koranindopos.com – Jakarta. Kementerian Sosial (Kemensos) resmi membuka tahun ajaran baru Sekolah Rakyat (SR) 2025/2026 dengan menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin, 14 Juli 2025. Acara pembukaan digelar di Sekolah Rakyat Sentra Terpadu Inten Suweno, Cibinong, Kabupaten Bogor, dan dihadiri langsung oleh Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Gus Ipul mengungkapkan bahwa pada tahun ajaran ini, Kemensos akan membuka 100 Sekolah Rakyat dalam dua tahap. Untuk tahap pertama, 63 titik operasional telah dibuka secara serentak pada 14 Juli 2025, yang mencakup 6.130 siswa di berbagai jenjang pendidikan.
“Ada 63 titik operasional per 14 Juli ini, ada 256 rombel (rombongan belajar). Kemudian ada lebih dari 6.000 siswa, terdiri dari 3 rombel SD, 112 rombel SMP, dan 141 rombel SMA,” ujar Gus Ipul dalam sambutannya.
Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan alternatif dari Kemensos yang bertujuan menjangkau kelompok rentan dan marjinal, seperti anak-anak dari keluarga miskin, anak terlantar, maupun anak yang putus sekolah. Sekolah ini memberikan pendidikan dasar hingga menengah secara gratis, berbasis komunitas, dan menyatu dengan sentra layanan sosial milik Kemensos.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini akan berlangsung selama dua minggu, dengan fokus pada penanaman nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, penguatan karakter, dan pengenalan terhadap lingkungan sosial sekitar.
Gus Ipul menekankan bahwa selain pendidikan formal, Sekolah Rakyat juga mengedepankan pendidikan berbasis empati dan integritas, agar siswa tak hanya cerdas secara akademis tetapi juga tangguh menghadapi tantangan kehidupan.
“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak yang selama ini terpinggirkan punya kesempatan yang sama untuk sukses melalui pendidikan. Di Sekolah Rakyat, mereka diajarkan tidak hanya pengetahuan, tapi juga nilai kemanusiaan dan sosial,” katanya.
Dalam rencana pengembangannya, Kemensos menargetkan akan membuka total 100 titik Sekolah Rakyat hingga akhir tahun 2025. Pembukaan tahap kedua direncanakan berlangsung pada semester berikutnya, dengan tetap mengutamakan lokasi-lokasi yang minim akses pendidikan formal.
Dengan terus berkembangnya Sekolah Rakyat, Gus Ipul berharap program ini dapat menjadi jembatan bagi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan hak pendidikan yang layak dan setara.
“Anak-anak ini masa depan bangsa. Tugas kita memastikan mereka tidak tertinggal hanya karena keadaan sosial ekonomi,” tegasnya.(dhil)










