Koranindopos.com, Jakarta – Film horor Indonesia terbaru Pemikat Jiwa tidak hanya menghadirkan teror lewat cerita pelet, obsesi, dan sosok gaib. Film arahan Dom Dharmo ini juga menawarkan pendekatan berbeda dari sisi musik, dengan menghadirkan scoring dan soundtrack yang bergerak dari bunyi-bunyi populer yang dekat dengan masyarakat hari ini.
Di tengah banyaknya penonton yang mulai pesimis dengan formula film horor Indonesia yang terasa usang dan berulang, Pemikat Jiwa hadir dengan tawaran yang lebih segar dan berani.
Film ini tidak hanya bermain di wilayah visual menyeramkan atau jump scare,
tetapi juga membangun atmosfer lewat bahasa bunyi yang terasa lebih hidup, lebih rakyat, dan lebih dekat dengan telinga penonton Indonesia.
Salah satu elemen yang ikut mencuri perhatian adalah penggunaan sound horeg sebagai bagian dari pendekatan musikal film. Selama ini, film horor Indonesia kerap lekat dengan nuansa tradisional, tembang lama, atau suara-suara mistis yang sudah sering digunakan.
Pemikat Jiwa mencoba bergerak ke arah berbeda dengan membawa warna bunyi yang lebih kontemporer, lebih populer, dan lebih mengakar dalam budaya masyarakat hari ini, terutama di Jawa.
Di tangan Popo Hanoto sebagai music composer, scoring Pemikat Jiwa sengaja
dibangun dari berbagai mood dan warna musik seperti hipdut, break-beat sound horeg, hingga pop rock Melayu.
Perpaduan ini memberi karakter bunyi yang unik bagi film, karena teror tidak hanya datang dari senyap, suara aneh, atau dentuman klasik horor, tetapi
juga dari energi musik yang selama ini hidup di ruang-ruang masyarakat.
Melalui pendekatan ini, Pemikat Jiwa bisa dibaca sebagai salah satu upaya membawa horor Indonesia ke wilayah yang lebih segar, bahkan sebagai bagian dari new wave modern horror cinema lokal. Film ini tidak hanya memanfaatkan tema pelet sebagai elemen mistis, tetapi juga membangun dunianya lewat bunyi-bunyi yang terasa tumbuh dari
masyarakat sendiri.
Selain kekuatan musikalnya, Pemikat Jiwa tetap berdiri sebagai film horor yang
mengangkat konflik obsesi, manipulasi, dan jalan gelap demi memaksa cinta.
Film ini mengikuti bagaimana rasa yang tidak diterima dengan sehat dapat berubah menjadi teror, ketika seseorang memilih cara gaib untuk memiliki orang lain.
Dengan pendekatan musik yang berani dan dekat dengan budaya populer masyarakat, Pemikat Jiwa hadir bukan hanya sebagai film horor tentang pelet, tetapi juga sebagai tawaran baru dalam cara horor Indonesia bisa terdengar.
Terornya tidak hanya dilihat, tetapi
juga dirasakan lewat bunyi yang akrab, keras, hidup, dan mengganggu.
Pemikat Jiwa diproduseri oleh Shanker R.S dan Rama Tribudiman sebagai Executive Producer. Film ini diproduksi oleh Makara Production yang berkolaborasi dengan NUSA Indonesia Bercerita, Jupiter, Salembe, AZ Film dan SHOW Token.
Film ini juga menghadirkan Nuugro Agung sebagai penulis sekaligus penggagas ide cerita. (BRG/Kul)










