Koranindopos.com – JAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan perangkat pemilahan sampah berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bernama Smart Waste Bin. Perangkat ini dirancang untuk mengidentifikasi dan memilah sampah secara otomatis berdasarkan jenis, berat, hingga menghitung pengurangan jejak karbon.
Smart Waste Bin merupakan salah satu perangkat dalam ekosistem WESTA (AI-Powered Waste Circular Ecosystem). Teknologi tersebut dikembangkan untuk mengurangi kesalahan dalam proses pemilahan sampah yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.
Pembuat Smart Waste Bin, Luluk Lusiantoro PhD, mengatakan teknologi AI diterapkan agar masyarakat tidak perlu menentukan sendiri kategori sampah yang akan dibuang.
“Sering kita jumpai masih ada kesalahan dalam pemilahan sampah meskipun sudah disediakan tempat sampah organik, anorganik, dan residu. Nah kami ingin meminimalisasi kesalahan tersebut menggunakan AI sehingga nanti yang punya sampah tinggal memasukan ke smart bin. Selanjutnya AI akan melakukan sortasi secara otomatis,” ujar Luluk yang merupakan dosen Departemen Manajemen FEB UGM.
Saat ini, Smart Waste Bin dikembangkan bersama Qubit Instrument (CV Bumi Lestari) untuk mengenali tiga kategori sampah, yakni organik, anorganik, dan residu.
Pengembangan teknologi tersebut tidak berhenti pada tiga kategori tersebut. Ke depan, kemampuan klasifikasi Smart Waste Bin akan diperluas agar dapat mengenali lebih banyak jenis sampah, termasuk sampah yang masuk kategori bahan berbahaya dan beracun (B3).
Dengan kemampuan tersebut, perangkat diharapkan dapat membantu proses pemilahan sampah sejak dari sumbernya sehingga sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat lebih mudah dipisahkan dan dikelola.
Smart Waste Bin juga terintegrasi dengan aplikasi WESTA. Melalui integrasi tersebut, informasi hasil identifikasi sampah dapat diketahui melalui perangkat maupun aplikasi mobile yang saat ini sedang dikembangkan untuk Google Play Store.
Data yang ditampilkan tidak hanya berupa kategori sampah. Sistem juga dapat memberikan informasi mengenai estimasi berat sampah serta pengurangan jejak karbon dalam satuan kilogram CO₂e.
Selain itu, teknologi ini dapat mengidentifikasi merek produk yang terdapat pada sampah.
Menurut Luluk, informasi mengenai merek memiliki fungsi penting karena data tersebut dapat dimanfaatkan untuk memberikan masukan kepada perusahaan yang produknya menghasilkan sampah di lingkungan.
“Kenapa merek itu penting? Karena data itu nanti bisa kita sampaikan kembali kepada perusahaan-perusahaan yang menghasilkan sampah di lingkungan. Harapannya, ini dapat mendukung prinsip Extended Producer Responsibility, yaitu produsen yang menghasilkan produk juga ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan,” jelasnya.
Konsep tersebut diharapkan dapat mendorong penerapan Extended Producer Responsibility (EPR), yakni pendekatan yang menempatkan tanggung jawab produsen terhadap pengelolaan sampah yang berasal dari produk mereka.
Selain membantu proses pemilahan, Smart Waste Bin juga dirancang untuk mendukung sistem insentif bagi masyarakat.
Sampah yang memiliki nilai ekonomi, seperti botol plastik, dapat diidentifikasi oleh sistem dan kemudian dikonversi menjadi poin. Poin tersebut nantinya dapat digunakan untuk memperoleh berbagai bentuk penghargaan atau reward.
Namun, fitur penukaran poin dengan hadiah saat ini masih dalam tahap pengembangan.
“Saat ini fitur penukaran poin dengan reward masih dalam tahap pengembangan,” kata Luluk.
Dengan skema tersebut, Smart Waste Bin tidak hanya mengandalkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, tetapi juga berupaya menciptakan insentif agar masyarakat terdorong untuk membuang dan memilah sampah sesuai kategorinya.
Pengembangan Smart Waste Bin terus dilakukan secara bertahap. Hingga Agustus 2026, proses instalasi elektronik perangkat telah diselesaikan.
Selanjutnya, pada 18 Agustus 2026, seluruh fungsi perangkat telah berhasil diintegrasikan dengan aplikasi serta model AI.
Pengembangan Smart Waste Bin menjadi bagian dari upaya UGM memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Dengan kemampuan memilah sampah, mencatat data, menghitung jejak karbon, hingga mengembangkan sistem insentif, perangkat tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dan berkelanjutan.(dhil/dtk)










