Koranindopos.com, Jakarta – Kebiasaan warga memilah sampah rumah tangga di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, mengalami perubahan signifikan. Dari sebelumnya hanya sekitar 5 persen, tingkat pemilahan sampah kini disebut telah mendekati 90 persen setelah tersedia fasilitas pengolahan sampah organik berbasis biodigester.
Fasilitas tersebut mampu mengolah hingga 1,2 ton sampah per hari. Sampah organik yang berasal dari aktivitas dapur warga diproses menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak, sekaligus menghasilkan pupuk yang bisa digunakan dalam kegiatan urban farming.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto mengatakan, keberadaan biodigester menjadi salah satu bagian dari upaya menangani sampah sejak dari sumbernya. Menurut dia, fasilitas tersebut cukup relevan dengan kondisi Rusunawa Rorotan yang dihuni ratusan keluarga.
“Di Rusunawa Rorotan ini ada empat tower dengan sekitar 300 hingga 400 KK. Dengan estimasi timbunan sampah rata-rata, fasilitas biodigester berkapasitas pengolahan hingga 1,2 ton per hari ini akan sangat optimal menyerap sampah organik dari sisa olahan dapur warga,” kata Edy.
Menurut Edy, tersedianya sarana pengolahan di tingkat lingkungan turut mendorong perubahan kebiasaan masyarakat. Warga menjadi lebih terbiasa memisahkan sampah sesuai jenisnya karena ada fasilitas yang dapat langsung mengolah sampah organik tersebut.
“Melalui kolaborasi dan penyediaan fasilitas seperti biodigester ini, tingkat pemilahan sampah rumah tangga warga di lokasi percontohan berhasil meningkat drastis dari yang sebelumnya hanya 5 persen kini mencapai hampir 90 persen,” tutur Edy.
Program ini menjadi perhatian Panitia Khusus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (Pansus CSR/TJSL) DPRD DKI Jakarta yang melakukan kunjungan kerja ke Rusunawa Rorotan, Senin (5/10/2026). Ketua Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi menilai pengolahan sampah organik langsung di kawasan permukiman dapat memberikan manfaat bagi warga sekaligus mendukung penggunaan energi terbarukan.
“Sekitar 60 persen sampah kita itu organik dari dapur atau rumah tangga yang memang butuh pengolahan khusus. Kami berharap dengan adanya biodigester ini, sampah bisa terolah langsung di tempat dan dihasilkan menjadi energi terbarukan berupa biogas yang bisa digunakan kembali oleh para penghuni rusun untuk memasak,” ujar Ghozi di Rusunawa Rorotan.
Ghozi mengatakan, kunjungan tersebut juga berkaitan dengan fungsi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan program CSR/TJSL yang dilakukan badan usaha milik daerah. Pansus juga tengah mendorong pembentukan peraturan daerah yang dapat menjadi dasar lebih kuat bagi pelaksanaan program CSR di Jakarta.
“Mindset selama ini CSR adalah bentuk sukarela atau hadiah, padahal sebenarnya TJSL ini adalah bentuk kewajiban yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk BUMD. Kami berharap program ini tidak berhenti di Jakarta Utara saja, tetapi juga dilebarkan ke wilayah lain seperti Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan kawasan padat penduduk lainnya,” kata Ghozi.
Fasilitas biodigester di Rusunawa Rorotan merupakan bagian dari program Bank Jakarta bersama mitra. Selain di lokasi tersebut, fasilitas serupa juga dibangun di TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo mengatakan, fasilitas tersebut dirancang bukan sekadar untuk mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan manfaat lanjutan dari sampah organik yang sebelumnya menjadi persoalan di lingkungan permukiman.
“Bagi Bank Jakarta, program lingkungan ini bukan hanya sekadar instalasi, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan masyarakat dan memiliki manfaat langsung. Pengolahan sampah menjadi energi terbarukan saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi satu kebutuhan bagi Jakarta,” jelas Agus.
Biodigester yang digunakan memakai digester biogas berbahan fiberglass dan dilengkapi mesin pembubur sampah organik dengan kapasitas 250 kilogram per jam. Dari proses tersebut, selain biogas sebagai alternatif pengganti LPG untuk memasak, dihasilkan pula pupuk organik cair sekitar 400 hingga 450 liter per hari serta pupuk padat sebanyak 50 hingga 100 kilogram per hari.
Produk sampingan tersebut dapat dimanfaatkan warga untuk kegiatan urban farming. Sistem pengolahan ini juga diperkirakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 154,4 ton CO2e setiap tahun.
Edy menilai kolaborasi antara Bank Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan kementerian menjadi bagian penting dalam pengembangan pengelolaan sampah dari sumbernya. Jakarta Utara sendiri telah ditetapkan sebagai wilayah pilot project road map Pengelolaan Sampah di Indonesia. (BRG/Kul)










