Koranindopos.com, Jakarta – Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E. Aminudin Aziz menegaskan pentingnya peran guru dalam menyikapi penggunaan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) di lingkungan pendidikan. Pernyataan itu disampaikan dalam forum bertema Membangun Peradaban Literasi Kampus yang digelar secara virtual pada Rabu (11/2/2026) dan diikuti dosen serta mahasiswa Perguruan Tinggi PGRI se-Indonesia.
Aminudin, yang tercatat sebagai salah satu dari 100 tokoh berpengaruh di bidang AI versi TIME tahun 2024, menilai kehadiran teknologi tidak dapat dihindari dalam proses belajar mengajar. Namun, ia menekankan bahwa peran pendidik tetap menjadi kunci dalam memastikan penggunaan AI berjalan secara bertanggung jawab.
Menurutnya, diskursus global mengenai AI dalam pendidikan menunjukkan adanya perbedaan pandangan. Sebagian pihak melihat AI sebagai perangkat yang mampu mengoptimalkan pembelajaran, sementara lainnya mempersoalkan aspek etika ketika substansi akademik diserahkan sepenuhnya kepada mesin.
“Ada yang memandang AI sebagai alat optimal pembelajaran, ada pula yang menilai tidak etis jika substansi diserahkan kepada mesin. Jalan tengahnya adalah menggunakan AI sebagai pemantik diskusi kritis. Guru tetap berperan mengajak peserta didik menguji dan menganalisis hasil AI. Di situlah martabat pendidik terlihat,” ujar Aminudin.
Ia menambahkan, dalam konteks penulisan karya ilmiah maupun buku, AI sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu. Kreativitas dan tanggung jawab intelektual, katanya, tidak dapat dialihkan kepada sistem otomatis.
“AI dapat membantu eksplorasi gagasan, tetapi tanggung jawab intelektual tetap pada manusia. Menulis adalah refleksi diri yang tidak dapat digantikan mesin,” ujarnya di hadapan peserta forum.
Aminudin juga mengingatkan pentingnya transparansi akademik dalam penggunaan AI. Ia menilai keterbukaan mengenai pemanfaatan teknologi menjadi langkah penting untuk mencegah praktik plagiarisme serta menjaga integritas karya ilmiah dosen dan mahasiswa.
Lebih jauh, ia mengaitkan pemanfaatan AI dengan pemahaman literasi yang komprehensif. Literasi, menurutnya, bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolah informasi dalam berbagai bentuk untuk meningkatkan kualitas hidup.

Ia menjelaskan bahwa literasi mencakup tahapan mengenali, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, menilai, hingga mencipta. Pada level tertinggi, seseorang mampu menghasilkan karya berdasarkan proses berpikir mendalam.
“Level tertinggi literasi adalah mencipta. Menulis merupakan proses literasi tingkat tinggi karena merupakan hasil dari membaca dan memahami berbagai sumber,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Aminudin juga menyinggung pentingnya budaya membaca sebagai fondasi menulis. Perpindahan genre tulisan, katanya, menuntut kerangka berpikir berbeda sehingga memperkaya kemampuan analitis penulis.
Perpusnas, lanjut dia, berkomitmen memperkuat ekosistem literasi melalui penyediaan buku berkualitas serta layanan administrasi yang mendukung penerbitan. Ia menyebut proses pengurusan ISBN berlangsung tiga hari kerja tanpa biaya.
“Jika persyaratan belum lengkap, akan dikembalikan dan tetap kami respons dalam waktu tersebut. Ini merupakan komitmen kami untuk mendukung ekosistem literasi di Indonesia,” jelasnya.
Dalam forum yang dibuka oleh Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Untung Lasiyono, Aminudin juga menanggapi penerbitan buku komunitas, termasuk karya dari kelompok rentan. Ia menyampaikan bahwa Perpusnas fokus pada penyediaan bacaan, sementara proses penerbitan dilakukan melalui penerbit yang kemudian mengurus ISBN.
“Menulis bisa menjadi penguatan bagi banyak pihak. Tidak ada masalah apakah karya berbentuk antologi atau bentuk lainnya, ISBN tetap dapat diurus melalui penerbit,” pungkasnya. (Brg/Kul)










