koranindopos.com – Jakarta. Perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk mengajukan permohonan ambisius untuk meluncurkan hingga satu juta satelit ke orbit Bumi. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya memenuhi lonjakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang terus meningkat secara global.
Dalam dokumen yang diajukan kepada Komisi Komunikasi Federal (Federal Communications Commission/FCC) Amerika Serikat pada Jumat lalu, SpaceX memperkenalkan konsep baru yang mereka sebut sebagai orbital data centers atau pusat data orbital. Menurut SpaceX, sistem ini berpotensi menjadi solusi paling hemat biaya dan energi untuk menopang kebutuhan daya komputasi AI di masa depan, seperti dikutip detik.com dari BBC, Senin (2/2/2026).
Selama ini, pusat data konvensional beroperasi di Bumi dalam bentuk gudang berskala besar yang dipenuhi komputer berkinerja tinggi untuk memproses dan menyimpan data. Namun SpaceX menilai pertumbuhan pesat teknologi AI telah mendorong permintaan komputasi melampaui kapasitas infrastruktur terestrial yang ada saat ini.
Dengan menempatkan pusat data di orbit, SpaceX berargumen bahwa sistem tersebut dapat memanfaatkan energi matahari secara lebih optimal, mengurangi ketergantungan pada sumber listrik di Bumi, serta menekan biaya pendinginan yang selama ini menjadi tantangan utama pusat data konvensional.
Meski demikian, rencana peluncuran satelit dalam jumlah sangat besar ini memunculkan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran, mulai dari kepadatan orbit Bumi, risiko sampah antariksa, hingga dampaknya terhadap astronomi dan lingkungan luar angkasa. FCC diperkirakan akan melakukan kajian mendalam sebelum memberikan persetujuan terhadap proposal tersebut.
Jika disetujui, proyek ini akan menjadi salah satu inisiatif paling radikal dalam sejarah infrastruktur digital global, sekaligus memperkuat posisi SpaceX dan Elon Musk dalam perlombaan teknologi AI dan ekonomi berbasis data di masa depan.(dtk/afy)










