Koranindopos.com – Tasikmalaya. Indonesia saat ini tengah dihadapkan pada potensi bonus demografi yang besar, namun para pegiat literasi mengingatkan bahwa peluang ini tidak akan maksimal tanpa peningkatan kualitas literasi masyarakat. Kepala Perpustakaan Universitas Siliwangi, Budi Riswandi, menggarisbawahi bahwa bonus demografi tak cukup dilihat dari aspek kuantitatif semata.
“Jika hanya kuantitatif, ini bisa jadi bencana. Tapi jika ingin menghasilkan SDM berkualitas, literasi harus menjadi prioritas,” ujarnya dalam acara Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca di Tasikmalaya, Jumat (1/11/2024).
Menurut Budi, masih banyak masyarakat yang mampu membaca, namun gagal memahami kondisi atau potensi yang ada di sekitar mereka. Fenomena ini, kata Budi, terlihat dari maraknya korban judi online dan pinjaman online.
“Mereka sebenarnya bisa membaca, tapi tidak bisa memahami situasi mereka sendiri. Literasi harus menjadi budaya dasar, bukan sekadar kemampuan teknis membaca,” ungkapnya.

Pegiat literasi, Nero Taopik Abdillah, menambahkan bahwa akses terhadap bahan bacaan berkualitas di Indonesia masih terbatas. Ia menilai tidak banyak lembaga yang benar-benar berfokus pada peningkatan budaya baca. “Literasi untuk kesejahteraan itu tantangan besar, karena literasi seharusnya menjadi bagian dari praktik sosial yang lebih luas,” jelas Nero, yang akrab disapa Opik.
Sementara itu, Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar, memaparkan bahwa literasi sangat terkait dengan kesejahteraan multidimensional. Menurutnya, literasi yang kuat akan memberikan dasar ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk peningkatan kualitas hidup dan daya saing.
“Kemampuan hidup yang baik harus dilandasi literasi yang kuat. Kemiskinan dan stunting tak bisa hanya dilihat dari indikator ekonomi, tapi juga dari ketersediaan akses pengetahuan,” kata Adin.
Adin menegaskan pentingnya peran perpustakaan dan Taman Baca Masyarakat (TBM) dalam mendiseminasi pengetahuan di seluruh pelosok. “Perpustakaan dan TBM harus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan pengetahuan dan membuka akses baca untuk semua masyarakat,” tambahnya.
Pembangunan ruang baca dan pelatihan untuk fasilitator daerah menjadi langkah penting yang harus dilakukan pemerintah.
Di sisi lain, Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam membangun sistem perpustakaan nasional sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Menurutnya, perpustakaan sebagai sumber belajar perlu didukung keberlangsungannya melalui jaminan koleksi yang beragam dan layanan yang merata.
“Tanpa perpustakaan, kita kehilangan jati diri, sejarah, dan masa depan bangsa,” tandas Ferdiansyah.
Dari sini terlihat bahwa bonus demografi bukan sekadar jumlah, tapi kualitas SDM yang berakar dari budaya literasi yang kuat.









