Koranindopos.com, Jakarta – Gemuruh suara ribuan penonton memecah kesunyian malam di kawasan Gelora Bung Karno saat Padi Reborn naik ke atas panggung. Band rock alternatif legendaris yang terbentuk sejak tahun 1997 ini sukses menggelar konser tunggal bertajuk “Dua Delapan” di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (31/1/2026) malam. Pertunjukan ini bukan sekadar konser biasa, melainkan sebuah monumen perjalanan 28 tahun karier mereka di industri musik Tanah Air.
Momen ini menjadi sangat sakral karena menandai kebangkitan penuh grup musik asal Surabaya tersebut. Setelah sempat vakum panjang selama delapan tahun dari panggung berskala besar, Padi Reborn membuktikan bahwa taji mereka belum tumpul. Konser ini dirancang sebagai kronik perjalanan rasa bagi para Sobat Padi yang telah setia menanti kembalinya sang idola ke panggung megah dengan produksi yang digarap secara serius.
Grup yang digawangi oleh Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Yoyo (drum), dan Rindra (bass) membuka malam tersebut dengan lagu “Prolog”. Begitu melodi pertama terdengar, energi penonton langsung meledak, menciptakan atmosfer yang sangat elektrik. Tanpa memberi jeda untuk bernapas, Padi langsung menyambungnya dengan deretan hits populer seperti “Bayangkanlah”, “Menanti Sebuah Jawaban”, dan “Sang Penghibur” yang membuat seisi arena bernyanyi bersama.
Sepanjang pertunjukan, interaksi antara personel dan penonton terasa begitu hangat dan personal. Fadly, sang vokalis, berkali-kali menunjukkan apresiasinya kepada para penggemar yang tetap bertahan melintasi dekade. Suasana berubah menjadi panggung karaoke raksasa ketika lagu-lagu lawas penuh memori seperti “Lingkaran”, “Semua Tak Sama”, “Seperti Kekasihku”, hingga “Ternyata Cinta” dibawakan dengan aransemen yang apik.

Tak hanya mengandalkan formasi orisinal, Padi Reborn juga memberikan kejutan lewat kolaborasi lintas generasi. Musisi perempuan Fanny Soegi dihadirkan ke atas panggung untuk membawakan lagu “Langit Biru” dengan nuansa yang lebih lembut dan intim. Kehadiran Fanny memberikan warna baru sebelum ia membawakan lagu solonya “Asmalibrasi”, dan kemudian estafet panggung dikembalikan kepada Padi Reborn lewat lagu “Beginikah Rasanya”.
Selain Fanny Soegi, Padi juga memberi kejutan dengan menghadirkan Sal Priadi yang membawakan “Rapuh” dilanjutkan dengan hit miliknya “Gala Bunga Matahari”.
Nuansa pembaruan juga terasa kuat dengan diperkenalkannya materi dari album terbaru mereka yang juga bertajuk Dua Delapan. Lagu-lagu baru seperti “Ego” dan “Haru Biru” dibawakan di depan publik untuk menunjukkan bahwa Padi Reborn tetap relevan dan terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.
Sebanyak 25 lagu dibawakan malam itu, merangkum perjalanan emosional dari masa ke masa dalam satu panggung yang megah.
Keberhasilan konser ini pun menuai pujian dari para penonton yang hadir memadati area. Salah satu penggemar setia, Gunawan, mengaku terkesima dengan alur lagu yang disajikan sejak awal pertunjukan.
”Suasana nostalgianya terasa banget. Terutama saat lagu-lagu legendaris Padi dibawakan di awal,” ungkap Sobat Padi asal Bekasi itu.
Di sisi lain, konser ini juga membuktikan bahwa musik Padi Reborn memiliki daya pikat lintas generasi. Nadira, seorang penonton muda, mengaku mengenal karya-karya band ini melalui referensi keluarga, namun ia menemukan koneksi pribadi yang kuat saat mendengarkannya secara langsung malam itu.
”Gue ngerasa Padi itu band yang nemuin kita di usia yang tepat. Dulu dengarnya dari orang tua, sekarang gue nyanyi sendiri. Rasanya tetap kena,” ujar Nadira Sobat Padi asal Serpong.
Selain dari sisi musikalitas, aspek visual dan teknis konser “Dua Delapan” juga menjadi sorotan utama. Penggunaan konsep panggung 360 derajat memberikan pengalaman menonton yang berbeda bagi audiens di setiap sudut tribun maupun festival. Ira, seorang Sobat Padi yang sengaja datang jauh dari Tangerang Selatan, memberikan apresiasi tinggi terhadap tata panggung tersebut.
”Panggungnya keren, tata lampunya juga atraktif banget,” kata dia.
Menjelang akhir acara, rentetan hits seperti “Sesuatu Yang Indah” mengalun bergantian dan disambut dengan koor panjang dari penonton. Konser ini menjadi bukti sahih bahwa Padi Reborn masih berdiri tegak sebagai ikon penting dalam sejarah musik Indonesia. Perayaan 28 tahun ini tidak hanya mengobati kerinduan, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antara Padi Reborn dan penggemarnya dalam sebuah pertemuan keluarga besar yang tak terlupakan. (Brg/Kul)










