Koranindopos.com – Jakarta – Penyakit katup jantung masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Selain kasus Penyakit Jantung Rematik (PJR) yang masih cukup banyak ditemukan, meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia juga menyebabkan kasus penyakit katup jantung degeneratif terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.
Penyakit katup jantung terjadi ketika salah satu atau lebih katup pada jantung mengalami kerusakan atau gangguan fungsi. Padahal, katup jantung memiliki peran penting dalam mengatur aliran darah agar bergerak ke arah yang benar dan pada waktu yang tepat di dalam organ vital tersebut.
Apabila fungsi katup terganggu, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Antonia Anna Lukito, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi peningkatan kasus penyakit katup jantung degeneratif yang berkaitan dengan proses penuaan.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah masih banyak kasus yang tidak terdiagnosis sejak dini. Gejala penyakit katup jantung sering kali berkembang secara perlahan sehingga kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan biasa atau kondisi kesehatan lainnya.
Padahal, keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan kerusakan jantung yang semakin berat dan menurunkan kualitas hidup pasien.
Penderita penyakit katup jantung dapat mengalami berbagai gejala, di antaranya:
- Sesak napas saat beraktivitas maupun saat beristirahat
- Mudah lelah
- Nyeri dada
- Jantung berdebar tidak teratur
- Pusing atau bahkan pingsan
- Pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki
Karena gejala tersebut juga dapat ditemukan pada berbagai penyakit lain, pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk memastikan penyebabnya.
Di negara berkembang seperti Indonesia, penyakit katup jantung tidak hanya disebabkan oleh faktor usia. Penyakit Jantung Rematik masih menjadi salah satu penyebab utama kerusakan katup jantung.
PJR merupakan komplikasi dari infeksi bakteri streptokokus yang tidak tertangani dengan baik. Peradangan yang terjadi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung dan memengaruhi fungsi organ tersebut dalam jangka panjang.
Meski angka kejadian penyakit ini telah menurun dibanding beberapa dekade lalu, kasusnya masih ditemukan di berbagai daerah.
Perkembangan teknologi kedokteran kini menghadirkan pilihan terapi yang lebih minim invasif bagi pasien penyakit katup jantung.
Dua teknologi yang mulai banyak digunakan adalah Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) dan MitraClip.
TAVI memungkinkan penggantian katup aorta tanpa perlu operasi jantung terbuka. Prosedur ini dilakukan melalui pembuluh darah menggunakan kateter sehingga risiko operasi dapat diminimalkan, terutama bagi pasien lanjut usia atau mereka yang memiliki risiko bedah tinggi.
Sementara itu, MitraClip digunakan untuk memperbaiki katup mitral yang mengalami kebocoran tanpa harus melakukan operasi besar. Teknologi ini membantu meningkatkan fungsi jantung sekaligus mengurangi gejala yang dialami pasien.
Para ahli menekankan bahwa deteksi dini menjadi faktor penting dalam keberhasilan penanganan penyakit katup jantung. Pemeriksaan rutin, terutama bagi kelompok berisiko seperti lansia dan penderita penyakit jantung, dapat membantu menemukan gangguan sejak tahap awal.
Selain itu, peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala penyakit katup jantung juga diperlukan agar pasien tidak terlambat mencari pertolongan medis.
Dengan dukungan teknologi medis modern, tenaga kesehatan yang kompeten, serta kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara berkala, angka komplikasi akibat penyakit katup jantung di Indonesia diharapkan dapat ditekan sehingga kualitas hidup pasien menjadi lebih baik.(dhil)










