Oleh Agung Baskoro
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis (TPS)
RAPIMNAS Gerindra yang rencananya digelar akhir bulan ini (30/7/2022) akan membawa misi besar. Menanyakan kesediaan Prabowo Subianto (Prabowo) untuk maju lagi sebagai calon presiden (Capres). Walaupun bisa dipastikan mayoritas kader partai berlambang burung Garuda ini menghendaki Prabowo untuk maju lagi demi memastikan soliditas internal terjaga, dan di saat yang sama, secara eksternal efek ekor jas (coattail effect) yang melekat dalam sosok sang ketua umum dapat memberikan insentif elektoral kepada partai.
Apalagi ini didukung dengan manuver Gerindra yang mulai intensif menjajaki peluang kerja sama bersama PKB sejak beberapa waktu yang lalu (18/6/2022) dalam koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR). Tentu arahan gerak ini sejalan dengan kebutuhan Gerindra yang selama ini identik sebagai partai nasionalis untuk bersanding dengan partai Islam, agar ceruk pemilih yang digaet semakin maksimal. Pada bagian lain KIR menjadi lebih rasional, selain ramping (baca : tanpa harus banyak berkompromi) secara institusional karena sudah memenuhi ambang batas Pilpres (presidential threshold) dan juga secara personal mampu memenuhi kebutuhan ketua umum masing-masing yang ingin maju dalam Pilpres 2024.
Namun pertanyaan mendasar mengemuka. Apakah duet Prabowo – Cak Imin bisa optimal merengkuh kemenangan pada Pilpres nanti ketika sampai sekarang masih terjadi dinamika internal di tubuh PKB saat berelasi dengan NU yang menjadi basis organisasi massa utama yang selama ini solid mendukungnya?
Di titik inilah momentum rapimnas besok bisa menjadi arahan bagi Gerindra untuk menghasilkan rekomendasi cawapres ideal bagi Prabowo. Bila Nasdem membawa tiga nama Capres rekomendasi dalam sosok Anies, Andika, dan Ganjar, maka Gerindra bisa membawa minimal tiga nama Cawapres sebagai rekomendasi. Setidaknya ini bisa membuat panggung atraktif bagi partai untuk menarik perhatian publik sekaligus memberi ruang waktu bagi partai untuk menimbang-nimbang pendamping terbaik bagi Prabowo.
Mencari Cawapres tentu bukan pekerjaan mudah tapi juga tak sulit bila basis fundamentalnya kokoh karena kebutuhan Prabowo dalam konteks ini jelas, yakni sosok pendamping yang berasal dari NU. Karena dalam beberapa Pilpres, organisasi massa terbesar umat ini mampu mengirimkan berturut-turut pemimpinnya, mulai Presiden Abdurrahman Wahid (1999 – 2001), Wakil Presiden Hamzah Haz (2001 – 2004), dan Wakil Presiden Maruf Amin (2019 – 2024) di tengah instabilitas atau polarisasi politik yang tajam dalam beberapa periode di masa lalu hingga sekarang.
Selain itu, figur ini juga mesti didukung dengan rekam-jejak yang mumpuni untuk melengkapi figur Prabowo sebagai solidarity makers layaknya Bung Karno. Karena bila tidak, maka kans Prabowo untuk kembali kalah ketiga kalinya (hattrick) semakin membesar bila sejak awal kembali salah memilih Cawapres sebagaimana Pilpres 2014 dan pilpres 2019 karena gagap membaca tren perilaku elit dan pemilih yang senantiasa berubah.
Di titik inilah Gerindra perlu mengupayakan beberapa jalan politik agar pencarian sosok Cawapres ideal bagi Prabowo menjadi lebih mudah. Pertama, membuka komunikasi politik dengan partai-partai berbasis massa Islam selain PKB secara intensif, seperti PKS atau PAN bila belum solid bersama KIB. Karena semakin banyak partai Islam yang digaet untuk mendukung akan memperbesar kemenangan di Pilpres karena mampu merepresentasikan umat dalam beragam mahzab. Kedua, menggelar konvensi cawapres terbatas saat rapimnas nanti, untuk menghasilkan cawapres-cawapres rekomendasi dari NU dengan melibatkan struktur internal sebagaimana Nasdem melakukannya saat mencari capres untuk memastikan demokratisasi partai tetap berlangsung walaupun otoritas akhirnya tetap berada di ketua umum saat memilih satu nama cawapres idealnya.
Ketiga, momentum rapimnas harus menjadi sarana bagi Gerindra dan Prabowo untuk menelurkan visi, misi, program, dan inovasi kebijakan (baca : Platform Pilpres) yang bisa menjawab tantangan zaman pasca pandemi, ketika resesi terjadi, maupun saat pemanasan global mulai mengemuka, dan kompleksitas lain yang esok dan sehari-hari akan kita hadapi. Hal ini demi menjamin bahwa Pilpres besok Gerinda dan Prabowo maju kembali dengan solusi-solusi mutakhir bukan sebatas meramaikan pesta demokrasi. (***)










