Koranindopos.com, jakarta – Jakarta – Perubahan cara masyarakat mengakses informasi mendorong peningkatan kapasitas tenaga perpustakaan di berbagai daerah.
Menjawab tantangan tersebut, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) tengah memperkuat sistem pelatihan pustakawan agar lebih relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan layanan informasi masa kini.
Langkah itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan Sosialisasi dan Koordinasi Program Pelatihan Bidang Perpustakaan yang digelar secara daring pada 23 Juni 2026. Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk menyamakan pemahaman terkait arah pengembangan kompetensi tenaga perpustakaan di Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah aspek dibahas secara menyeluruh, mulai dari kebijakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia perpustakaan, penyusunan kurikulum pelatihan, penerapan standar mutu penyelenggaraan pelatihan, hingga proses akreditasi program yang akan dijalankan.
Ketua Umum Pengurus Pusat IPI yang juga menjabat Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menilai peran pustakawan saat ini telah berkembang jauh melampaui tugas pengelolaan koleksi. Menurutnya, pustakawan kini dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi yang berlangsung sangat cepat.
“Pustakawan di era disrupsi dituntut untuk meningkatkan kompetensi teknis kepustakawanan, literasi digital, layanan berbasis kebutuhan pemustaka, pengelolaan pengetahuan, komunikasi publik, advokasi literasi, dan kemampuan berjejaring dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan kompetensi tersebut perlu ditopang oleh sistem pelatihan yang terstruktur dan memiliki standar kualitas yang jelas. Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan organisasi profesi dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan program pelatihan berjalan efektif.
Joko juga menekankan pentingnya peran IPI dalam menjembatani komunikasi antara pustakawan di berbagai wilayah dengan Perpusnas. Melalui peran tersebut, berbagai kebijakan dan program pengembangan profesi dapat tersampaikan secara lebih luas kepada para pengelola perpustakaan.
“Kualitas perpustakaan ditentukan oleh kualitas pustakawan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpusnas, Triani Rahmawati, menyebut kerja sama dengan IPI menjadi bagian penting dalam menyusun strategi peningkatan kualitas tenaga perpustakaan secara berkelanjutan.
Menurut Triani, tantangan yang dihadapi pustakawan saat ini semakin beragam, sehingga pengembangan kompetensi tidak dapat dilakukan secara parsial. Kolaborasi berbagai pihak diperlukan agar pelatihan yang diselenggarakan benar-benar mampu menjawab kebutuhan lapangan.
“Kita ingin menggandeng banyak tangan untuk mencapai standar kebijakan dan kebutuhan yang diperlukan dalam menyiapkan tenaga profesional di perpustakaan melalui pelatihan yang kita miliki,” ujar Triani.
Pada kesempatan yang sama, Widyaiswara Ahli Madya Perpusnas Ahmad Muslim memaparkan bahwa saat ini tersedia 20 jenis pelatihan yang dirancang untuk mendukung pengembangan kompetensi pustakawan di berbagai bidang kerja.
Selain membahas materi dan kurikulum, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai standar mutu penyelenggaraan pelatihan. Materi tersebut disampaikan oleh Pustakawan Ahli Madya Sri Palupi bersama Widyaiswara Ahli Pertama Maharani Lelasari yang menguraikan berbagai instrumen penjaminan mutu yang akan diterapkan dalam setiap program pelatihan.
Pembahasan turut mencakup mekanisme akreditasi program pelatihan yang disampaikan oleh Pustakawan Ahli Muda Heri Iman Santoso. Menurutnya, akreditasi menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan kualitas dan kredibilitas penyelenggara pelatihan di bidang perpustakaan.
Ia menambahkan, Perpusnas juga membuka kesempatan konsultasi bagi lembaga atau penyelenggara yang ingin mengajukan akreditasi agar seluruh persyaratan dapat dipenuhi secara optimal sebelum proses penilaian dilakukan.
“Kami membuka ruang konsultasi sebelum melakukan permohonan akreditasi supaya persiapannya benar-benar sempurna,” tuturnya.
Melalui penguatan kurikulum, standar mutu, dan sistem akreditasi tersebut, Perpusnas dan IPI berharap kualitas pelatihan pustakawan di Indonesia dapat terus meningkat sehingga mampu mendukung transformasi layanan perpustakaan yang semakin modern dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (BRG,/Kul)










