Koranindopos.com – JAKARTA – Di Indonesia, ikan sapu-sapu kerap dianggap tidak layak konsumsi karena berpotensi mengandung logam berat berbahaya seperti merkuri dan timbal. Meski demikian, praktik tidak bertanggung jawab masih ditemukan, di mana oknum pedagang menggunakan ikan ini sebagai bahan makanan olahan, termasuk siomay.
Risiko kesehatan dari konsumsi ikan sapu-sapu tidak bisa dianggap sepele. Paparan logam berat dalam jangka panjang dapat berdampak pada sistem saraf, ginjal, hingga fungsi organ lainnya.
Nutrisionis Rita Ramayulis menegaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan jika terlanjur mengonsumsi makanan berbahan ikan sapu-sapu adalah segera menghentikan konsumsi dari sumber yang sama.
Menurutnya, tubuh manusia memang memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan zat berbahaya, namun tetap perlu didukung dengan pola hidup sehat agar proses tersebut berjalan optimal.
Meski istilah “detoks” sering disalahartikan, pada dasarnya tubuh dapat membersihkan diri secara alami melalui organ seperti hati dan ginjal. Beberapa langkah yang bisa membantu proses ini antara lain:
- Perbanyak konsumsi air putih untuk membantu kerja ginjal dalam membuang zat sisa
- Konsumsi makanan tinggi serat, seperti buah dan sayur, guna mendukung sistem pencernaan
- Pilih makanan kaya antioksidan, seperti buah beri, jeruk, dan sayuran hijau
- Hindari makanan olahan dan tinggi lemak jenuh yang dapat membebani kerja hati
Paparan logam berat seperti merkuri dan timbal dalam jumlah tinggi dapat menimbulkan gejala seperti mual, sakit kepala, gangguan saraf, hingga kelelahan berkepanjangan. Jika mengalami gejala yang mencurigakan setelah mengonsumsi makanan tertentu, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih makanan, terutama yang dijual dengan harga sangat murah tanpa kejelasan bahan baku.
Selain itu, pengawasan dari pihak berwenang juga diperlukan untuk menindak tegas praktik curang yang dapat membahayakan kesehatan publik.
Menghindari lebih baik daripada mengobati. Dengan meningkatkan kesadaran dan kehati-hatian, risiko paparan zat berbahaya dari makanan dapat diminimalkan.(dhil)










