Koranindopos.com, Jakarta – Nama Dewi Lestari selama hampir dua dekade terakhir lebih sering dikaitkan dengan dunia literasi. Lewat berbagai novel yang sukses di pasaran, perempuan yang akrab disapa Dee itu dikenal sebagai salah satu penulis paling produktif di Indonesia.
Namun di tengah kesibukannya menulis, ada satu sisi dalam dirinya yang ternyata terus memanggil untuk kembali hadir, yakni musik. Kerinduan itulah yang akhirnya diwujudkan melalui album terbaru bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta.
Album tersebut menjadi penanda kembalinya Dee ke format album penuh setelah sekitar 18 tahun tidak merilis karya serupa. Keputusan itu bukan sesuatu yang lahir secara tiba-tiba, melainkan hasil pemikiran yang telah berlangsung cukup lama.
“Sebetulnya niatan untuk kembali bermusik itu sudah cukup lama. Bahkan ketika almarhum suami saya, Reza Gunawan, masih ada. Kami sempat diskusi tentang album,” katanya saat ditemui di Jakarta Selatan, 3 Juni 2026.
Menurut Dee, Reza menjadi salah satu sosok yang selalu mengingatkannya bahwa musik merupakan bagian penting dari perjalanan hidup dan identitasnya sebagai seniman. Di tengah kesibukan menulis buku, sisi musikal tersebut sempat berada di belakang.
Hal itu terlihat dari jumlah karya yang dihasilkannya dalam kurun waktu hampir dua dekade terakhir. Selama 18 tahun, Dee telah menerbitkan 18 buku, sementara album solo yang dirilis hanya dua.
“Perbandingannya mencolok sekali bukan?” katanya.
Meski keinginan untuk kembali bermusik sudah lama muncul, Dee mengakui sempat dilanda keraguan. Industri musik saat ini dinilainya sangat berbeda dibandingkan masa ketika ia aktif merilis album pada era sebelumnya.
Perubahan pola konsumsi musik hingga perkembangan teknologi membuatnya harus beradaptasi dengan kondisi yang jauh berbeda dari yang pernah ia kenal.
“Saya ini kan orang jadul ya. Saya bahkan masih mengalami yang namanya rekaman pakai pita. Kalau industri yang dulu saya paham sekali seluk beluknya. Tapi industri musik hari ini saya enggak terlalu paham,” katanya.
Keraguan tersebut tidak membuatnya berhenti berkarya. Sebelum album (Jangan) Jatuh Cinta rampung, Dee bahkan telah mengumpulkan lebih dari 20 lagu ciptaannya. Dari puluhan lagu itu, delapan karya akhirnya dipilih masuk ke album.
Di tengah tren musisi yang lebih sering merilis single, Dee justru tetap mempertahankan pendekatan yang menurutnya paling sesuai dengan dirinya, yaitu album penuh.
“Karena saya orang jadul yang lebih memilih bikin album. Saya bingung kenapa orang bikin single-single gitu. Stok lagu gue banyak cuy!” imbuhnya.
Melalui album ketiganya ini, Dee bukan sekadar merilis kumpulan lagu baru. Album tersebut juga menjadi bentuk kembalinya seorang seniman yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penulis, untuk menyapa kembali dunia musik yang pernah membesarkan namanya. (BRG/Kul)










