Koranindopos.com – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (2/10/2026). IHSG naik 0,46% ke level 6.036,89.
Sejumlah saham menjadi penopang pergerakan indeks. BBCA tercatat menguat 1,67%, DCII naik 3,66%, sedangkan ASII bertambah 2,66%.
Di sisi lain, sejumlah saham justru mengalami tekanan. AMMN terkoreksi 2,97%, MORA turun 4,09%, sementara BBRI melemah 0,65%.
Meski IHSG berakhir di zona hijau, aktivitas investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell. Di pasar reguler, nilai net sell investor asing mencapai Rp1,31 triliun. Jika memperhitungkan seluruh pasar, nilai net sell tercatat Rp1,27 triliun.
Dari 11 sektor saham yang diperdagangkan di BEI, sebanyak tujuh sektor berakhir menguat.
Sektor teknologi mencatat kenaikan paling tinggi dengan penguatan 1,51%. Sebaliknya, sektor industri menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni 1,70%.
Pergerakan positif juga terlihat di pasar saham Amerika Serikat. Dow Jones naik 0,4% ke level 51.176, indeks S&P 500 tumbuh 0,73% menjadi 7.722, sedangkan Nasdaq menguat 1,19% ke level 27.190.
Saham GOTO juga mencatatkan technical rebound setelah sebelumnya mengalami auto rejection bawah (ARB) selama empat perdagangan berturut-turut.
Sementara itu, ETF EIDO menguat 0,60% dan indeks MSCI Indonesia naik 0,80%.
Dari sisi emiten, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mulai memperluas cakupan bisnis melalui Erajaya Food and Nourishment (EFN).
Selain bisnis gadget dan elektronik, perseroan menyiapkan ekspansi ke sektor makanan dan minuman. Salah satu langkahnya adalah rencana membawa merek donat asal Jepang, I’m Donut, ke Indonesia pada kuartal IV 2026.
Sebelumnya, ERAA telah membuka gerai Oriental Kopi pada tahun ini.
Ekspansi juga dilakukan melalui jaringan Erablue. Hingga Agustus 2026, jumlah gerai Erablue mencapai 307 lokasi, bertambah 126 gerai sejak awal tahun dan meningkat 172 gerai dibandingkan Agustus 2025.
ERAA selanjutnya membidik kota-kota lapis kedua di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, ERAA membuka 399 gerai dan menutup 127 gerai. Dengan demikian, jumlah gerai bertambah secara bersih sebanyak 272 lokasi.
Dari sisi kinerja, pendapatan Erablue tumbuh 88% secara tahunan selama delapan bulan pertama 2026. Sementara itu, pertumbuhan Same-Store Sales Growth (SSSG) secara kumulatif mencapai 14,90% secara tahunan.
Pada Agustus 2026, SSSG tercatat 7,90% secara tahunan, meningkat dibandingkan 5,40% pada Juli 2026.
PT Jababeka Tbk (KIJA) juga melakukan ekspansi bisnis kawasan industri ke Jawa Tengah.
Melalui anak usahanya, Indocargomas Persada (IP), KIJA mengambil alih 51% saham PT Kawasan Industri Seafer (KIS) dari Seafer Lumina Capital.
Transaksi yang dilakukan pada 1 Oktober 2026 tersebut bernilai Rp340,86 miliar. Saham yang diakuisisi mencapai 340,86 juta lembar sehingga KIS selanjutnya menjadi entitas anak yang dikonsolidasikan dalam laporan keuangan KIJA.
Melalui aksi korporasi tersebut, KIJA memperoleh akses terhadap land bank sekitar 500,24 hektare di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2019 dan termasuk dalam Kawasan Industri Prioritas.
Pengembangan KIS mencakup kawasan untuk industri kimia dan logam dasar serta logistik maritim terintegrasi. Kawasan tersebut juga memiliki area yang diperuntukkan bagi manufaktur kendaraan listrik, pergudangan, dan data center.
Ekspansi tersebut melengkapi portofolio kawasan industri KIJA di Jawa Tengah. Sebelumnya, perseroan memiliki kawasan industri seluas lebih dari 2.000 hektare di sisi barat Kendal yang dikelola bersama Sembcorp.
Sementara itu, KIS berlokasi sekitar 15-20 kilometer di sisi utara kawasan tersebut.
Dari sisi nilai transaksi, akuisisi ini dikategorikan sebagai transaksi non-material karena nilainya setara 4,39% terhadap ekuitas KIJA per semester I 2026 yang mencapai Rp7,77 triliun. Nilai tersebut masih berada di bawah batas 20%.
Transaksi tersebut juga bukan merupakan transaksi afiliasi sehingga tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyiapkan aksi pembelian kembali atau buyback saham dengan dana maksimal Rp400 miliar.
Dana tersebut berasal dari kas internal perseroan dan belum termasuk biaya perantara pedagang efek maupun biaya lainnya.
Berdasarkan proforma laporan keuangan per 30 Juni 2026, apabila seluruh rencana buyback terealisasi, aset AALI diperkirakan turun menjadi Rp28,50 triliun dari posisi sebelumnya Rp28,90 triliun.
Ekuitas perseroan juga diproyeksikan turun menjadi Rp24,20 triliun dari sebelumnya Rp24,60 triliun.
Sementara itu, laba bersih periode berjalan diperkirakan tetap sebesar Rp1,10 triliun. Laba per saham secara proforma diproyeksikan meningkat menjadi Rp575 dari sebelumnya Rp571.
Pelaksanaan buyback dilakukan paling lama selama tiga bulan, terhitung sejak 2 Oktober hingga 28 Desember 2026 melalui satu perusahaan efek di BEI.
AALI dapat melaksanakan aksi tersebut tanpa persetujuan RUPS berdasarkan kebijakan relaksasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam kondisi pasar yang mengalami fluktuasi signifikan.
Kebijakan tersebut mengacu pada Surat OJK No. S-112/D.04/2026 tertanggal 9 September 2026 serta ketentuan dalam POJK 13/2023 dan POJK 29/2023.
Pergerakan IHSG pada akhir pekan tersebut menunjukkan pasar domestik masih mampu bertahan di atas level 6.000, meski tekanan jual investor asing tetap menjadi salah satu perhatian pelaku pasar.(dhil/dtk)










