Koranindopos.com – JAKARTA — Kesulitan mendapatkan solar membuat nelayan tradisional di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, harus mengurangi bahkan menghentikan aktivitas melaut. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu nelayan, Samsuri (53), mengaku sudah dua hari tidak melaut karena kesulitan mendapatkan solar.
“Karena enggak dapat solar. Kemarin juga enggak dapat solar. Beli ke sini (warung) enggak nemu. Mau beli ke pom, enggak bisa,” ucap Samsuri kepada Kompas.com, Rabu (9/9/2026).
Bagi nelayan tradisional seperti Samsuri, solar merupakan kebutuhan utama untuk mengoperasikan kapal. Ketika bahan bakar tidak tersedia, aktivitas mencari ikan otomatis terhenti dan pemasukan pun ikut hilang.
Samsuri mengatakan, tidak melaut selama beberapa hari membuat dirinya kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kebutuhan sehari-hari seperti beras dan kebutuhan dapur lainnya tetap harus dipenuhi meski tidak ada pemasukan dari hasil melaut.
“Ya enggak dapat, zonk udah. (Istri) ngejerit, enggak dapat uang buat belanja. Ya kadang-kadang mah dipukulin sama istri kalau enggak berangkat,” ujarnya.
Kondisi tersebut menggambarkan besarnya ketergantungan nelayan kecil terhadap aktivitas melaut. Ketika kapal tidak berangkat, tidak ada penghasilan yang bisa dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Samsuri berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kondisi nelayan tradisional, khususnya dalam memastikan akses terhadap solar.
Samsuri berharap pemerintah dapat memberikan kemudahan bagi nelayan kecil untuk mendapatkan bahan bakar dengan harga yang terjangkau.
Menurut dia, nelayan tradisional memiliki kemampuan ekonomi yang berbeda dengan pelaku usaha perikanan berskala besar sehingga akses terhadap bahan bakar menjadi persoalan penting.
“Harapannya sama Bapak Presiden tuh, solar minta diturunin gitu. Tolong perhatiin nelayan kecil lah. Buat nelayan kecil sebetulnya kayak kita-kita gini nih jangan dipersulit,” tambahnya.
Bagi nelayan, harga dan ketersediaan solar bukan sekadar persoalan biaya operasional. Keduanya menentukan apakah mereka dapat berangkat melaut dan memperoleh pendapatan pada hari tersebut.
Keluhan serupa disampaikan nelayan lainnya, Kadira (45). Menurut dia, kenaikan harga atau kesulitan mendapatkan solar sangat memengaruhi penghasilan yang diperoleh dari melaut.
Penghasilan nelayan nantinya harus dibagi untuk berbagai kebutuhan keluarga, mulai dari kebutuhan anak hingga kebutuhan rumah tangga.
“Kalau istilahnya (harga solar) melonjak terus, kan kita ini kan kebutuhan enggak satu jalur, kan banyak, uang bagi-bagi buat anak istri ini. Kalau anak istri kan ya enggak mau tahu. Namanya dapur kan juga harus ngebul,” ucap Kadira kepada Kompas.com, Rabu.
Karena itu, kenaikan biaya operasional dapat semakin menekan pendapatan bersih yang dibawa pulang nelayan.
Di tengah keterbatasan tersebut, Kadira mengaku tetap berusaha melaut meski solar yang diperolehnya hanya cukup untuk kebutuhan terbatas.
Menurut dia, berangkat melaut tetap menjadi pilihan karena jika kapal tidak berangkat, dirinya sama sekali tidak mendapatkan pemasukan.
“Kalau enggak berangkat itu enggak dapat apa-apa. Tapi kalau kita berangkat, walaupun hasil gede atau sedikit, mending (berangkat aja) kalau bisa mah,” tambahnya.
Kondisi tersebut membuat nelayan tradisional berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka membutuhkan solar untuk melaut. Di sisi lain, ketika solar sulit diperoleh atau harganya meningkat, biaya operasional menjadi semakin berat.
Bagi nelayan seperti Samsuri dan Kadira, kemudahan mendapatkan solar menjadi salah satu kunci agar mereka tetap dapat melaut dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Mereka berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut sehingga nelayan kecil tidak semakin terbebani oleh masalah ketersediaan maupun harga bahan bakar.(dhil/kmps)










