Koranindopos.com – JAKARTA — Teater Satu Lampung akan mementaskan Musyawarah Burung, karya klasik Fariduddin Attar, pada 14 dan 15 September 2026 di Taman Budaya Provinsi Lampung.
Pertunjukan yang dijadwalkan berlangsung pukul 15.30-17.40 WIB tersebut merupakan tafsir kontekstual atas karya sastra klasik Persia yang sarat dengan tradisi spiritual atau sufisme.
Naskah Musyawarah Burung ditafsirkan oleh Iswadi Pratama, yang sekaligus bertindak sebagai penulis dan sutradara pertunjukan. Ia mengaku membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk mempelajari dan memahami karya alegoris tersebut.
“Saya membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mempelajari dan memahami novel bergaya alegoris itu,” kata Iswadi.
Menurut Iswadi, Musyawarah Burung merupakan alegori mengenai perjalanan manusia dalam menemukan kesejatian diri sekaligus hakikat kebenaran.
Dalam kisah tersebut, sekumpulan burung melakukan perjalanan untuk mencari Simurgh, sosok yang dikenal sebagai Raja Burung.
Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi kisah pencarian secara harfiah. Bagi Iswadi, perjalanan para burung merupakan refleksi atas berbagai kecenderungan sifat manusia.
Sifat-sifat tersebut kemudian memengaruhi cara manusia memandang realitas sekaligus menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupannya.
Iswadi melihat gagasan tersebut masih memiliki relevansi kuat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
“Saya melihat masalah utama masyarakat di era sekarang adalah kehilangan pusat nilai di dalam dirinya. Dalam hal inilah saya menemukan relevansi antara novel tersebut dengan kenyataan zaman di mana kita hidup sekarang. Hidup manusia seperti kehilangan pusat gravitasi; melayang-layang tak tentu arah terbawa arus zaman yang tak dapat dikendalikan,” ujarnya.
Melalui pertunjukan tersebut, Teater Satu berusaha membawa kembali persoalan spiritualisme ke dalam ruang teater sekaligus menghubungkannya dengan persoalan sosial kontemporer.
Pertunjukan Musyawarah Burung akan dimainkan oleh 14 aktor.
Masing-masing aktor akan memerankan karakter ganda sebagai burung sekaligus sebagai seorang penempuh perjalanan.
Konsep tersebut membuat para pemain harus memiliki kesiapan fisik dan kemampuan artistik yang memadai untuk mengikuti tuntutan pertunjukan.
Pimpinan produksi, Wika, mengatakan para aktor telah menjalani proses pelatihan fisik selama sekitar enam bulan.
“Para aktor selama enam bulan digembleng secara fisik agar memiliki stamina dan keterampilan yang memadai sehingga bisa meladeni tuntutan artistik yang diberikan sutradara,” kata Wika.
Proses persiapan panjang tersebut menjadi bagian dari upaya Teater Satu menerjemahkan teks alegoris Fariduddin Attar ke dalam bentuk pertunjukan panggung.
Wika mengatakan pemilihan Musyawarah Burung sebagai teks pertunjukan didorong oleh semakin jarangnya karya teater yang mengangkat isu spiritualisme sekaligus menghadirkan kritik sosial secara tajam.
Menurutnya, karya Fariduddin Attar memiliki muatan yang tetap relevan meskipun ditulis dalam konteks Persia pada abad ke-12 hingga ke-13 Masehi.
“Salah seorang sutradara dunia yang pernah memainkan teks Musyawarah Burung adalah Peter Brook, itu terjadi pada kisaran tahun 1975-1979,” ujar Wika.
Di Indonesia, sejumlah seniman juga pernah mengangkat kisah tersebut ke dalam pertunjukan. Namun, menurut Wika, jumlahnya masih relatif terbatas.
Ia menilai gagasan yang terkandung dalam teks tersebut justru semakin relevan dengan berbagai persoalan masyarakat masa kini.
Karena itu, pertunjukan Teater Satu tidak hanya berupaya menghidupkan kembali karya klasik, tetapi juga menghadirkan pembacaan baru terhadap persoalan manusia dan masyarakat melalui perspektif kontemporer.
Dalam produksi kali ini, Teater Satu Lampung juga berkolaborasi dengan sejumlah seniman dari berbagai daerah.
Pertunjukan melibatkan para musisi dari Lampung serta videografer dan filmmaker dari Yogyakarta.
Kolaborasi lintas bidang tersebut menjadi bagian dari pendekatan artistik pertunjukan untuk mempertemukan teater, musik, dan elemen visual dalam menerjemahkan perjalanan para burung menuju Simurgh.
Setelah dipentaskan di Lampung, Musyawarah Burung juga akan dibawa ke Jakarta.
Pertunjukan dijadwalkan berlangsung di Teater Black Box Salihara pada 19-20 September 2026.
“Untuk pertunjukan di Lampung, kami di-support oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. Sedangkan pertunjukan di Jakarta kami bekerja sama dengan komunitas Salihara,” ujar Wika.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan di Lampung, kursi yang tersedia saat ini disebut hanya tersisa untuk pertunjukan pada 15 September 2026.
Sementara itu, tiket untuk pertunjukan di Teater Black Box Salihara, Jakarta, dapat diperoleh mulai 4 September 2026.
Melalui pementasan Musyawarah Burung, Teater Satu Lampung mengajak penonton melihat kembali perjalanan manusia dalam mencari arah, mengenali dirinya, dan memahami tujuan hidup.
Karya klasik yang lahir dari tradisi sufisme Persia tersebut dihadirkan kembali bukan sekadar sebagai cerita perjalanan sekumpulan burung, tetapi sebagai refleksi mengenai manusia yang berusaha menemukan pusat nilai di tengah perubahan zaman.(dhil)









