JAKARTA, koranindopos.com – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan banyak perempuan yang tidak sadar penyakit kanker leher rahim (serviks). Hal tersebut karena penyakit kanker serviks yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) itu menginfeksi ke dalam tubuh manusia tanpa menunjukkan gejala pada awal infeksi.
Kanker serviks menjadi penting karena merupakan kanker terbanyak kedua setelah kanker payudara yang dialami perempuan dengan angka kejadian di Indonesia yang tinggi dimana pada tahun 2020 tercatat sebesar 24.4/ 100.000 penduduk, sedangkan kasus kematiannya sebesar 14.4/ 100.000 penduduk (Sumber : Global Burden of Cancer 2020)
Karena itu Hasto menekankan pentingnya vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks yang merupakan infeksi virus yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual termasuk melalui vaginal, anal dan oral. Namun, banyak orang terinfeksi HPV tidak mengetahui bahwa dirinya terinfeksi, yang artinya seseorang dapat menularkan HPV ke pasangannya meskipun tidak memiliki gejala apapun.
Hasto mengatakan banyak remaja yang tidak mengetahui risiko penyakit kanker leher rahim yang bisa terjadi akibat hubungan seksual dini baik karena hubungan seksual sebelum menikah dan menikah pada usia muda. Hubungan seksual pada perempuan di bawah 18 tahun bisa menyebabkan penyakit kanker leher rahim 15-20 tahun kemudian.
“Mulut rahim perempuan yang usianya kurang dari 18 tahun masih ektropion, artinya masih terbuka mulut rahimnya. Sedangkan kalau usia 18 tahun ke atas bisa terjadi entropion atau menutup. Maka kami terus menggencarkan kalau menikah perempuan usia di atas 21 tahun dan melakukan pemeriksaan Kesehatan minimal 3 bulan sebelum menikah, insyaalah sudah aman, tidak akan terjadi kanker serviks dan tahu kondisi nya apakah anemia atau tidak sehingga bisa melahirkan generasi yang bebas stunting”, kata Hasto yang juga dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi ini.
Sebelumnya, pemerintah memberikan vaksin HPV pada sasaran kelas 5-6 SD dengan harapan lebih efektif karena belum menstruasi. Tahun ini, vaksin HPV akan diberikan di 131 kabupaten/kota di 8 provinsi, terdiri dari 4 provinsi di Pulau Jawa dan 4 provinsi di luar Pulau Jawa (Provinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Bali). Rencananya tahun 2023 sudah dilaksanakan di selurug provinsi dan kabupaten/kota.
Pemerintah sudah menetapkan bahwa akan memberikan tambahan imunisasi rutin secara gratis kepada masyarakat yang semula 11 vaksin menjadi 14 vaksin, penambahannya adalah dengan pemberian vaksin Human Papilloma Virus (HPV), vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dan vaksin Rotavirus.
Vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks pada perempuan yang ditujukan untuk sasaran anak usia kelas 5 dan 6 SD dan dilaksanakan dalam program kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang dilaksanakan pada bulan Agustus setiap tahunnya.
“Imunisasi merupakan cara yang paling tepat dan murah untuk mencegah kematian ibu dan anak. Vaksinasi merupakan salah satu intervensi Kesehatan yang lebih murah dan lebih efektif daripada intervensi Ketika seseorang sudah masuk perawatan di rumah sakit” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Selain vaksin HPV, pemberian vaksin PCV bertujuan untuk mencegah penyakit radang paru, radang selaput otak, radang telinga yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus. Vaksin PCV mulai tahun ini diberikan secara nasional.
Sementara itu, vaksin Rotavirus adalah vaksin untuk mencegah diare berat dan kompilkasinya yang disebabkan oleh virus Rota. Pemberian vaksin Rotavirus akan dimulai tahun 2022 di 21 kabupaten/kota yang mewakili tiap pulau dan akan diberikan secara nasional di tahun 2024.(why)










