Koranindopos.com – JAKARTA – El, salah satu korban dugaan lowongan kerja (loker) bodong di Kelapa Gading, Jakarta Utara, menceritakan pengalamannya saat mengikuti proses wawancara yang kemudian membuatnya curiga telah menjadi sasaran penipuan.
El mengaku awalnya tidak menaruh kecurigaan ketika menerima pemberitahuan untuk mengikuti interview kerja. Ia kemudian mendatangi lokasi yang ditentukan pada Rabu (9/9/2026) untuk menjalani proses seleksi.
“Besoknya gua hadir, ketika gua sampai di sana, gua dipersilahkan masuk sama sekuritinya, lalu diarahkan ke resepsionis yang ada di bawah. Di situ gue disuruh nulis data kehadiran gitu, dan gue ke yang 25,” ujar El, dikutip dari unggahan akun Threads @elita_kla, Jumat (11/9/2026).
Kompas.com telah menghubungi El untuk meminta izin mengutip pengalamannya yang diunggah melalui Threads.
Setelah mengisi data kehadiran, El mengaku diminta memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mengaktifkan mode senyap.
Berkas yang dibawanya juga diminta untuk diserahkan kepada pihak HRD.
El kemudian diminta menunggu di lantai bawah sebelum diarahkan menuju ruang interview yang berada di lantai dua.
Pada tahap awal, ia mengaku belum merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Namun, kecurigaan mulai muncul ketika proses wawancara berlangsung.
Menurut El, pria yang melakukan wawancara justru mengawali percakapan dengan pembahasan mengenai asal daerah. Percakapan kemudian berkembang menjadi obrolan santai dan diselingi candaan.
Kondisi tersebut membuat El mulai merasa proses wawancara yang dijalaninya berbeda dari interview kerja pada umumnya.
“Menurut gue, obrolan setelah-setelahnya enggak formal sebagaimana wawancara interview kerja. Dia malah nge-jokes, di situ gue udah agak aneh. Terus lanjut ngobrol ke hal serius, gue mikir ‘Oh udah serius nih.’ Nah, di situ dia langsung ngomongin gaji,” tutur El.
Kecurigaan El semakin kuat ketika pria tersebut menyatakan dirinya langsung diterima bekerja.
Ia bahkan disebut dapat mulai bekerja pada hari yang sama dan akan langsung mendapatkan tempat mes atau tempat tinggal yang disediakan.
“Gue katanya langsung diterima kerja, kerja hari itu juga dan langsung ada mesnya, bla bla bla. Nambah negatif pikiran gue. Mana gue aja enggak ditanya pengalaman kerja gue gimana, enggak ditanyain kepribadian gue gimana, gue orangnya gimana, atau apa kek. Ya setidaknya ada perkenalan diri kek. Ini mah enggak,” lanjutnya.
Setelah menyatakan El diterima bekerja, pria tersebut kemudian menjelaskan mekanisme penerimaan gaji melalui salah satu bank.
Pada tahap tersebut, El mengaku diminta membuka rekening baru untuk keperluan “prakerja”.
Namun, menurut El, ia diberitahu harus memiliki saldo awal sebesar Rp2 juta untuk membuka rekening tersebut.
Pria itu kemudian menanyakan apakah El memiliki uang sebesar jumlah tersebut.
“Terus dia nanya, ‘ada (uangnya) enggak?’ gitu. Gue bilang enggak ada, dia nyuruh buat minta mama gue, gue bilang aja gue lagi ada masalah sama mama gue jadi enggak berani,” ungkap El.
El mengatakan, pria tersebut kemudian memberikan alternatif dengan menyarankan dirinya meminjam uang kepada orang lain. Ia juga tetap didorong untuk meminta uang kepada ibunya.
Pada saat itulah El mulai berusaha mencari informasi mengenai mekanisme pembukaan rekening yang disebut dalam proses penerimaan kerja tersebut.
Ia mengaku mencari informasi melalui Google untuk memastikan apakah pembukaan rekening dengan kewajiban saldo awal Rp2 juta memang merupakan prosedur yang berlaku.
“Di situ gue iyain aja, terus gue sambil buka Google, enggak ada, mana ada pembukaan rekening Rp2 juta,” imbuhnya.
Temuan tersebut semakin memperkuat kecurigaan El terhadap proses rekrutmen yang sedang dijalaninya.
Ia kemudian mempertanyakan permintaan uang tersebut karena sebelumnya tidak mendapatkan informasi bahwa calon pekerja harus menyediakan uang Rp2 juta sebagai syarat pembukaan rekening.
Pengalaman El menjadi salah satu gambaran mengenai modus yang diduga digunakan dalam kasus loker bodong di Kelapa Gading. Proses yang awalnya terlihat seperti rekrutmen kerja disebut berlanjut dengan permintaan calon pekerja menyediakan sejumlah uang.
Masyarakat yang menerima tawaran pekerjaan perlu berhati-hati apabila diminta membayar sejumlah uang sebagai syarat mendapatkan pekerjaan, membuka rekening, atau menerima gaji. Calon pekerja juga disarankan memeriksa identitas perusahaan, alamat kantor, informasi rekrutmen, serta memastikan prosedur administrasi melalui kanal resmi perusahaan sebelum menyerahkan uang maupun data pribadi.
Pengalaman El tersebut merupakan kesaksian pribadi yang disampaikannya melalui media sosial. Dugaan penipuan dan pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam kasus loker bodong tersebut tetap perlu dibuktikan melalui penyelidikan aparat penegak hukum.(Dhil/kmps)










