Koranindopos.com, SURABAYA — Jika ingin melihat bagaimana sebuah kota tumbuh dari pelabuhan, perdagangan, perjumpaan berbagai bangsa hingga menjadi salah satu kota penting di Indonesia, Kota Lama Surabaya adalah salah satu tempat yang menarik untuk disusuri.
Di Kota Lama Surabaya, setiap sudut memiliki cerita. Dan untuk mendengarnya, terkadang kita hanya perlu berjalan lebih pelan. berikut laporan Doedoe wartawan koranindopos.com saat menyusuri setiap sudut Kota Lama Surabaya.

Foto : Doedoe/Koranindopos.com
Di kawasan ini, sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku. Ia hadir melalui bangunan-bangunan tua, jalan yang pernah menjadi jalur perdagangan, kawasan permukiman berbagai etnis, hingga tempat-tempat yang menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Kini, wajah Kota Lama Surabaya semakin hidup setelah pemerintah kota melakukan revitalisasi kawasan heritage. Berpusat di kawasan Jalan Gelatik dan jalan Rajawali membentang hingga kawasan Pecinan, Arab, serta kawasan niaga di sekitar Kalimas, Kota Lama menawarkan pengalaman perjalanan menembus lintasan waktu.
Sejarah Surabaya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Kali Mas. Sejak berabad-abad lalu, kawasan muara sungai ini memiliki posisi strategis sebagai jalur perdagangan dan pintu masuk menuju wilayah pedalaman.
Posisi tersebut kemudian menjadikan Surabaya berkembang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Ketika pengaruh kolonial semakin kuat, kawasan kota lama tumbuh menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas.
Pedagang dan penduduk dari berbagai latar belakang—Tionghoa, Arab, Melayu, Jawa, India, hingga Eropa—berinteraksi dalam aktivitas perdagangan dan kehidupan sehari-hari. Jejak keberagaman tersebut hingga kini masih dapat dirasakan melalui karakter kawasan dan bangunan yang tersisa.
Karena itu, Kota Lama sesungguhnya bukan hanya kumpulan bangunan tua. Ia merupakan rekaman perjalanan Surabaya sebagai kota multikultural.
Untuk memahami Kota Lama Surabaya, perjalanan dapat dilakukan dengan mengenali karakter masing-masing kawasan.
Menurut berbagai literasi yang ada, Pemerintah Kota Surabaya saat ini membagi Kota Lama ke dalam empat zona utama, yaitu Zona Eropa, Zona Pecinan, Zona Arab, dan Zona Melayu. Keempatnya memiliki karakter sejarah, arsitektur, serta kehidupan masyarakat yang berbeda, tetapi saling terhubung dalam satu perjalanan sejarah Kota Surabaya.
Di kawasan Jalan Gelatik hingga jalan Rajawali, nuansa Eropa dan kolonial terasa paling kuat. Bangunan-bangunan besar dengan arsitektur kolonial menjadi pengingat bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat kegiatan ekonomi dan administrasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Sejumlah bangunan bersejarah dapat ditemukan di sekitar kawasan ini, antara lain Pabrik Limoen dan Sirup “Siropen” Telasih. Gedung Internatio, Gedung Cerutu, De Javasche Bank, Museum Hoofdbureau, hingga kawasan Jembatan Merah.
Pemerintah Kota Surabaya melakukan revitalisasi kawasan tersebut dengan menata jalan, utilitas, ruang publik, serta elemen visual yang memperkuat karakter Eropa. Penataan itu diharapkan membuat kawasan tidak hanya menarik pada siang hari, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup hingga malam.
Beranjak ke Kembang Jepun, suasana berubah. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan masyarakat Tionghoa di Surabaya.
Koridor Kya-Kya Kembang Jepun menjadi salah satu titik yang menarik untuk menikmati perpaduan sejarah, budaya dan kuliner. Deretan bangunan dan aktivitas perdagangan mengingatkan bahwa kawasan Pecinan merupakan bagian penting dari perkembangan ekonomi Surabaya.
Revitalisasi Kembang Jepun juga diarahkan untuk menghidupkan kembali kawasan sebagai ruang publik dan pusat aktivitas ekonomi. Pemerintah kota menata kawasan ini sekaligus berupaya mempertahankan identitas sejarahnya.
Tidak jauh dari kawasan perdagangan, perjalanan sejarah membawa wisatawan menuju Ampel.
Kawasan ini memiliki karakter yang berbeda karena kuat dengan tradisi Islam dan aktivitas perdagangan masyarakat keturunan Arab. Masjid dan kawasan religi Sunan Ampel menjadi salah satu magnet utama.
Namun, Ampel bukan hanya tentang wisata religi. Gang-gang, toko, kuliner, serta aktivitas perdagangan menciptakan suasana khas yang telah berkembang selama berabad-abad.
