Koranindopos.com, Jakarta – Pasien gagal jantung stadium lanjut kini memiliki pilihan terapi tambahan selain transplantasi jantung atau perawatan paliatif. Pilihan tersebut adalah Left Ventricular Assist Device (LVAD), teknologi yang membantu kerja jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh.
Teknologi tersebut mulai diterapkan Siloam Hospitals Kebon Jeruk. Rumah sakit ini tercatat sebagai rumah sakit swasta pertama di Indonesia yang berhasil memasang HeartMate 3 LVAD.
Advanced Heart Failure Consultant, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, mengatakan LVAD dapat menjadi pilihan bagi pasien yang sudah berada pada kondisi gagal jantung lanjut dan membutuhkan penanganan lebih kompleks.
“LVAD memberikan pilihan terapi bagi pasien gagal jantung lanjut yang membutuhkan penanganan lebih kompleks. Sebelumnya, pasien dalam kondisi tersebut memiliki pilihan terbatas, termasuk transplantasi jantung atau perawatan paliatif,” ujarnya dalam acara Konferensi Pers Siloam Hospitals Kebon Jeruk: A Heartbeat of History di Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
Menurut Leonardo, sekitar 10 persen pasien gagal jantung dapat berkembang menjadi stadium lanjut. Pada kondisi tersebut, penggunaan obat-obatan saja sering kali tidak lagi mencukupi.
“Sekitar 10 persen pasien gagal jantung dapat berkembang menjadi gagal jantung stadium lanjut. Pada tahap tersebut, obat-obatan sering kali tidak lagi mencukupi,” ujarnya.
Data internasional yang dipaparkan Leonardo menunjukkan adanya perbedaan tingkat kelangsungan hidup antara pasien gagal jantung lanjut yang menggunakan LVAD dan pasien yang tidak menggunakan perangkat tersebut.
“Data menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup pasien tanpa alat pada gagal jantung lanjut tidak mencapai 50 persen dalam satu tahun. Sementara itu, pasien pengguna LVAD memiliki tingkat kelangsungan hidup sekitar 64 persen dalam lima tahun,” katanya.
Untuk pasien berusia 50 tahun ke bawah, tingkat kelangsungan hidup lima tahun yang dilaporkan mencapai 76 persen. Leonardo menyebut angka tersebut mengacu pada data internasional mengenai penggunaan LVAD pada pasien gagal jantung lanjut.
Meski demikian, Leonardo menegaskan HeartMate 3 LVAD bukan teknologi baru. Perangkat tersebut telah digunakan di dunia selama lebih dari satu dekade. Penerapannya di Indonesia menjadi bagian dari pengembangan layanan untuk menangani pasien dengan gagal jantung stadium lanjut.
“Penerapan teknologi ini menghadapi beberapa tantangan di Indonesia. Salah satunya adalah biaya perangkat yang sangat mahal,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah kebutuhan terhadap tim medis dengan kompetensi khusus. Penggunaan LVAD membutuhkan kerja multidisiplin, mulai dari dokter, tim bedah hingga tenaga kesehatan yang menangani perawatan pasien.
Ketersediaan tenaga dengan keahlian khusus juga masih terbatas. Leonardo menyebut hanya enam dokter Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan subspesialis gagal jantung di luar negeri.
Di sisi lain, ia menilai persoalan gagal jantung tidak cukup ditangani ketika pasien sudah berada pada tahap lanjut. Pengobatan perlu dioptimalkan sejak awal agar kondisi pasien tidak berkembang menjadi lebih berat.
“Kesadaran masyarakat tentang gagal jantung masih sangat rendah. Banyak orang lebih mengenal penyakit jantung koroner dan pemasangan cincin daripada gagal jantung,” katanya.
Karena itu, edukasi dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam penanganan gagal jantung. Leonardo menyebut sebagian besar obat modern untuk penyakit tersebut sebenarnya sudah tersedia di Indonesia.
Pengembangan layanan LVAD di Siloam Hospitals Kebon Jeruk sendiri merupakan hasil dari persiapan tim medis. Managing Director Siloam Hospitals Group, dr. Grace Frelita, mengatakan pengembangan layanan tersebut diarahkan untuk membantu pasien yang membutuhkan penanganan gagal jantung stadium lanjut.
“Bukan ambisi untuk meraih jalan pertama yang kami harapkan. Keyakinan kami adalah bahwa di balik setiap langkah pertama, ada orang-orang yang bisa kita selamatkan,” katanya.
Grace menjelaskan rumah sakit membangun layanan gagal jantung melalui persiapan dan pengembangan kemampuan tim medis. LVAD kemudian menjadi salah satu pilihan bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang menghadapi keterbatasan akses terhadap transplantasi jantung. (RIS/Kul)




