Koranindopos.com – Jakarta. Ada Pelangi si gadis kecil berusia 12 tahun, Banyu sang ayah yang penuh luka masa lalu, serta Pratiwi sang ibu yang misterius meninggalkan jejak di planet Mars. Mereka adalah tiga karakter utama dalam film fiksi ilmiah terbaru bertajuk Pelangi di Mars.
Tak kalah mencuri perhatian, hadir pula jajaran robot unik yang menemani perjalanan Pelangi, mulai dari Batik robot bercorak budaya Indonesia, Kimci si robot dengan cita rasa Korea, Petya yang kental dengan nuansa Rusia, hingga Yoman yang membawa warna Jamaika. Semua karakter ini dirajut dalam kisah tentang harapan manusia saat bumi menghadapi kehancuran.
Disutradarai oleh Upie Guava, Pelangi di Mars tak hanya sekadar film petualangan biasa. Ia adalah visi besar tentang masa depan, tentang bagaimana anak manusia dan mesin bisa berkolaborasi demi menyelamatkan peradaban. Film ini mengambil latar tahun 2090 ketika bumi menghadapi krisis air bersih akibat keserakahan korporasi raksasa bernama Nerotex. Ketika kondisi di bumi semakin genting, harapan justru lahir dari Mars, tempat Pelangi menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh besar di sana.
“Saya ingin ada kisah orang Indonesia yang hidup di Mars, menjelajahi planet itu bersama robot-robotnya,” ujar Upie Guava dalam konferensi pers di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (17/7/2025). Ia menyebut ide ini sudah terpikir sejak tahun 2020, namun baru terealisasi ketika Mahakarya Pictures bersedia bergandengan tangan untuk mewujudkannya.

Tidak tanggung-tanggung, Upie menggunakan teknologi canggih seperti XR (Extended Reality) dan motion capture untuk memadukan live action dengan animasi. Selama dua minggu penuh, proses motion capture dilakukan, diikuti dengan syuting live action selama 14 hari. “Teknologi XR, motion capture, semua kami pakai untuk menciptakan grafis robot yang nyata,” imbuh Upie.
Robot-robot yang menjadi teman Pelangi tak sekadar karakter tempelan. Masing-masing dirancang dengan identitas budaya yang kuat. Batik, misalnya, adalah representasi kebanggaan Indonesia dengan motif-motif tradisional yang melekat di tubuhnya.
Ada pula Kimci yang mencerminkan budaya Korea, Petya dari Rusia, serta Yoman dengan semangat Jamaika. Mereka bukan hanya rekan perjalanan, tetapi juga simbol keberagaman dunia yang bersatu dalam misi mulia.
Peran Pelangi dipercayakan kepada Messi Gusti, yang sejak awal sudah mencuri hati sang sutradara. “Begitu ketemu Messi, saya langsung tahu dia yang cocok jadi Pelangi. Ini sudah jodohnya,” kata Upie.
Sementara itu, Lutesha berperan sebagai Pratiwi sang ibu, dan Rio Dewanto memerankan Banyu sang ayah.
Pengalaman menggunakan teknologi XR menjadi tantangan baru bagi para aktor. Lutesha mengaku harus banyak berimajinasi lantaran syuting dilakukan di studio dengan bantuan teknologi virtual.
“Hasil akhirnya jauh berbeda dengan bayangan saat syuting. Tapi ternyata keren banget, bikin bangga,” kata Lutesha.
Rio Dewanto pun berbagi pengalaman serupa, terutama ketika harus mengenakan kostum astronaut yang berat dan membuat gerah.
“Ada kipas di dalam baju, tapi malah jadi berisik, susah dengar orang ngomong,” ujarnya sambil tertawa.
Film ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Direktur Utama PFN, Ifan Seventeen, hingga Raffi Ahmad sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Generasi Muda dan Pekerja Seni ikut membantu mengawal produksi film ini. Bahkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif turut memberikan support untuk memperkuat industri film lokal agar bisa unjuk gigi di kancah global.
Produser Mahakarya Pictures, Dendi Reynando, mengaku langsung jatuh hati pada gagasan film ini. Sebagai ayah tiga anak, ia melihat pentingnya menghadirkan tontonan keluarga berkualitas asal Indonesia.
“Masa depan peradaban ada di tangan anak-anak. Semoga film ini bisa men-trigger imajinasi mereka,” ucap Dendi.
Dalam Pelangi di Mars, penonton diajak menelusuri petualangan Pelangi dan robot-robotnya dalam mencari Zeolith Omega, mineral ajaib yang diyakini dapat memurnikan air di bumi. Perjalanan ini bukan sekadar eksplorasi planet merah, tetapi juga refleksi tentang persahabatan, keberanian, dan pentingnya menjaga harapan di tengah keterpurukan.
Upie Guava menegaskan bahwa dalam film ini ia tidak ingin meninggalkan identitas budaya Indonesia meski latarnya di planet lain.
“Makanya saya masukkan budaya Indonesia lewat robot Batik. Ini penting biar dunia tahu kita punya ciri khas,” ungkapnya.
Bagi Upie, Pelangi di Mars adalah pembuktian bahwa sineas Indonesia bisa membuat karya bertaraf internasional, bahkan menantang dominasi Hollywood. “Pahlawan itu nggak harus sejarah masa lalu. Kita bisa punya superhero lokal lewat film ini,” tegasnya.
Dengan visual yang memukau, teknologi kelas dunia, serta narasi yang menyentuh, Pelangi di Mars siap menjadi pembuka jalan baru bagi perfilman Indonesia di genre fiksi ilmiah. Film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga ajakan untuk terus bermimpi karena masa depan selalu dimulai dari imajinasi yang paling liar sekalipun.










