Koranindopos.com, Jakarta – Titi Kamal kembali bermain dalam film horor terbaru berjudul Getih Ireng. Dalam film garapan sutradara Tommy Dewo dan produser Rocky Soraya ini, perempuan kelahiran 7 Desember 1981 itu memerankan tokoh Rina seorang istri yang diteror kekuatan gaib hingga kehilangan janin yang sangat ia nantikan.
Bagi Titi, karakter ini bukan sekadar peran, melainkan perjalanan emosional yang mengguncang perasaannya sebagai seorang ibu. Titi mengungkapkan bahwa membangun karakter Rina membutuhkan kesiapan mental yang besar. Ia harus merasakan bagaimana seorang perempuan menanggung duka mendalam karena keguguran akibat gangguan mistis.
“Iya, kalau untuk tantangan Rina sendiri, Rina ini kan digambarkan baru banget menikah dengan Mas Pram dan sangat menginginkan keturunan,” ujar Titi Kamal di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (9/10/2025).
Ketika harus menjalani adegan kehilangan anak, Titi mengaku emosinya benar-benar terseret. Ia menuturkan, rasa duka itu muncul begitu alami karena insting keibuannya tersentuh. Ekspresi dan air matanya di layar pun menjadi representasi nyata dari rasa kehilangan seorang ibu yang tak terlukiskan.
“Ibu mana yang enggak sedih kalau kehilangan anaknya? Pasti semua ibu di dunia ini akan sedih,” tuturnya.
Menariknya, Titi juga menautkan pengalaman pribadi dalam membangun peran Rina. Ia mengakui pernah mengalami keguguran sebelum kelahiran anak pertamanya. “Dan untuk memerankan itu, aku coba bangun karakter Rina sambil aku ingat pengalaman pribadi juga,” ujarnya lirih.
Menurutnya, pengalaman itu membuatnya lebih memahami sisi rapuh dan kuat seorang perempuan ketika berhadapan dengan kehilangan.
Film Getih Ireng sendiri bukan sekadar kisah horor biasa. Produksi terbaru Hitmaker Studios ini akan tayang di bioskop pada 16 Oktober 2025, membawa penonton ke dalam kisah menyeramkan yang sarat makna. Ceritanya diadaptasi dari thread viral karya akun @JeroPoint, yang sempat menghebohkan media sosial karena kisah mistiknya yang mencekam. Dengan pengemasan visual sinematik khas Hitmaker, film ini menjanjikan pengalaman menegangkan sekaligus emosional.
Dibintangi oleh Titi Kamal, Darius Sinathrya, dan Sara Wijayanto, Getih Ireng menyoroti perjuangan pasangan suami istri yang menghadapi kekuatan jahat tak kasat mata. Perpaduan antara horor dan drama psikologis membuat film ini tak hanya menakutkan, tetapi juga menyayat hati. Rina dan Pram, yang baru menikah dan pindah ke Wonosobo untuk memulai hidup baru, justru harus berhadapan dengan misteri kelam dari sosok kakek misterius yang menghantui mereka.
Adegan-adegan mencekam yang ditampilkan dalam film ini tak sekadar dibuat untuk menakut-nakuti, melainkan menggambarkan ketakutan manusia terhadap kehilangan dan kekuatan gaib. Saat Rina kehilangan janinnya setelah serangkaian mimpi buruk, ketegangan semakin meningkat ketika Pram akhirnya menyaksikan sendiri kengerian yang menimpa istrinya.
Proses syuting dilakukan di beberapa lokasi seperti Lembang, Bandung, dan Jakarta selama 30 hari. Sutradara Tommy Dewo menuturkan bahwa lokasi-lokasi itu dipilih untuk menonjolkan atmosfer mistik yang nyata dan menekan. Keheningan alam pedesaan berpadu dengan sinematografi gelap menjadi kekuatan visual yang memperkuat kesan magis film ini.
Kehadiran sosok “Pak Narto”, orang pintar di desa yang menjelaskan tentang Santet Getih Ireng, menjadi titik puncak cerita. Santet tersebut digambarkan sebagai kutukan paling berbahaya yang menyasar darah dan keturunan tema yang jarang diangkat secara mendalam dalam film horor Indonesia. Elemen tradisi dan kearifan lokal ini membuat Getih Ireng terasa otentik sekaligus relevan bagi penonton tanah air.
Lewat kombinasi naskah kuat, penyutradaraan cermat, serta performa akting Titi Kamal yang emosional, Getih Ireng berpotensi menjadi film horor Indonesia yang berkesan. Lebih dari sekadar kisah menyeramkan, film ini menyingkap makna kehilangan, cinta, dan perjuangan seorang perempuan melawan kekuatan yang tak terlihat. (Brg/Hend)










