa literasi anak-anak dapat mempengaruhi kemajuan bangsa. Menurutnya, negara seperti Inggris dapat terus berkembang karena anak-anaknya membaca buku-buku yang memotivasi mereka untuk berprestasi. Sebaliknya, Spanyol mengalami penurunan karena anak-anaknya lebih banyak membaca buku bertema romantis dan lagu-lagu sendu.
Nuradi Indrajaya, Founder Mata Aksara, juga menekankan pentingnya membangun minat baca sejak dini. Ia menyebutkan bahwa anak-anak yang sering dibacakan cerita oleh orang tua memiliki kecenderungan minat baca yang lebih tinggi di masa depan. “Pengalaman membaca yang dimulai dari rumah sangat berpengaruh pada perkembangan literasi anak,” tutupnya.
Dengan sinergi antara literasi dan kesehatan, pemerintah berharap Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi ini untuk menciptakan generasi muda yang cerdas dan sehat, serta mampu membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.










