Realita hidup tak semudah teori di depan kelas. Sarjana lulusan kampus top seperti Universitas Indonesia (UI) dengan IPK bagus, aktif di organisasi, tidak menjamin apa-apa ketika ’nyemplung’ ke bursa kerja. Fakta itu terungkap dari paparan para Calon Ketua Umum Ikatan Alumi Universitas Indonesia (Pemila Caketum Iluni UI) periode 2025–2028.
LAPORAN: WAYTRI–Koranindopos.com
CAKETUM nomor urut tiga, Ivan Ahda, mengakui begitulah kenyataan yang dialami sebagian alumnus kampus yang dikenal dengan slogan We are the Yellow Jacket tersebut. ”Bayangin, ada alumni IPK-nya 3,6 dan berprestasi, aktif di organisasi, tapi mentok di realita. Cari kerja bingung. Mau interview kerja nggak tahu caranya. Mau nikah nggak tahu duitnya dari mana,” ujar Ivan, berkelakar saat sesi Adu Gagasan 1 Pemila Caketum Iluni UI 2025–2028 di IMERI Fakultas Kedokteran UI, Salemba, Senen, Jakarta Pusat pada pekan lalu.
Bak stand up comedy. Kelakar Ivan langsung mengocok perut audiens. Lagi-lagi, Ivan menegaskan itu fakta. Ivan bercerita bahwa menjadi seorang alumnus UI tidak serta merta membuat hidup menjadi lebih mudah.
Caketum yang maju berdampingan dengan calon sekretaris jenderal, Andy Tirta (Boy), itu mengungkapkan bahwa ini bukan tentang siapa yang paling bersinar di kampus. Bukan juga tentang mereka yang punya akses ke posisi strategis di dunia kerja. ”Tetapi tentang alumni yang sedang berjuang menata hidupnya,” ujarnya, tegas.
Oleh karena itu, Ivan dan Boy beserta relawan mereka membentuk wadah yang dinamai The Commoners. Itu merupakan tempat para alumnus saling membantu agar menjadi versi terbaiknya mereka selama hidup. ”Beberapa dari kita mungkin beruntung dengan privilege-nya. Namun saya ingin mengajak teman-teman untuk saling mendukung agar semua juga bisa. Inilah mengapa saya mencalonkan diri sebagai Ketua ILUNI UI, yaitu untuk dukung semua bisa,” ujarnya, disambut riuh tepuk tangan audiens.
Ivan meyakini setiap alumnus laik mendapatkan dukungan agar bisa melangkah lebih jauh. Mulai dari yang baru lulus, sudah bekerja beberapa tahun, dan yang berada di puncak karier tetap perlu koneksi untuk memperbesar dampaknya.
Karena itulah Ivan dan Boy menyusun tiga program flagship ‘Dukung Semua Bisa’ yaitu Berkarya, Bersuara, dan Berbahagia. Terkait dengan misi mendukung para alumnus UI yang sedang berjuang menata hidup, pasangan dari Fakultas Psikologi dan Fakultas Teknik angkatan 2003 itu membagi tiga bagian dari program Berkarya.
Untuk alumni UI yang baru lulus kuliah, Ivan dan Boy membuat program Kickstart Academy. Sedangkan bagi alumni UI yang kariernya sudah berjalan antara lima sampai 10 tahun, tersedia program Nexus UI Fellowship untuk mengakselerasi karier. ”Yang ketiga kita bicara tentang program Leadership Breakfast Forum, supaya teman-teman yang berada di level puncak bisa berjejaring lebih maju lagi,” ujarnya.
Menurutnya agar program-program yang disusun semakin cepat berdampak jika ia terpilih sebagai Ketua ILUNI UI. Oleh karena itu, maka dibutuhkan kolaborasi antaralumnus di setiap fakultas, jurusan, angkatan, dan bahkan daerah. Kolaborasi tersebut dia bingkai dalam co-creation framework yang mengedepankan ruang bersama agar bisa saling melengkapi dan memberikan dampak yang cepat, bukan sekadar komando satu arah.
Untuk diketahui, Pemila Caketum Iluni UI periode 2025–2028 diselenggarakan secara elektronik (e-vote) pada 23–24 Agustus 2025. Kontestasi demokrasi kampus itu diikuti oleh tujuh caketum dari enam fakultas berbeda. Mereka adalah Boni Hargens (nomor urut 1, FISIP UI 2001), M. Pradana Indraputra (nomor urut 2, FEB UI 2010), Ivan Ahda (nomor urut 3, Psikologi UI 2003), Ratu (Ai) Febriana (nomor urut 4, FIB UI 1996), Rapin Mudiardjo (nomor urut 5, FHUI 1996), dr. Dewi Puspitorini (nomor urut 6, FKUI 1987), dan Pramudya A Oktavinanda, S.H., LL.M., Ph.D (nomor urut 7, FHUI 2001). (*/mmr)










