Koranindopos.com – JAKARTA – Tangisan bayi mungil di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) bukan hanya tentang perjuangan hidup, tetapi juga tentang harapan, kasih sayang, dan sentuhan kemanusiaan yang tak tergantikan. Di balik alat-alat medis dan suara monitor yang terus berbunyi, ada peran besar orang tua dan tenaga kesehatan yang berjuang bersama menjaga kehidupan bayi prematur.
Dengan pengalaman lebih dari 53 tahun dalam layanan kesehatan anak, RSIA Bunda terus mengembangkan pendekatan NICU yang komprehensif. Fondasi pelayanan ini telah dibangun sejak lebih dari dua dekade lalu oleh alm. DR. Risma Kerina Kaban, Sp.A(K), yang membentuk tim NICU yang solid dan berdedikasi tinggi.

Pengembangan tersebut kini dilanjutkan oleh dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A, Subsp. Neo (K), yang juga menjabat sebagai Ketua UKK Neonatologi Indonesia dan mengoordinasikan sekitar 400 dokter anak di bidang neonatologi. Di bawah kepemimpinannya, NICU RSIA Bunda mengalami perkembangan signifikan, terutama dalam tiga tahun terakhir melalui penerapan Family Integrated Care (FICare).
Pendekatan ini menghadirkan perubahan mendasar dalam sistem perawatan. Orang tua tidak lagi diposisikan sebagai pengamat, melainkan sebagai bagian integral dari proses perawatan. Mereka dilibatkan sejak dini, diberikan edukasi, serta didampingi secara intensif agar mampu berperan aktif dalam merawat bayinya. “Bagi kami, NICU bukan hanya tentang menyelamatkan kehidupan, tetapi juga mempersiapkan kehidupan setelahnya,” ujar dr. Adhi yang hadir secara daring diacara Seminar Offline International Nursing Day Event 2026, Sabtu 9/5/26 di RSU Bunda Jakarta.
dr. I. G. A. N. Partiwi, Sp.A, MARS (dr. Tiwi) menjelaskan, kelahiran prematur masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Sekitar 10 persen bayi lahir dalam kondisi prematur dan memiliki risiko kesehatan yang tinggi karena organ tubuh mereka belum berkembang sempurna, terutama otak dan paru-paru.
“Kalau bayi lahir di usia 31 atau 32 minggu, otaknya masih berkembang sangat cepat. Karena itu, perawatannya harus meniru kondisi di dalam rahim, bukan sekadar mengandalkan inkubator dan alat medis,” ujarnya.
Menurutnya, banyak faktor yang dapat memicu kelahiran prematur. Mulai dari obesitas, kekurangan vitamin D, infeksi selama kehamilan, hingga kondisi kesehatan ibu yang kurang optimal. Bahkan, kesehatan perempuan sejak usia remaja disebut berpengaruh terhadap risiko persalinan prematur di masa depan.
“Kehamilan itu harus dipersiapkan dengan baik. Jangan dalam kondisi kesehatan yang buruk atau obesitas. Karena itu bisa meningkatkan risiko komplikasi hingga bayi lahir prematur,” katanya.
Namun di tengah berbagai risiko tersebut, ada satu hal sederhana yang disebut sangat berpengaruh bagi bayi prematur, yakni pelukan ibu. Melalui metode kangaroo mother care atau kontak kulit ke kulit, bayi mendapat rasa aman layaknya berada di dalam kandungan.
“Pelukan ibu sebenarnya adalah inkubator terbaik. Bayi mendengar detak jantung ibunya, merasakan kehangatan, dan itu membantu perkembangan mereka,” tuturnya.
Di Rumah Sakit Bunda, orang tua didorong untuk terlibat langsung dalam perawatan bayi sejak dini. Bahkan, orang tua diperbolehkan mendampingi bayi lebih lama agar proses pemberian ASI dan ikatan emosional dapat terbentuk lebih kuat.
Selain membantu perkembangan bayi, ketenangan ibu juga diyakini sangat memengaruhi kondisi anak. Karena itu, tenaga medis tidak hanya fokus pada tindakan medis, tetapi juga memberikan dukungan emosional kepada keluarga pasien.
“Kalau ibu tenang, biasanya bayinya juga lebih baik responsnya. Harapan itu penting,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya peran perawat menjelang peringatan International Nurses Day pada 12 Mei mendatang. Menurutnya, perawat bukan hanya menjalankan instruksi medis, tetapi menghadirkan sentuhan kemanusiaan bagi pasien dan keluarga.
“Perawat itu merawat bayi 24 jam. Kalau tidak ada rasa kemanusiaan dan kasih sayang, pelayanan tidak akan terasa utuh,” katanya.
Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan di sejumlah daerah, edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi langkah penting untuk menekan angka kelahiran prematur. Mulai dari kesiapan kehamilan, pemenuhan gizi ibu, hingga pemeriksaan kesehatan rutin perlu terus disosialisasikan.
“Masalah prematur memang kompleks, tetapi banyak yang sebenarnya bisa dicegah. Yang paling penting adalah jangan kehilangan harapan,” tutupnya.(rls/sh)