Pemerintah Kota Surabaya juga melakukan penataan kawasan Ampel dengan tujuan memperkuat identitasnya sebagai kawasan wisata religi. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah menghadirkan Sentra Wisata Kuliner Serambi Ampel sebagai bagian dari penataan kawasan.
Di balik tiga kawasan yang lebih populer, terdapat pula Zona Melayu yang menjadi bagian dari sejarah panjang Kota Lama Surabaya.
Keberadaan berbagai komunitas di kawasan kota lama menunjukkan bahwa perkembangan Surabaya tidak dibentuk oleh satu kelompok saja. Interaksi berbagai etnis dan budaya ikut membangun karakter kota.
Karena itu, perjalanan Kota Lama sebaiknya tidak hanya berhenti pada bangunan kolonial atau kawasan Pecinan dan Arab, tetapi juga melihat bagaimana berbagai komunitas hidup berdampingan dan membentuk identitas Surabaya.
Salah satu daya tarik terbesar Kota Lama adalah bangunan-bangunan bersejarahnya.
De Javasche Bank, misalnya, merupakan salah satu bangunan penting peninggalan masa kolonial yang kini menjadi museum. Arsitekturnya memberikan gambaran mengenai bagaimana lembaga keuangan pada masa Hindia Belanda beroperasi.
Kemudian ada Gedung Internatio, yang memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya.
Tak jauh dari sana terdapat Gedung Cerutu, salah satu bangunan yang memiliki bentuk arsitektur khas dan menjadi penanda kawasan Jalan Rajawali.
Ada pula Jembatan Merah yang memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo. Kawasan di sekitar jembatan ini menjadi bagian dari rangkaian peristiwa heroik Surabaya pada 1945.
Dengan demikian, berkeliling Kota Lama bukan sekadar menikmati keindahan arsitektur. Setiap bangunan memiliki cerita yang membuat perjalanan terasa seperti membuka halaman demi halaman sejarah.
Revitalisasi Kota Lama menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk mengembalikan kawasan bersejarah tersebut sebagai ruang publik yang aktif.
Penataan tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga jalan, pedestrian, utilitas, ruang terbuka, fasilitas wisata hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Pada 2024, Zona Eropa Kota Lama mulai diperkenalkan kembali sebagai kawasan wisata heritage. Pemerintah kota juga menggandeng komunitas untuk menghadirkan berbagai paket wisata, termasuk walking tour, penyewaan busana bergaya Eropa, sepeda listrik, hingga tur menggunakan mobil Jeep kuno.
Kawasan ini pun tidak diarahkan menjadi museum raksasa yang hanya bisa dilihat dari balik pagar. Sebaliknya, Kota Lama dihidupkan sebagai ruang tempat masyarakat dapat berjalan kaki, bersepeda, menikmati kuliner, berfoto, mengikuti tur sejarah, sekaligus belajar mengenai masa lalu Surabaya.
Ada satu hal yang membuat Kota Lama Surabaya berbeda. Kawasan ini tidak hanya menjual romantisme bangunan kolonial atau foto berlatar gedung tua. Di balik arsitekturnya terdapat cerita mengenai perdagangan, migrasi, pertemuan berbagai budaya, konflik, perjuangan, dan kehidupan masyarakat yang terus berkembang.
Kota Lama adalah gambaran bagaimana Surabaya dibentuk oleh keberagaman.
Di satu sisi terdapat bangunan bergaya Eropa. Di sisi lain ada Pecinan dengan tradisi perdagangan, kawasan Arab dengan kehidupan religi yang kuat, serta komunitas lain yang ikut membentuk wajah kota.
Revitalisasi kawasan ini pada akhirnya bukan hanya persoalan mempercantik kota. Lebih dari itu, ia merupakan upaya menjaga ingatan kolektif agar sejarah tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Cara terbaik menikmati Kota Lama mungkin bukan dengan terburu-buru mengejar banyak tempat, melainkan dengan berjalan kaki dan memperhatikan detail.
Mulailah dari kawasan Jalan Rajawali, melihat bangunan-bangunan kolonial, kemudian bergerak menuju Jembatan Merah. Dari sana perjalanan dapat dilanjutkan ke Kembang Jepun untuk menikmati suasana Pecinan dan kuliner, kemudian menuju kawasan Ampel untuk merasakan atmosfer wisata religi dan perdagangan yang khas.
Pemerintah Kota Surabaya juga mengembangkan konektivitas antarkawasan agar zona-zona Kota Lama dapat menjadi satu pengalaman wisata yang terintegrasi. Konsep pengembangan tersebut mencakup jaringan pejalan kaki, kendaraan tidak bermotor, serta konektivitas antarkawasan.
Pada akhirnya, Kota Lama Surabaya bukanlah perjalanan untuk sekadar melihat masa lalu. Ia adalah perjalanan untuk memahami bagaimana sebuah kota dibentuk oleh pertemuan manusia, perdagangan, budaya dan sejarah. (doe)










