Koranindopos.com – Jakarta. Veda Praxis terus mengukuhkan langkahnya sebagai pemain kunci dalam mendorong pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang beretika di kawasan Asia Tenggara. Bertepatan dengan dua dekade eksistensinya, perusahaan konsultan ini semakin serius memperkuat pijakan di bidang tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan dalam penerapan teknologi AI melalui berbagai inisiatif kolaboratif dan riset lintas negara.
Salah satu wujud konkret komitmen tersebut terlihat lewat penyelenggaraan AI Friday, sebuah sesi internal yang berlangsung pada Jumat, 18 Juli 2025. Dalam forum itu, Veda Praxis menghadirkan Duy Nguyen dan Thang Mai sebagai perwakilan dari laboratorium AI mereka di Hanoi, Vietnam, serta Marek Kosmowski selaku Chief of International Veda Praxis. Forum ini menjadi ajang strategis untuk memperdalam pemahaman para konsultan mengenai peluang dan tantangan AI, termasuk perihal risiko, etika, hingga perkembangan regulasi di ranah teknologi yang terus bergerak cepat.
CEO Veda Praxis, Syahraki Syahrir, menegaskan pentingnya kerangka kerja yang kokoh untuk menghadapi transformasi digital yang kian masif.
“Kami percaya, di balik inovasi AI harus ada fondasi tata kelola yang kuat. Veda Praxis berkomitmen untuk memastikan AI dikembangkan dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab, termasuk mendukung arah kebijakan pemerintah Indonesia seperti pedoman AI dari OJK yang baru dirilis,” ujarnya.

Tak sekadar mengedepankan inovasi, Veda Praxis juga telah memperluas ekosistem risetnya dengan membangun AI Lab di Hanoi, Vietnam, yang menjadi pusat pengembangan teknologi AI berlandaskan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Laboratorium ini melengkapi fasilitas penelitian mereka sebelumnya di bidang keamanan siber yang telah hadir di Indonesia dan Ho Chi Minh City.
Langkah ini juga diperkuat dengan keberadaan pakar-pakar Veda Praxis yang telah mengantongi sertifikasi ISO 42001, sebuah standar internasional untuk tata kelola AI. Para pakar ini aktif mendampingi berbagai organisasi dalam merancang dan memperkuat kerangka GRC (governance, risk, compliance), agar implementasi AI yang mereka jalankan tetap aman dan sesuai regulasi.
Tidak berhenti di riset, Veda Praxis secara rutin menerbitkan berbagai publikasi dan menyelenggarakan program edukasi untuk memperkaya wawasan klien dan mitra mengenai penerapan AI yang bertanggung jawab. “Kami ingin memastikan organisasi-organisasi di Asia Tenggara dapat memanfaatkan potensi AI secara optimal tanpa mengabaikan aspek tata kelola dan manajemen risiko,” tambah Syahraki.
Melalui semua upaya ini, Veda Praxis menegaskan perannya sebagai mitra transformasi digital yang tak hanya mengejar kecanggihan teknologi, tetapi juga menjunjung tinggi keberlanjutan, etika, dan integritas di tengah laju perkembangan AI yang kian pesat.










